Di Lobby: Kita Semua Sebaiknya jadi Feminis (2)

Saya sering membuat kesalahan berpikir bahwa adalah ketentuan untuk saya sebagaimana ketentuan untuk pribadi lain. Ambil contoh kawan saya Louis, yang brilian dan pria progresif. Kami akan memiliki percakapan dan ia akan memberi tahu saya: “Saya tidak melihat apa yang kamu maksud dengan hal berbeda dan sulit untuk perempuan. Mungkin begitu di masa lalu tapi tidak untuk sekarang. Segalanya baik untuk perempuan.” Saya tidak maksud bagaimana Louis tidak melihat kenyataan yang ada.

Saya senang kembali ke Nigeria, dan menghabiskan banyak waktu saya di Lagos, kota terluas dan komersil di dalam negara. Kadang-kadang di sore ketika terik hilang dan kepadatan kota mulai berkurang. Saya hangout dengan teman atau keluarga ke resto atau kafe. Suatu sore, Louis dan saya keluar dengan kawan.

Adalah sebuah pemandangan menakjubkan di Lagos: sebuah percikan energi pria muda yang berjejar di luar untuk “membantu” memarkirkan kendaraan Anda. Lagos adalah kota metropolis dengan dua puluh juta penduduk, dengan energi lebih dibanding London, lebih berjiwa usaha daripada New York. Jadi, banyak pendatang dengan segala hal untuk membuat penghidupan.

Sebagai kota terbesar, menemukan tempat parkir di sore hari sangat sulit, jadi pria muda itu membuat usaha untuk membaut kantung parkir –meski ada tempat parkir kosong-, ia mengarahkan Anda dengan melambaikan tangan dan berjanji “menjaga mobil” Anda sampai Anda kembali. Saya terkesan dengan keadaan khusus pria yang menemukan tempat parkir sore itu. Dan ketika kami pergi, saya memutuskan untuk memberinya uang. Saya membuka tas saya, memasukan tangan dan mengambil uang, saya memberinya. Ia gembira dan bersyukur, menerima uang dari saya, ia memalingkan wajah kepada Louis dan berkata, ”Terima kasih.”

Louis memandang saya, terkejut dan bertanya: ”Mengapa ia berterima kasih kepada saya? Saya tidak memberi ia uang.” Lalu saya melihat kenyataan kesadaran di dalam wajah Louis. Laki-laki mempercayai bahwa apapun uang yang saya punya pada akhirnya datang dari Louis. Karena Louis adalah lelaki.

Laki-laki dan perempuan berbeda. Kita memiliki perbedaan hormon, perbedaan organ seksual dan perbedaan kemampuan biologis -perempuan bisa memiliki bayi, lelaki tidak. Pria memiliki lebih hormon testosteron, secara umum secara fisik lebih kuat dari perempuan. Ada lebih banyak perempuan daripada pria di dunia -52% populasi dunia adalah perempuan- tetapi sebagian posisi kekuatan dan prestige diduduki laki-laki. Penerima nobel perdamaian dari Kenya Wangari Maathai secara sederhana dan baik bekata, semakin jauh kau melangkah semakin sedikit perempuan di sana.

Dalam pemilu terakhir Amerika, kita tetap mendengar hukum Lilly Ledbetter, jika kita melangkah melampaui dan mempunyai nama, ini sungguh terjadi di Amerika, seorang pria dan perempuan mengerjakan pekerjaan yang sama, dengan kualifikasi yang sama, dan si pria dibayar lebih banyak lantaran ia lelaki.

Jadi, secara literal, pria mengatur dunia. Ia membuat kesadaran ribuan tahun yang lalu. Karena manusia hidup di sebuah dunia yang mana kekuatan fisik adalah atribut terpenting untuk bertahan hidup; orang terkuat akan selalu memimpin. Dan laki-laki secara umum, kuat secara fisik (tentu, banyak kasus pengecualian).

Hari ini kita hidup di dunia yang berbeda. Orang yang berkualifikasi lebih bukan yang paling kuat fisiknya. Semakin cerdas, semakin luas pengetahuan, dan semakin kreatif, semakin inovatif. Tidak ada hormon untuk atribut itu. Seorang pria sama seperti perempuan untuk menjadi cerdas, inovatif, kreatif. Kita telah berkembang, tapi ide gender kita tidak berubah banyak.

