Bonus Demografi vs BLK

Permasalahan tahun 2035 adalah tentang proyeksi statistika, Indonesia mengalami bonus demografi. Yakni keadaan umur produktif lebih besar daripada angka kelahiran dan usia non-produktif. Bagaimana peran BLK?

Permasalahan tahun 2035 adalah tentang proyeksi statistika, Indonesia mengalami bonus demografi. Yakni keadaan umur produktif lebih besar daripada angka kelahiran dan usia non-produktif. Bagaimana peran BLK?

Penyerapan tenaga kerja menjadi titik berat yang menjadi fokus pengambilan solusi dari pengangguran potensia. Mengingat, ketersediaan lapangan pekerjaan yang berbanding lurus dengan jumlah populasi penduduk di usia produktif. Disamping itu, sumber daya manusia perlu juga diperhatikan. Meningkatnya kompetensi sebagai persaingan mutu dan kualitas, yang nantinya akan menjadikan daya saing semakin komprehensif.

Balai Latihan Kerja, sebagai salah satu solusi membekali calon pekerja supaya memiliki skill guna menghadapi kompetensi persaingan dunia kerja. Akan tetapi permasalahan baru muncul, ketika peserta telah di cap sebagai orang yang kompeten dan memiliki skill tertentu, apakah ia memilih untuk bekerja di intansi tertenu atau membuka lapangan pekerjaan sebagai dari langkah lanjutan guna menyerap tenaga kerja dan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat.

Dalam konsep makro, pemetaan dan permasalahannya lebih kompleks daripada mikro. Pemenuhan kebutuhan makro, masih berada dalam pemanfaatan sumber daya fisik serta kebutuhan pokok yang terhimpun dari hasil pemetaan potensi sekitar. Makro dan Mikro memang tak bisa dipisahkan. Keduanya saling keterkaitan satu sama lainnya, kalo boleh di bilang, konsep makro lebih mengembangkan ke ranah yang lebih luas, dan tentu dampaknya juga ke ranah mikro. Mikro lebih intim, tentang apapun yang ada di in group masih bagian dari Makro.

Back to the earth, seberapa besar kemampuan pengembangan makro – mikro tersebut guna menyambut tantangan zaman?

Berbicara ketersediaan lapangan kerja, KEMNAKER telah melaksanakan pelatihan-pelatihan kerja guna mengurangi angka pengangguran sekaligus memberdayakan potensi Human Capital hingga dapat berdikari dan memiliki skill tertentu.

Pengangguran menjadi salah satu momok dan tidak bisa menjauh dari siklus kemiskinan. Kasarnya, begini. Udah miskin pemalas, pengangguran lagi. Nah ini yang harus dibenahi tentang mindset. Ya gimana, namanya manusia pastilah memiliki zona nyaman tersendiri. Tapi ya, masa mau nyaman nganggur atau emang bener kalau anekdot “mau fokus nganggur dan menolak tawaran pekerjaan yg mapan”? wkwkkw

Udahlah lur, makanya ayo makaryo. Lebih memilih mana? “Mengutuk dalam kegelapan, atau memilih menyalakan lilin di kegelapan”?

 

Salam.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.