Jika Squidward Menista Agama

“Agama, agama apa yang sering dinistakan?”

Jawaban saya adalah agama Kerang Ajaib, meski bukan merupakan agama lama yang turun dari langit ke bumi beribu-ribu tahun yang lalu. Menurut Golding (1954 : 10), agama ini lahir di sebuah pulau di Samudera Pasifik saat lima orang bijak Ralph, Piggy, Johny, dan Simon tengah melakukan perjalanan spiritual menyusuri pantai tersebut.

Lebih jauhnya, agama ini lantas diturunkan ke dasar laut dan dianut oleh makhluk-makhluk invertebrata; berupa bintang laut, spons, dan ikan penjaga hutan yang tak diketahui namanya. Para penganut kepercayaan ini lantas menggabungkan dirinya dalam sebuah organisasi bernama Kelompok Pemuja Kerang Ajaib Ulululu (KPKAU).

Sebagai agama di lautan, agama Kerang Ajaib sangat terbuka dalam merekrut pengikut. Berdasarkan data dari Kementerian Agama Bikini Atoll, 70 persen ikan di sana menganut kepercayaan Kerang Ajaib, sedangkan sisanya didominasi oleh agama-agama pribadi semacam penyembah gelembung sabun, jangkar kapal karam, serta pasir laut dalam. Apabila hendak disebut negara toleran, jelas Bikini Atoll merupakan negara kosmopolis dengan indeks toleransi terbesar di planet bumi hingga saat ini.

Lalu, di mana letak penistaannya? Sebagai agama baru, agama Kerang Ajaib tentu saja sering mendapatkan diskriminasi. Dari mulai pengucilan pemuka agama setempat, perusakan properti di tempat ibadah, hingga yang paling parah adalah tindakan penghinaan terhadap Tuhan di agama bersangkutan dari kelompok ekstremis kanan agama Cumi-Cumi Illuminati (CCI).

Berdasarkan arsip dari Perpustakaan KPKAU, salah satu kasus penistaan paling radikal yang terjadi hingga saat ini adalah penghinaan yang dilakukan oleh Squidward Tortellini, salah satu pemuka agama CCI yang dengan sengaja menyebut KPKAU sebagai agama pemuja barang plastik. Hinaan tersebut memang seringkali dilontarkan karena populasi kerang semakin berkurang tiap tahunnya.

Apabila menilik hukum di Bikini Atoll, berdasarkan Pasal 156 Kitab Undang-Undang Hukum Pinilin, tindakan ini jelas merupakan bentuk penghinaan terhadap suatu golongan yang dapat dikenakan sanksi minimal 5 tahun penjara. Namun, pihak KPKAU justru tak menganggap hal tersebut bukan hal yang krusial untuk dibawa ke ranah hukum.

“Kami hanya menuruti perintah Kerang Ajaib saja, ketika kami tanya apa yang harus kami lakukan, Kerang Ajaib hanya menjawab ‘tidak ada’,” jelas Squarebob Brownpants, salah satu pemuka agama di KPKUA.

“Lagipula, agama mana yang menginginkan peperangan?” tambahnya lagi.

Menurut Squarebob, penghinaan yang dilakukan oleh Squidward tersebut menjadi refleksi baginya untuk mempertanyakan dan menafsirkan kembali perintah-perintah Kerang Ajaib. Menurutnya, paska peristiwa tersebut, KPKUA memperbaiki segala metode dakwah yang mereka pergunakan. “Ululululu … sekarang anggota KPKUA sudah bisa mencapai angka 100.721 orang paska pembaruan tafsir,” ungkap pria yang bekerja di salah satu sekolah ternama di Bikini Atoll tersebut.

 

Mendapat Hidayah

Dampak penafsiran kembali firman Kerang Ajaib juga membuat penduduk Bikini Atoll semakin antusias, tak terkecuali bagi bekas ‘penista’ Kerang Ajaib tersebut, Squidward Tortellini. Bagi Squidward, Kerang Ajaib adalah agama paling relevan yang pernah ia temui. Bahkan, ia mengaku menyesal sempat menghina para anggota KPKUA sebagai pemuja barang plastik.

“Saya tak habis pikir kelakuan saya dulu sebelum kenal Kerang Ajaib,” jelasnya saat diwawancarai kediamannya di pinggiran Bikini Bottom.

