Beer Sebagai Media Mencintai Negara

Minggu, 18 September 2016 mencuri perhatian saya untuk mengkaji tulisan yang dimuat esensiana.com.  Sebuah website  yang mungkin belum cukup terkenal dikalangan sahabat pembaca. Hal yang menarik perhatian saya, yaitu artikel dengan judul “gaya-gayaan dikampus islami ump”. Poin yang menjadi sorotan adalah persoalan gaya hidup mahasiswa yang tercermin dari kedai penyedia ransumnya, kantin lebih tepatnya.

1. Persoalan merk beer Greensands yang menjadi tagline promosi kantin

2. Soal mahalnya menu kantin

3. Keraguan kehalalan suatu produk yang secara khusus menyoroti merk salah satu beer

4. Kampus islami yang dipandang kurang islami

5. Soal gaya mahasiswa masa kini yang modern

Untuk menanggapinya perlu kehati-hatian dikarenakan persoalan itu berkaitan dengan beberapa perusahaan komersil yang resmi seperti PT Multi Bintang Indonesia. Saya kurang tau apakah Universitas dan MUI itu juga bisa disebut dengan perusahaan komersil yang resmi atau tidak. hehe

Persoalan pemampangan salah satu merk beer pada banner kantin, menurut saya, adik sekaligus kang mas saya (fajar) terlalu berlebihan. Mungkin beliau baru selesai mengikuti kajian halaqoh bersama ust Felix atau Jonru, atau mungkin novelis syar’i sekelas Tere. Sehingga beer tak berdosa dan tak tahu apa-apa menjadi korbannya, hehe. Bagaimana tidak, sebagai minuman yang nikmat, sehat, dan bergizi menjadi suatu momok mengerikan ketika dilabeli bahwa namanya adalah beer. Lepas dari persoalan beer itu halal atau tidak, ini menjadi hal yang sangat relatif. Dimana itu sekali lagi tergantung dari mana sudut pandang kita melihat.

Perijinan produksi dan pemasaran Greensands  tidak lepas dari pengawasan dan uji klinis yang sangat teliti. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan ijin produksi dan pemasaranya cukup njlimet. Mulai dari waktu yang cukup lama dan mahar yang tidak sedikit.

Greensands memilikai kadar alkohol 0%, diproduksi oleh PT Multi Bintang Indonesia. Perusahaan  yang juga memproduksi minuman beralkohol. Bagaimana mungkin hanya karena notabene produsennya memproduksi minuman beralkohol lantas kita mengklaim (Greensands) sebagai minuman yang tabu untuk dikonsumsi, bahkan untuk dipasarkan di kampus yang berslogan islami. Menurut saya MUI harus konsisten dalam proses labelisasi suatu produk. Jika ada sertifikasi halal, kenapa tidak menerbitkan sertifikasi haram demi memberikan kejelasan kepada konsumen.

Menanggapi slogan islami yang ditawarkan sebuah kampus, menurut saya itu bukanlah sebuah nilai saklek. Begitupun slogan-slogan yang lain seperti unggul, modern, dan lain sebagainya. Dalam teori marketing slogan, merupakan headline sebuah produk yang dipasarkan untuk membangun sebuah kesan kualitas dimata  konsumen. Dengan harapan akan meningkatkan penjualan dan laba yang didapat. Jadi persoalan slogan menslogan, pembaca saya yakin cukup tau lah, bukan rahasia kok. Jangankan kampus, semua orang juga sering melakukanya ketika sedang jatuh cinta.ahahaa

 

Mahalnya menu kantin dan gaya mahasiswa masa kini yang modern.

Mahalnya menu kantin menjadi hal yang sangat lumrah. Mahal atau tidaknya suatu komoditas dipengaruhi oleh situasi pasar itu sendiri. Dalam kajian ekonomi kita mengenal adanya supply and demand  dimana harga suatu produk akan sangat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Kalo permintaanya naik tentu harganya akan semakin naik. Simpel, jika ingin harganya turun tinggal kurangi saja permintaanya. Bisa dipastikan akan terjadi penurunan harga, bahkan dapat mengakibatkan tutupnya suatu usaha. Jika permintaan terus meningkat, jangan pernah salahkan kantin yang tidak berdosa itu, terlebih itu adalah kantin yang islami dan dikelola dengan syar’i.

Menyikapi gaya mahasiswa masa kini yang modern, saya sangat membela para mahasiswa. Bagaimana tidak, dengan sifat kekinianya yang identik dengan sikap konsumtif mereka banyak menyumbang pajak bagi negara. Mengingat sebagian besar pendapatan negara kita masih bersumber dari pajak konsumsi. Terlebih lagi pajak minuman beer yang cukup tinggi, tentu akan menyumbang pendapatan negara yang lebih banyak. Jikalau penyumbang pajak bisa disebut dengan orang yang mencintai negaranya, tidak salah juga kita menyebut para mahasiswa masa kini itu sedang mengekspresikan rasa nasionalismenya. heheheee

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.