Antara Tan Malaka dan Kennedy, Siapa yang Paling Visioner?

emptynes759548320328554069.jpg

Indonesia juga punya, tapi tak pergi ke Antariksa. Beliau adalah Tan Malaka. Peletak dasar Republik, dikenal sebagai “The Founding Father of Republic“. Tan dan Kennedy mungkin sekarang lagi kopdar di alam yang berbeda dengan kita. Sambil ngopi dan debat konstruktif ngobrolin mimpinya masing-masing, dan ngadain give away buku Naar de Republik versi revisiannya. Mereka mungkin lagi nertawain kita yang bahkan membaca tulisan ini dan menganggap yang nulis “kurang kerjaan”.

Coba deh, Tan. Kalo zamanmu ada WAG. Madilog-madilogmu bikin pusing orang yang gak mau mendengar hati nuraninya. Kamu bakalan sibuk seharian meng-counter isu-isu yang nggak benar, dan mungkin mbisikin kominfo supaya blokir informasi tertentu yang menyesatkan.

Dari dulu sampai zaman kiwari, informasi jadi barang dagangan. Dasar manusia, KEPO aja bisa jadi duit. Mereka sebut itu jadi pengetahuan. Magelhaends membayar ahli gambar peta (Kartografer) untuk menemaninya berlayar. Peta jadi rebutan pada saat itu, bahkan nyawa–pun jadi taruhannya. Mungkin ini cikal bakal terjadinya aksi #BelaPeta yang berjilid-jilid. Semua karena rasa ingin memiliki, menguasai, dan dibungkus ketamakan. Lain halnya dengan rasa yang dulu pernah ada~.

Tentang Informasi, perusahaan-perusahaan besar penyedia platform paham hal ini, mereka menciptakan informasi sebagai kebutuhan. Manusia penggemar ‘berselancar di dunia maya’ karena tidak ada batasan. Kecuali paketan quota habis atau abdonemen internet bulanan bikin kembang-kempis. Sebut saja Google, Apple, Amazon, dan Facebook. Setiap gundul manusia adalah data, informasi yang bisa digunakan untuk tujuan tertentu. Para pelaku scamming biasanya memanfaatkan hal ini. Makanya, waspada lur.

Konten-konten bak anai-anai yang bertebaran, dan seperti gelembung yang dihambur-hamburkan. Hanya sedikit yang memuat informasi yang akurat. Dunia perkontenan jadi ladang bisnis, sampai lupa kalau membacanya sambil meringis. Berakhir gigit jari. Ternyata hanya selilit yang tak mau ditelan habis.

Tapi, lebih apik mana. Antara kecepatan dan kualitas? Bukan berarti yang berkualitas itu ditempatkan ke dalam posisi lambat, bukan, hanya soal waktu kok.

Oke, kalimat di atas hanya narasi tambahan. Intinya, Tan berhasil meletakan Republik di Indonesia, dan terealisasi setelah ia mati di tangan bangsanya sendiri. Sama dengan Kennedy, AS menjadi salah satu bangsa yang berhasil menorehkan sejarah baru, mendarat di bulan dan akhirnya meregang nyawa ditodong pelor saat konvoi dihadapan rakyatnya sendiri.Tan Malaka lebih tragis si, mati dalam keadaan jomblo. Udah gitu, banyak yang masih salah paham tentang madilog yang dianggap pro PKI. Owalaaaaaah. . . pekok! Kennedy mendingan lah ya. Sepeninggalannya, USA jadi trigger bangsa yang memiliki banyak perusahaan raksasa dunia. Udah segitu aja dulu.

Comments

comments