Menurut Squidward, sentimen antara CCI dengan KPKAU sudah menjadi penyakit selama berabad-abad. CCI yang diisi oleh para pejabat lokal dan cumi-cumi kulit hijau seringkali menghina KPKAU yang diisi oleh ikan-ikan miskin yang tak berpendidikan. Sebagai salah satu anggoa CCI, Squidward pun tak luput dari sentimen tersebut dan lantas berseteru dengan Squarebob yang masih menjadi seorang anggota pemula di KPKAU.

“Saya waktu itu emosi, saya tampar Squarebob lalu tanpa saya ketahui, video saya mendadak viral di internet,” tambah Squidward.

Di internet, banyak yang menuntut Squidward untuk segera dibawa ke Bareskrim. Namun, atas imbauan dari Squarebob, Squidward pun dibebaskan dari tuntutannya dan lantas menjadi anggota KPKAU pertama yang berasal dari golongan cumi-cumi.

Menurut antropolog Sandy Cheeks, terdapat beberapa alasan yang menyebabkan mudahnya KPKAU diterima di Bikini Atoll. Dalam praktiknya, KPKAU sangat mengedepankan kepentingan bersama tanpa pandang bulu -meskipun ikan tak mempunyai bulu- mereka seringkali melakukan berbagai kegiatan, dari merawat hutan hingga menyantuni anak yatim.

Selain itu, Sandy juga berpendapat bahwa KPKAU tidak mengharuskan persyaratan sulit untuk masuk dalam komunitasnya. “Mereka hanya perlu mendengarkan perintah dari Kerang Ajaib, melaksanakannya, dan menjauhi larangannya,” jelas Sandy.

 

Bikini Atoll dan Kosmopolitanisme

Sejak berdiri tahun 1958, Bikini Atoll memang dikenal sebagai salah satu negara kosmopolis yang cukup terkenal. Dibandingkan dengan Indonesia yang ‘hanya’ terdiri dari enam agama dan tak mempertimbangkan penghayat, Bikini Atoll justru mampu menampung aspirasi setidaknya dari 167 spesies ikan yang tersisa di sana.

Meski demikian, perjalanan negara ini justru dibangun dari sejarah yang panjang. Semenjak dijadikan sebagai daerah tes Nuklir pada era awal Perang Dingin, negara ini tak lagi ditinggali oleh manusia. Sebagian dari manusia lokal direlokasi ke banyak tempat yang mencakup kawasan Hawaii, Melanesia, serta Amerika Serikat.

Menurut bekas walikota Bikini Bottom (salah satu distrik di Bikini Atoll) yang tak mau disebut namanya, perlu sepuluh tahun paska berhentinya percobaan nuklir untuk membangun kembali Bikini Bottom. “Sepanjang kurun waktu tersebut, masih banyak ikan yang terdampak radiasi,” paparnya.

Akibat dari radiasi ini, pertumbuhan penduduk di Bikini Bottom pun turut melaju dengan pesat. Yakni dari 46.853 jiwa pada tahun 1993, menjadi sekitar 500.000 pada tahun 2017. Selain dari dampak radiasi, pertumbuhan jumlah penduduk ini juga disebabkan kurang atau bahkan tidak adanya karnivora yang berkeliaran di Bikini Bottom.

“Tak ada hiu yang berkeliaran di sini, mereka sudah bermigrasi puluhan tahun lalu,” jelas pria berkumis tebal dan bersirip hijau ini.

Selama berpuluh tahun berdiri, Bikini Atoll pun berusaha sebisa mungkin untuk menjaga kedaulatan negaranya dan menjaga hak-hak setiap warga negaranya meski tak jarang ada warga yang main hakim sendiri.

“Jarang sekali tindak kriminalitas terjadi di Bikini Bottom, terutama kekerasan. Dulu sempat ada kasus pengusiran seorang gelembung tapi mampu disikapi baik oleh masyarakat meski ricuh pada awalnya,” jelas Mayor.

Meski terdapat beragam kepercayaan, masyarakat Bikini Bottom pun mampu hidup berdampingan. Sungguh, kebahagiaan tersebar di seluruh Bikini Bottom, bahkan di bawah batu sekali pun.

 

NB:

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan tokoh, lokasi, dan peristiwa, memang terdapat unsur kesengajaan di sana.

Comments

comments