Bangsa yang Belum Selesai dengan Dirinya

Di Keseharian, di ruang seminar, di majelis taklim, di koran lokal, di TV nasional, hingga di media sosial begitu mudah kita temui selisih paham. Hal tersebut didramatisir sedemikian hebatnya sehingga seolah tak akan bisa dipertemukan kesepakatan, atau paling tidak

pemakluman. Dengan semangat (yang seringnya ingin mengalahkan-menyalahkan bukan mengajak pada kebenaran) kalimat-kalimat argumentatif, tanya-tanya destruktif, dan pledoi-pledoi diplomatis terus dilontarkan membentuk sekat-sekat yang memperuncing perbedaan. Kemerdekaan yang dulu diperjuangkan dengan aliran darah para pejuang tampaknya tak cukup untuk membuat bangsa kita menjadi cepat melesat menembus batas-batas kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Buktinya kini setelah berdekade-dekade waktu telah kita lalui sebagai sebuah bangsa yang merdeka, kita bukan hanya belum mampu menjadi bangsa yang maju tapi juga belum bisa mengenali bangsa sendiri. Ini adalah masalah serius.

Ada begitu banyak keberhasilan yang harusnya bisa diperoleh seseorang menguap begitu saja karena orang tersebut tak mampu mengoptimalkan potensinya. Banyak lainnya yang bahkan lebih parah, ia tak sempat mengatahui kesempatan yang datang padanya lantaran ia sama sekali tak tahu siapa dirinya. Ia gagal menemukan konsep kedirian yang menyeluruh sehingga langkah geraknya adalah sesuatu yang hanya didasari nafsu sesaat bukan tujuan jelas. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia juga mestinya segera mereposisi konsep kedirian yang utuh pada sanubari masyarakatnya sehingga masing-masing dari masyarakat sinergis dalam memajukan bangsa yang dengan jumlah penduduknya saja sanggup menenggelamkan negara sehebat Singapura dalam sekali pipis.

Muara dari segala rupa selisih paham di atas sebenarnya amat merugikan bagi bangsa kita ini. Bukan hanya soal produktivitas yang menurun, tapi juga berpotensi menghancurkan bangun-bangun sosial yang sudah lama dibentuk. Sehingga menemukan jawabanya adalah suatu keharusan yang penting dan mendesak.

Lucu sekali saat bangsa-bangsa lain begitu mengagumi kebudayaan kita yang adiluhung, kita sebagai pemiliknya malah sibuk mencari celanya. Sementara baru triak-triak kecolongan ketika sudah diklaim bangsa lain. Kelucuan lain misalnya, Saat bangsa-bangsa lain sudah berfikir tentang bagaimana mengekspansi “wilayahnya” sampai ke Mars atau planet-planet lain, kita orang Indonesia masih saja berdebat soal keangkeran preman suatu wilayah atas pengunjung dari wilayah lain. Saat bangsa-bangsa lain sudah mengembangkan perlengkapan dan pakaian khsusus perjalanan PP ke bulan, kita masih saja sibuk tentang halal-haramnya kerudung yang mesti dipakai. Saat bangsa lain mulai merintis usaha untuk menyelamatkan sekitar 7 milyar penduduk bumi, kita masih adu argumen soal boleh tidaknya pacaran.

Sama daerah lain dari bangsa sendiri kita sering pamer kekayaan seolah tidak ingin daerah lain lebih kaya dibanding daerah kita, tapi anteng-anteng saja kalau ada bangsa lain yang mengeruk kekayaan alam daerah kita. Lucu.

