Mahasiswa Idealnya Apolitik

apolitik

Saya kira dikampus manapun, hanya ada segelintir mahasiswa yang mau memikirkan politik. Baik politik di internal kampusnya sendiri, maupun politik suatu negara. Seperti di kampusku. Mereka yang peduli pada dunia di luar disiplin ilmunya, berjumlah sangat minim. Kira-kira tidak ada seperempat dari keseluruhan mahasiswa.

Hal itu terbukti dengan sepinya organisasi mahasiswa atau kelompok-kelompok kajian yang kritis terhadap sekelilingnya. Saya sendiri tidak heran memandang fenomena tersebut, atau sampai galau berkepanjangan sepertihalnya saat ditinggal pacar menikah. Apalagi sampai melaporkan mahasiswa yang apatis tadi dengan alasan penistaan terhadap status agung mahasiswa. Jelas takan kulakukan.

Lagipula nasip laporan orang biasa, tidak akan pernah ditanggapi secepat misuhnya kaum sumbu pendek itu. Maka daripada lapor polisi, mending lapor calon mertua kalau aku akan menikahi anaknya, selepas wisuda “nanti”.

Begini, maksud dari “mahasiswa memang idealnya apolitik” itu tak berarti mahasiswa harus sepenuhnya buta politik. Ajaran mahasiswa yang memang idealnya harus apolitik ini, merujuk pada apa yang dilakukan junjungan kita, W.S Rendra. Para mahasiswa  atau pensiunan mahasiswa tentunya tau kan siapa dia? Kalau tidak tau buruan buka di google sebelum wafat eh terlambat.

Sebelum mas Willy Brordus Surendra Brata ini menjadi aktivis, ia adalah orang yang sangat apolitik. Keantian terhadap politik yang dialaminya, terjadi hingga beberapa semester di bangku perkuliahan Universitas Gajah Mada. Mungkin yang ia sukai saat itu, seperti kalian saat ini: pacaran, mbribik temen kelas, begadang tidak jelas setiap malam dan tidur saat jam kuliah, mungkin. Hal itu tercermin pada puisi-puisinya yang hanya membahas tentang “cinta” (baca: W.S Rendra Puisi-puisi Cinta, 2015).

Tapi pria yang berbagai puisi-puisinya sering mahasiswa gunakan ketika demonstrasi itu lekas bertaubat.

Suatu hari, karena prestasinya dalam dunia kepenulisan di kumpulan puisi Ballada Orang-orang Tercinta (1957), mendapat hadiah Sastra Nasional dari BMKN. Rendra juga memperoleh undangan dari salah satu organisasi kemahasiswaan untuk mengikuti kunjungan ke negara-negara Timur. Rendra muda tidak menyia-nyikan undangan tersebut.

Saat dalam perjalanan keliling itu, Rendra seolah tertampar atas keantiannya terhadap dunia di luar dirinya. Ia tidak tahu apa-apa, bahkan ketika ditanya teman seperjalannya asal Australia “siapa mentri keuangan Indonesia saat itu” dia tidak dapat menjawabnya. Juga ketika teman-temannya berdiskusi masalah Aljazair (tanah jajahan Prancis), Rendra sama sekali tidak mengetahuinya.

Akibat peristiwa itu, Rendra marah terhadap dirinya sendiri. Seketika dia memohon agar sakit pada sang pencipta, permohonan itu dengan cepat terwujud. Ia sakit semenjak di kereta api trans Siberia dari Optur menuju ke Moskwa, hingga ia pulang kembali ke Indonesia.

Setelah sembuh dari sakit ia baru merasa bergairah, pola pikirnya lebih terbuka dengan dunia politik. Puisinya bahkan bagai kutukan bagi siapa saja yang berlaku lalim, ia juga banyak menulis tentang kesengsaraan masyarakat sekelilingnya. Saking kirtisnya terhadap keadaan, puisi-puisi Rendra dianggap ancaman bagi penguasa Orde Baru kala itu. Puisi karya Rendra dilarang beredar atau bahkan sekedar dibacakan.

Naaah, mahasiswa memang idealnya apolitik bukan? Namun segara diikuti dengan pertaubatan nashuha.

Jangan menjadi mahasiswa apolitik yang permanen. Kalo tidak ingin hidupmu menjadi semut-semut tidak berdaya! atau menjadi domba-domba berkepala kosong!

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.