Asrama, Maling dan Counterstrike

esensiana asmara maling dan counter strike

Ini adalah tulisan iseng namun berangkat dari kisah nyata. Tulisan ini menggunakan alur suka – suka dan ide cerita semena – mena. Ada baiknya sebelum membaca istighfar terlebih dahulu. Oh ya, usai membaca jangan lupa untuk ikut berdo’a trus  Laik and syer !

*****

Asrama transmigran baru saja kemalingan. Sebuah laptop dengan data skripsi serta  bertera – tera film korea raib, menghilang tanpa bekas. Seluruh penghuni asrama, baik dalam wujud manusia atau bukan, ikut geger akibat kejadian ini. Mishabul Munir, selaku kepala suku, melakukan apel mendadak dan memberlakukan status gawat darurat. Bendera setengah tiang diberlakukan untuk menghormati data skripsi yang hilang. Semua penghuni asrama melakukan duka cita bersama sekaligus waspada.

Kepala suku juga sudah mengirimkan tim khusus untuk melakukan pengendusan. Usut punya usut, endus punya endus, maling ternyata masuk ke asrama dengan melompat pagar, melewati septic – tank, mencungkil teralis kemudian mengambil laptop. Menurut hasil analisis data tim endus – endus dibawah pimpian Triono Soegito ini,  maling sangat berpengalaman, bertehnik tinggi, menguasai medan dan tentu sangat terlatih.

Untuk menangkap pencuri sialan itu, satu kompi pasukan buru sergap bersenjata lengkap dibawah pimpinan Kisam Supriyadi diterjunkan. Mereka menyisir setiap sudut asrama, membongkar tumpukan sampah, isi tas ransel hingga menggeledah semua kantong celana, siapa tau malingnya sembunyi disana.

Pejabat intelijen senior asrama transmigran, Sempai Imron, dalam jumpa persnya dihadapan awak media menyampaikan pada publik asrama agar lebih berhati – hati menyimpan laptop. Bagi yang tidak punya diharapkan untuk segera beli laptop agar bisa ikut hati – hati. Sempai menuduh pencuri berlaku curang karena maling tidak bilang – bilang dan disaat mereka sedang lengah.

*****

Pencurian di asrama transmigran adalah pukulan sekaligus penghinaan telak bagi seluruh penghuninya. Pasalnya asrama memiliki tim keamanan yang berlapis – lapis. Pasukan keamanan juga rutin melakuakan latihan kontra – terorisme melalui game counterstrike, yaitu game tembak – tembakan yang bisa dimainkan secara single atau multiplayer : Satu regu menjadi teroris, regu lain menjadi contra – terrorist ( CT).

Game yang  dirilis pada tahun 1999 oleh Vivendi Universal dan Microsoft Windows sangat berguna untuk melatih tim keamanan. Memainkan game ini serasa menjadi teroris atau polisi anti – terror beneran, dimana ada skenario penyelamatan sandra dan penjinakan bom. Karena kerap berlatih, tim asrama sangat jago dalam urusan jinak –menjinakan.

Latihan biasanya rutin diadakan diruang tamu. Kalau sudah latihan, penghuni asrama yang bukan anggota tim keamanan diminta untuk menyingkir. Bukan apa – apa, takut kena peluru nyasar aja. 

Latihan simulasi tembak – tembakan ini bukan untuk tujuan senang – senang, tapi salah satu ikhtiar menjaga keamaanan. Apalagi setelah banyak kasus kemalingan bermain counterstrike makin gencar dilakukan. Mamfaat dari game ini adalah meningkatkatnya mentalitas personil, kewaspadaan, ketrampilan spionase dan tentu saja menembak. Setelah tekun berlatih tiap malam, kemampuan mereka sudah menyamai Densus 88 atau Gultor Kopassus !.

Tapi sayangnya, meski sudah latihan tiap malam, tapi tetap aja kecolongan.

Tapi kelengahan pasukan keamananan asrama memang bisa dimaklumi. Pasalnya dalam sejarah, maling memang jauh lebih pintar dari penjaganya. Mulai dari promotheus yang mencuri api dewa hingga Nakamura Jirokichi mencuri bertumpuk – tumpuk  uang dari para samurai adalah bukti shahih jika pencuri itu memang sangat licin dan lebih cerdik. Kalau dewa aja bisa kecolongan apalagi sekadar tim keamanan.

Pencurian memang bagian sejarah manusia. Sebagian pencuri dianggap pahlawan karena membela kelompok tertindas. Pencuri macam Phanco villa dari Mexico, Salvatore Guillano dari Itali dan Phoolan devi dari India adalah contoh pencuri yang dibenci sekaligus dihormati. Karena mereka ini mirip Si Pitung yang menjarah harta dari orang kaya kemudian membagikannya pada orang miskin. Menurut saya sebenarnya mereka ini tidak cocok disebut pencuri, tapi petugas infaq ( Iuran Faqsa ) bagi orang – orang kaya.

Tapi bagaimana dengan pencuri laptop berisi data skripsi dan puluhan episode film korea milik teman asarama saya itu? ini tentu sulit dimaafkan. Pertama adalah data skripsi, you knowlah bagaimana susahnya ngumpulin data untuk skripsi, apalagi kalau kuliah di eksakta. Penelitian gagal harus diulang, gagal lagi ulang lagi gitu aja terus sampai berhasil. Dan untuk koleksi film korea, mungkin itu bukan masalah besar karena perwira keamananan, Triono Soegito, punya betera – tera film korea.

Do’a kita semua untuk yang mendapat musibah selain ditabahkan, semoga barang yang hilang segera dikembalikan. Baik itu laptop dan motor. Saya termasuk orang yang beruntung karena selama tiga tahun kuliah di Unsoed belum pernah sama sekali kemalingan motor dan laptop. Soalnya gak punya.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.