Pertanyaanya apakah sesederhana itu misi kita diciptakan ke bumi? Hanya soal pacaran, kerudung, isu seksis, simbol-simbol keyakinan, dan huru-hara kedaerahan? Bukankah untuk hal yang begitu-itu sudah jelas ada tuntunannya. Persoalan yang lain mau nurut atau tidak dengan tuntunan ya urusan lain. Kita nda boleh maksa keyakinan kita untuk diyakini juga sama orang lain. Wong Allah saja yang mahakuasa tidak pernah memaksa syetan sujud sama Adam AS kok. Padahal syetan ini ciptaanya Allah loh yang tidak punya kekuatan sama sekali untuk melawan. Kenyataanya Allah dengan sangat demokratis memberi kebebasan pada syetan untuk tak mengakui kenabian Adam dan malah memberinya tenggat waktu sampai kiamat untuk mengganggu anak cucu Adam AS. Dan buat yang suka mengatakan kembali pada Al Qur’an dan Hadist kisah tentang betapa maha demokratisnya Allah ini diabadikan pula di Al Qur’an lo…

Maka dari itu usahlah kita terus ribut mempersoalkan segala rupa perbedaan yang ada pada elemen bangsa kita. Memang Tuhan itu maha kreatif, Tuhan tak pernah plagiat bahkan dengan ciptaanNya sendiri sehingga segala rupa manusia misalnya, Ia ciptakan dengan perbedaan-perbedaan jelas untuk yang kembar identik sekalipun. Mestinya perbedaan ini kita syukuri sebagai sebuah Rahmat dari Allah yang maha penyayang lagi pengasih. Bukan malah dijadikan ajang kufur masal dengan mempermasalahkanya. Kalau masih mau ngotot agar semuanya tampak seperti yang engkau inginkan kok rasa-rasanya saya perlu nanya, kamu mau membetot domian Tuhan? Kan yang Mahakuasa itu Tuhan bukan antum, trus ngapain meksa-meksa semua harus sesuai dengan nalar-pikir dan harapan antum?

Sebagai masyarakat, kita ini ibarat sel yang menyusun organ-organ pembentuk tubuh (baca:negara). Jika selnya bermasalah, maka bermasalah pula bagian tubuh tersebut. Pun ketika ada sel yang menginginkan semua sel di tubuh kita sama persis, itu ya gawat. Gawat sekali karena akan menimbulkan kengerian-kengerian—juga barangkali kegelian-kegelian. Lah sampean pikir gen masing-masing sel punya ekspresi yang sama? TIDAK. Gen rambut misalnya, ia akan istiqomh memicu pertumbuhan rambut baru jika rambutmu ambrol. Pun gen kulit akan merangsang tumbuhnya kulit jika kulitmu terkelupas. Gen mata, jantung, hati, dan kuku juga punya perbedaan dan kekhasan masing-masing yang justru membuat manusia itu tampak sempurna. Baiklah kalaupun tidak ada manusia yang sempurna setidaknya manusaia adalah yang paling baik dari makhluk lain.

Coba kalau ada sel yang menganggap sel lain yang tak serupa dengan dirinya itu salah, sesat, dan kafir. Maka ia halal sitosolnya (semacam cairan dalam sel: sebut “darahnya” sel) jadi halal untuk dibunuh kalau tidak mau menjadi persis seperti dirinya. Wah ngeri. Bisa-bisa alismu plontos karena gen rambut alismu diintimidasi sama gen kulit kelopak mata agar sesuai dengan dirinya, sehingga ketika alismu rontok yang tumbuh justru kulit. Bisa juga geli jika yang mengintimidasi dan memaksa semua gen di seluruh sel tubuhmu adalah gen yang ekspresinya membentuk ujud kemaluan. Maaf salah objek contoh.

Intinya mari bijaksana menyikapi bangsa kita yang bhineka. Kenali bagian per bagian bangsa kita sehingga tidak ada lagi permusuhan antar bangsa sendiri. Musuh kita adalah perpecahan, lawanlah. Masa sudah tujuhpuluh tahun bersama masih kagetan. Kan ga keren banget kalo wajahmu bonyok dipukuli tangan kirimu sendiri, sedang musuh yang nyata sedang mencabik-cabik dadamu.

 

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.