Tidak terlalu lampau, saya berjalan di lobby salah satu hotel terbaik di Nigeria dan penjaga di pintu masuk memberhentikan saya dan menanyakan pertanyaan menjengkelkan -kamar apa dan nomor berapa tamu yang kunjungi? Apakah saya mengenalnya? Dapatkah saya membuktikan bahwa saya tamu hotel dengan menunjukan kartu kunci saya?- karena asumsi otomatis adalah bahwa perempuan Nigeria masuk hotel sendirian, ia seorang pramunikmat. Karena perempuan Nigeria seorang diri tidak mungkin menjadi tamu dengan membayar kamarnya sendiri.

Seorang pria masuk hotel yang sama, tidak dilecehkan. Asumsi ini berdasar bahwa ia memiliki legitimasi. (Mengapa hotel tersebut tidak memperhatikan perminataan pekerja seks, malahan memperhatian pada penawaran kecil?)

Di Lagos, saya tidak bisa masuk ke klub dan bar terkenal. Mereka tidak mengizinkan Anda masuk jika Anda perempuan dan seorang diri. Anda harus ditemani seorang pria. Dan saya memiliki teman pria yang langsung masui klub dengan lengan mereka berangkulan dengan orang asing, karena orang asing tersebut, perempuan seorang diri muncul, tidak ada pilihan untuk meminta “bantuan” masuk ke dalam klub.

Setiap kali saya berkunjung ke resto Nigeria dengan seorang pria, pelayan memberi salam kepadanya dan mengabaikan saya. Pelayan adalah produk masyarakat yang telah diajari bahwa laki-laki lebih penting dari perempuan, dan saya tahu bahwa mereka tidak berniat kasar, tapi itu suatu perkara yang harus diketahui secara intelektual, dan sangat berasa emosional.

Setiap kali mereka mengabaikan saya, saya merasa tak terlihat. Saya merasa jengkel. Saya ingin memberitahu mereka bahwa saya manusia laiknya lelaki. Layak untuk mendapat  pengakuan. Itu perkara sepele, tetapi terkadang perkara kecil dapat sangat menyengat.

Beberapa waktu silam, saya menulis aritkel mengenai perempuan muda di Lagos. Dan seorang kenalan memberitahu saya bahwa itu merupakan sebuah tulisan amarah dan saya sebaiknya tidak membuatnya terlalu berapi-api. Itu tidak termaafkan. Tentu itu sebuah kemarahan.

Gender dan fungsinya hari ini adalah kuburan ketidakadilan. Saya marah. Kita semua sebaiknya marah. Kemarahan memiliki sejarah panjang dalam membawa perubahan baik. Sebagai tambahan, kemarahan bagi saya juga memberi pengharapan karena secara mendalam, saya percaya kemampuan manusia untuk membuat diri mereka lebih baik.

Kembali kepada kemarahan, saya menangkap peringatan dari nada kenalan saya, dan saya tahu bahwa komentarnya banyak mengenai artikel sebagaimana karakter saya. Itu buruk untuk perempuan. Kemarahan, nadanya berkata, itu tidak bagus untuk perempuan.

Jika Anda perempuan, Anda tidak dianjurkan untuk mengekspresikan kemarahan, karena itu semacam bentuk ancaman. Saya memiliki teman, perempuan Amerika, yang merebut posisi manajerial dari pria. Pendahulunya telah disebut sebagai seorang yang agresif, ia blak-blakan, kekeh, dan sangat kaku soal tanda tangan lembar kerja. Ia ambil kerjanya yang baru, dan membayangkan dirinya setara, tetapi mungkin lebih sedikit lebih baik dari pada pendahulunya.

Dia tidak selalu menyadari bahwa orang memiliki keluarga, ia mengatakan dan ia melakukannya. Setelah beberapa pekan dengan pekerjaan barunya, ia mendisiplinkan bawahannya soal peniruan dalam timeline, hal yang sama dengan yang telah dilakukan pendahulunya . Bawahannya kemudian mengeluh kepada manajemen mengenai gayanya. Ia agresif dan sulit untuk bekerja dengannya, karyawan berkata, karyawan lainnya pun setuju.

Sesorang berkata mereka telah mengharapkan ia akan membawa “sentuhan perempuan” ke dalam kerjanya tetapi nyatanya tidak. Itu tidak terjadi kepada mereka yang mengerjakan hal sama untuk hal yang telah lelaki puji.

 

Selanjutnya di Minggu depan,

Saya punya teman yang lain, juga perempuan Amerika, yang memainkan peran penting ….

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.