Athirah (2016): Menyimak Perjuangan Panjang untuk Sebuah Keutuhan

“Emma’mu lahir, terus hujan mulai datang. Tanah Bukaka menjadi harum. Kita kasih dia nama yang indah. Athirah, keharuman.” – Ibu Athirah

Ada kalanya dalam sebuah film, adegan pembuka atau bahkan opening credit-nya memberikan petunjuk kira kira seperti apa keseluruhan cerita film nantinya. Baik secara gamblang, mapupun tidak. Seperti di The Dark Knight Trilogy (2005-2015)-nya Christopher Nolan, yang di tiap-tiap filmnya muncul simbol kelelawar yang dibentuk secara berbeda. Atau pembuka The Hateful Eight (2015) miliknya Quentin Tarantino yang disajikan dalam bentuk long establish shot dan iringan scoring mendebarkan karya Ennio Morricone. Secara tersirat, itulah yang akan dibahas di sepanjang durasi. Namun dalam Athirah, bagian itu terlihat lebih gamblang.

Prosesi pernikahan adat yang dibungkus dalam format footage klasik, dengan palet warna pucat. Cantik sekali. Bukan, bukan pernikahan yang akan dibahas di sini, melainkan tanggung jawab dan perjuangannya.

Film yang diadaptasi dari novel biografi Ibunda Jusuf Kalla karya Alberthiene Endah dengan judul serupa ini, menceritakan tentang perjuangan seorang wanita bugis bernama Athirah (Cut Mini) yang kehidupan keluarganya mulai goyah ketika sang suami (Arman Dewanti) menikahi perempuan lain.

Poligami, yang saat itu masih diterima di masyarakat setempat membuat Athirah harus berkorban demi menjaga keutuhan keluarganya. Di sisi lain, anak laki-laki Athirah, Ucu (Christoffer Nelwan) menghadapi dilema, memihak Ibu, sosok yang dia cintai & penuh kesabaran. Atau Ayah, sosok yang sangat ia kagumi.

Rumah Produksi Miles Films dan surtadara Riri Riza (Eliana-Eliana, Laskar Pelangi, Atambua 39 Celcius) telah menelurkan banyak mahakarya. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa rumah produksi inilah yang mempunyai potensi untuk membuat titik balik kejayaan perfilman Indonesia. Lantaran tak hanya memproduksi karya yang sukses secara komersil dan kritik saja, namun juga muatan kualitasnya terjaga, dan Athirah bukan sebuah pengecualian.

Diputar di 3 festival Internasional (Vancouver, Busan, & Tokyo International Film Festival), dan menyabet 6 Piala Citra dari 10 nominasi di ajang Festival Film Indonesia, film dengan durasi singkat ini (81 menit) memang patut diperhitungkan keberadaannya. Eksekusi yang apik, artistik, daya tarik visual jempolan baik sinematografi atau sebagai media pencerita, tidak menye-menye, dan yang terakhir singkat-padat-jelas.

Kain sarung yang muncul dalam film & berbagai material promosinya pun tak cuma berperan untuk memperindah, akan tetapi juga sebagai pengibaratan untuk beberapa elemen dalam filmnya. Sebut saja jalan cerita, pesan, dan muatan budayanya. Muatan budayanya jelas, karena kain sarung merupakan salah satu produk masyarakat setempat yang juga dijadikan mahar dalam pernikahan.

Dari bagian plot, sama seperti proses dalam menjahit kain sarung itu sendiri. Awalnya harus punya benang yang barang tentu belum terurai (First Act – Pengenalan Cerita), kemudian dimulailah proses penjahitannya yang sudah pasti ada kendala (Second Act – Komplikasi, Pengembangan cerita), kemudian sentuhan akhir (Third Act – Resolusi).

Belum lagi bicara soal pesan yang ingin disampaikan. Kain sarung sebelum jadi indah, ada prosesnya terlebih dahulu. Tidak mudah menjadikannya utuh. Sama seperti perjuangan Athirah dalam menjaga keutuhan keluarganya. Cerdas? Brilian. Goddamn you, Riri!

Yang disayangkan di filmnya adalah kurang dieksplornya elemen “Cross Cultural Culture“, antara Ucu dan gadis pujaan hatinya, Ida (Indah Permatasari). Dalam konteks ini budaya Makassar dan budaya Padang. Padahal, tentunya banyak hal menarik yang bisa dibahas di sini. Sebut saja stereotype. Kerena menghitung Ucu yang dalam sebagian besar durasi digunakan sudut pandangnya dalam menjelaskan cerita. Selebihnya, oke.

Banyak momen pintar dalam filmnya. Apalagi bagian visualnya. Pada adegan saat Athirah ingin melakukan sesuatu yang “nekat” misalnya, saat alat yang ingin digunakan jatuh karena beliau terkejut, kamera tetap menyorot bendanya, tapi tidak menempatkannya pada lingkup fokus. Menandakan hilangnya niat Athirah.

Seperti yang saya ungkap sebelumnya, filmya tidak menye-menye. Tak ada dialog gaduh atau dramatisasi yang berlebihan. Skenario tulisan Riri Riza dan long-time collabolator-nya Salman Aristo (Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, Garuda di Dadaku), lebih berfokus pada kekuatan visual. Penonton diperlihatkan sorotan close-up muka para pemeran, meneliti kemudian menyerap berbagai ekspresi. Saat itulah sisi emosional filmnya diperkuat.

Belum lagi kejelian Riza dalam menggunakan media di sekitarnya, sebut saja koran atau radio. Penonton diberikan informasi tambahan mengenai peristiwa-peristiwa pada masa itu, seperti Krisis Moneter atau Terbunuhnya John F. Kennedy dalam kunjungannya ke negara bagian Texas.

Singkat kata, Athirah adalah sebuah berlian dalam perfilman Indonesia. Saya berkata demikian karena memang sedikit yang melihat filmnya, yang mana hal itu sangat disayangkan. Karena film ini sungguh “membuka mata”, cerdas dalam presentasinya, mengharukan, & tentunya menghibur. Memberikan banyak definisi baru dalam berbagai hal. Durasinya bergulir dengan baik walaupun tanpa ada letupan konflik, amarah, ataupun penyangkalan yang berlebihan (Baca: Dramatisasi).

Babak kesimpulannya pun powerful, memperkenalkan konsep kemenangan yang dalam banyak hal bisa dilakukan dengan berbagai cara. Dan dalam suatu kondisi paling kacau sekalipun, kita tetap punya kekuatan untuk memilih. Bravo! Highly recommended.

 

Score: 4,75/5

Comments

comments