Al Qur’an dan Logika Mistika  Indonesia

Al Qur’an

Jauh setelah diturunkan ke bumi ribuan tahun lalu, Al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam belum benar-benar menjadi milik umat. Al Qur’an, sebagai atribusi suci, ternyata hanyalah menjadi konsumsi mereka yang juga suci. Kalau sudah begini, maka stratifikasi umat dari yang sesat hingga yang taat menjadi penentu kemudahan “akses” pada Al Furqon tersebut. Sehingga tentu saja mereka yang belum sempurna wudhunya, kotor bajunya, atau sangar wajahnya sulit memperoleh legitimasi sosial untuk membaca dan mendiskusikan Al Quran. Lebih lanjut, Al Qur’an menjadi begitu sakral bahkan untuk sekedar disentuh.

Kesemua itu merupakan cara yang diajarkan untuk menghormati Al Qur’an. Bahwa Al Qur’an menjadi tak membumi karena dianggapnya sebagai kitab langit adalah suatu kenyataan. Al Qu’ran menjadi tabu untuk dibicarakan di warung kopi. Menjadi aneh ketika dibincangkan oleh petani di sawah disela ayunan cangkulnya. Pokoknya hanya masjid yang punya otoritas untuk menjadi tuan rumah pembahasan Al Qur’an.

Menghormati, saya pikir, adalah sesuatu yang belum selesai kita definisikan. Pun dalam konteks Al Qur’an, menghormati adalah hal yang tidak bisa kita batasi pada sesutau yang fisik-fisik saja. Menghormati itu melintasi pengakuan fisik, melainkan mestinya lebih substantif.

Begini, kita jelaskan dengan contoh kasus saja. Misalkan sampean ngasih saya baju. Lalu dengan segenap rasa takdzim, saya menciumi tangan sampean. Merintih mengucap syukur, sambil sesekali menatap sendu baju yang sampean beri. Tapi selepas itu, baju yang sampean beri tak pernah sekalipun saya kenakan. Malahan saya pakai buat lap misanya. Itukah caranya menghormati sebuah pemberian?

Nah pada contoh di atas, kayak-kayaknya kok kita memperlakukan hal yang sama terhadap Al Qur’an.

Bentar-bentar, jangan mengedepankan nafsu dulu. Jangan emosi dulu. Saya nda ngomong kalau kita menggunakan Al Qur’an sebagai lap. Mari kita urai ini dengan kepala dingin. Musyawarah! Al Qur’an diturunkan oleh Rabb kita sebagai Huda li nas, sebagai petunjuk bagi manusia, betul apa tidak? Kalau begitu, jika menghormati pemberian adalah dengan cara memakainya, maka Al Quran juga mesti kita pakai sesuai fungsinya. Ya petunjuk itu tadi.

Pertanyaanya kemudian, bagaimana cara memakai petunjuk?
Pertama tentu harus tau dulu objek yang ditunjukkan. Lah gimana kita mau melaksanakan petunjuk, sementara petunjuk untuk apa saja kita tidak tahu. Berikutnya adalah tahu bahasa dari petunjuk itu. Coba apa sampean tidak merasa ngeri jika diberi atau memberi petunjuk tanpa tahu bahasa dari petunjuk itu. Misalkan sampean memberi petunjuk kepada semut merah supaya berbaris di dinding, lebih lanjut, supaya semut itu juga menatapamu curiga seakan penuh tanya….#hentikan# kesemua perintah itu diberikan dalam bahasa manusia yang notabene tidak dipahami oleh semut. Apa ya mungkin sisemut akan mendengar dan patuh pada perintah sampean?

Saya kok khawatir Al Quran yang hadir sebagai bahan pijakan manusia dalam menjalani hidup diposisikan seperti koran yang hanya menjadi bahan bacaan. Apa pasal? Al Quran banyak dibaca tanpa pernah mau tahu apa artinya. Tentu membaca Al Quran adalah ibadah dan itu akan diganjar pahala  yang harga satu hurufnya saja senilai 10 kebaikan. Tetapi tetap saja bahwa Al Quran itu petunjuk yang harus diketahui tafsirnya bukan semata bahan bacaan bukan?

Logika Mistika

Indonesia lampau adalah sebuah bangsa yang memang lekat dengan dewa-dewa. Dengan penuh kuasa, para dewa inilah yang akan mengatur segala urusan manusia Indonesia. Maka misalnya, untuk bertanam padi saja, petani dulu mesti menyerahkan sesaji untuk Dewi Sri, sang dewi kemakmuran. Selepas sesaji dihaturkan tentulah merasa aman petani tersebut dari ancaman gagalnya panen. Atau Sang Dewa Indra dengan senjata petirnya yang senantiasa membela kepentingan umat manusia. Untuk jubalan urusan lain, kita masih punya trimurti yakni Wisnu, Brahma, dan Siwa yang tentu saja kita tinggal memberi sesaji dan habislah semua perkara.

Tan Malaka pernah mengulas cara pikir orang Indonesia ini dalam buku fenomenalnya, MADILOG. Ia juga yang mempopulerkan istilah logika mistika. Sebuah cara berpikir yang mencedrai nalar sehat.

Keyakinan akan kebaikan dewa-dewi yang akan turun gelanggang saat diberi sesembahan itulah yang kemudian menjadi tradisi yang amat sulit hilang. Manusia Indonesia adalah manusia yang gampang meyakini kekuatan supranatural. Dan tentu saja, lewat kekuatan supranatural itulah hidupnya dipasrahkan. Fenomena perdukunan misalnya, banyak orang yang merasa dirinya akan hidup enak hanya dengan memilihara beberapa butir tuyul.

Maka kritik ketahayulan inilah yang juga mestinya kita pakai untuk membudayakan mengkaji Al Quran. Sebagai kitab suci tentulah kita harus menghormati. Dengan bersuci sebelum membacanya misalnya. Tetapi sebagai petunjuk, membacanya saja tanpa tahu maknanya juga tidak cukup. Jangan sampai kita berlaku tahayul pada Al Qur’an, bahwa dengan cukup membacanya saja, tanpa tahu artinya, semua masalah akan selesai.

Membaca al Qur’an memang akan membuat manusia menjadi tenang, itu juga Allah yang janjikan. Bahwa Al Qur’an adalah Syifa’ atau penawar. Tetapi janganlah karena ketenangan itu kemudian kita berpuas diri dengan mencukupkan membaca teksnya saja. Bukannya apa-apa lucu saja jika seorang berpetualang yang bekalnya hanya kompas tapi tak tahu untuk apa kompas ditangannya itu.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.