5 Fakta Seputar Penyerangan Tentara Israel ke Masjid Al-Aqsa

Konflik Israel di masjid al aqsa
Palestina dan Israel
Suasana ketika damai (

Bentrok di Masjid al-Aqsa kembali terjadi. Bentrok tersebut melibatkan warga Muslim Palestina dengan aparat militer Israel. Apa saja fakta-faktanya? Ini dia:

1. Saat sebelum penyerangan
Beberapa saat sebelum bentrok terjadi, warga Palestina di wilayah okupasi Israel di Yerusalem sudah mengalami diskriminasi. Mereka diperlakukan berbeda dibanding dengan warga Yahudi. Penduduk palestina, baik Muslim maupun Kristen, diberi kartu identitas khusus bertuliskan “penduduk tetap”. Hal tersebut untuk mengidentifikasi mereka terkait pencabutaan hak-hak mereka dan dilarang berpolitik.

Namun ketika masa damai, kehidupan sehari-hari kedua penduduk di Yerusalem Timur (daerah yang dikuasai penduduk Palestina) dan Yerusalem Barat (Isreal) saling melengkapi. Warga Israel di barat kerap berbelanja ke timur karena menilai harganya yang lebih murah. Sementara warga Palestina beberapa ada yang kuliah di Hewbrew University wilyah barat. Untuk penangan medis yang serius penduduk Palestina juga tak sungkan pergi ke rumah sakit utama Israel.

Sebagian orang Palestina juga suka menyambangi restoran-restoran di Yerusalem Barat. Sebaliknya restoran-restoran hummus warga Palestina jadi favorit bagi warga Israel. Sementara kelompok Israel liberal sering menyambangi Yerusalem Timur guna menginap di hotel-hotel sana. Di tataran penduduk mereka kerap saling sinergis. Pada level pemerintahan dan militerlah mereka sering terlibat bentrokan.

2. Penyebab konflik

Metal detektor di masjid al aqsa
Metal detektor di masjid al aqsa

Konflik bermula dari penyerangan terhadap tentara Israel yang diduga dilakukan oleh kelompok pemuda Palestina. Ketiga pemuda terduga penyerang kemudian terbunuh oleh tentara Israel. Buntut dari itu, militer Israel membatasi akses masuk ke masjid suci umat Islam tersebut.

Konflik muncul setelah pihak Yahudi Israel memasang metal detektor di gerbang masjid al-Aqsa. Hal tersebut dilakukan dengan dalih memperketat pengawasan terhadap kompleks tempat suci umat tiga agama tersebut. Hanya wanita, anak-anak, dan pria berusia berusia di atas 50 tahunlah yang diperbolehkan beribadah di Masjid tersebut.

Umat Islam Palestina tak terima dengan sikap semena-mena yang dilakukan oleh pemerintah Israel tersebut. Lalu terjadi protes yang kemudian menyulut konflik

3. Jumlah Korban
Demo yang dilakukan oleh penduduk Palestina menyikapi pelarang beribadah di Masjid al-Aqso dijawab dengan tembakan gas air mata dan tembakan peluru karet. Huru-hara pun kian menjadi-jadi di masjid yang pernah menjadi saksi pembantaian 70 ribuan umat Islam pada perang salib tahun 1099 ini.

Tak pelak korban pun bejatuhan di pihak Palestina. Mereka yang hanya bersenjatakan batu dan benda-benda “tak berdaya” lain kocar-kacir diserbu militer bersenjata lengkap. Pada tanggal 18 Juli lalu Palang Merah Internasional melaporkan sudah ada 50 korban luka di pihak Palestina. Jumlah tersebut sangat mungkin bertambah karena konflik terus berlanjut. Dari angka itu, Imam Masjid al-Aqsa, Syaikh Ikrima Sabri, termasuk satu di antaranya.
Sementara, korban tewas tercatat sudah tujuh orang. Sungguh kekejian yang tak perlu terjadi, apalagi di masjid.

Konflik Israel di masjid al aqsa
Konflik Israel di masjid al aqsa (source: youtube)

4. Yordania adalah pihak yang mengelola masjid al-Aqsa
Saat ini Yordania adalah negara yang tercatat turut mengendalikan Masjid al-Aqsa. Lewat Departemen Waqaf Yordania, negara pimpinan Raja Abdullah II tersebut turut merawat dan menjaga situs suci Haram al-Sharif tersebut.

Pemerintah RI lewat kementrian luar negeri sendiri telah menghubungi Raja Abdullah II untuk segera turun tangan menyikapi konflik yang berpotensi meluas tersebut.

5. Israel melanggar perjanjian
Menurut perjanjian damai antara Israel dan Yordania yang disepakati tahun 1994, status pelindung al-Aqsa dan tempat-tempat suci Islam lainnya di Yerusalem timur yang kini telah diduduki Israel berada di bawah kendali Yordania. Pada keadaan biasa, umat Yahudi diperbolehkan masuk ke dalam komplek Masjid namun tidak diperbolehkan untuk beribadah.

Pada tahun 2015, tepat sebulan sebelum Ramadan, Yordania dan Israel bersepakat untuk meredakan pertikaian yang sering terjadi di al-Aqsa. Dalam kesepakatan itu, Israel setuju untuk tidak membatasi umat Muslim yang ingin beribadah di Masjid al-Aqsa. Israel juga setuju untuk tidak menyita kartu identitas perempuan.
Namun nyatanya Israel kembali memberlakukan pembatasan jamaah Muslim yang kemudian menuai protes berujung konflik berdarah tersebut. Untuk kesekian kalinya, Israel ingkar.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.