Kebohongan-Kebohongan Orwell

Mata terpaut pada layar gawai, surat kabar yang baru, menemani rokok, kopi dan secarik makanan kecil. Pagi yang sempurna untuk mengawali hari bersama di Soviet. Surat-surat kabar yang selalu tersedia slot kabar esek-esek, telinga yang tidak bisa tidak untuk hirau mendengar kasus, sedikit silap, adakah berita didengar, dibaca dengan benar? Banjir informasi menutupi permukaan skeptis, lupa, apakah ini benar adanya?

Masih terlalu banyak corong mulut orang berbicara hoax. Hoax Jokowi, hoax Prabowo, hoax Trumps, atau hoax video mirip Marion Jola. Kebenaran berubah, post-truth sebutannya. Maka politik bahasa dibentuk untuk membuat kebohongan terdengar seperti kebenaran dan membunuh nampak terhormat, kata Orwell.

Terlahir dengan nama Eric Arthur Blair. Blair muda mendengar sayup-sayup angin. Ia kemudian mengubah namanya dalam baris akhir tulisan: George Orwell. Alih-alih tampan dan bahagia, menyedihkan, kesepian dan prihatin, tiga kata brengsek yang kekal bersama Orwell. Meski dilahirkan dari seorang ayah pegawai kolonial di India.

Saya memiliki masa kecil yang kesepian, lalu menuliskannya dalam cerita, mengadakan dialog dengan orang-orang imajiner. Saya tahu, saya memiliki fasilitas dengan kata-kata dan memiliki kekuatan menghadapi kenyataan pahit, dan saya merasa bahwa saya menciptakan dunia privat kecil dimana saya dapat kembali dari kegagalan di dalam kehidupan sehari-hari, terangnya dalam esai Mengapa saya menulis.

Sedari kecil Orwell terkena bronchitis, ia tetap merokok. Menghabiskan enam ons tembakau dalam seminggu. Pengaruh rokok sampai memangkas pagu untuk membeli buku, sebagai penulis bahan bakarnya tentu membaca. Orwell mengakui dosanya; saya meminjam sementara, atau meminjam dan tidak mengembalikannya, buku pemberian, buku pinjaman, buku curian terkadang lebih bernilai atau tidak sama sekali. Saya memiliki buku yang tak seharusnya menjadi milik saya, tapi banyak orang juga banyak mempunyai buku kepunyaan saya, lanjutnya.

Hubungannya dengan sang ayah semakin rumit lantaran Blair senior tak pulang-pulang. Ia menasbihkan bapaknya sebagai seorang yang berwatak, fasis, konservatif, kuno, imperialis. Ia menyelesaikan studinya di Eton (tempat belajar Ben Anderson, Indonesianis dan penulis Imagined Communities). Masalah ekonomi yang rumit, keluarga yang rudin hingga membuatnya terdampar di Burma.

Alih-alih hidup enak di Burma, ia malah tambah puyeng. Perasaannya carut marut lantaran bekerja sebagai polisi imperial. Ia menulis dalam Menembak Gajah: saya seorang anggota sub-divisi polisi di sebuah kota, tanpa tujuan jelas, perasaan anti-Eropa adalah sesuatu yang sangat pahit. Sebagai seorang anggota polisi, tentu saya menjadi target, saya diledek kapan pun saat keadaan aman. Padahal kenyataannya, saya hanya seorang boneka absurd mungil yang didorong oleh mereka yang berada di belakang wajah kuning. Bukan perkara mudah bagi Orwell untuk menembak gajah meski ia mendapat pembenaran untuk tugasnya, ia penyuka kepompong dan kupu-kupu sedari kecil.

Pengalaman Orwell di Burma membuat ia tak tahan. Ia merasa bahwa imperialisme adalah hal yang biadab. Ia mundur dan pergi ke Paris, menjadi pencuci piring. Ia sempat mengajar di Inggris, lalu pergi ke Spanyol, menulis Perang Sipil Spanyol yang berlatar berbagai macam ideologi yang tengah berkontestasi.

Seusai dari Spanyol, ia mudik lantaran TBC memeluknya. Terbaring cukup lama di rumah sakit, getir justru dirasakan Orwell. Ia jengkel, penyakitnya tak kunjung sembuh atau diipulihkan, lagi-lagi menulis menjadi tempatnya kembali.

Di dalam bangsal umum rumah sakit, Anda melihat ketakutan dan tidak nampak orang yang mengatur untuk mati di rumah mereka sendiri. Penyakit tertentu hanya menyerang mereka yang berpenghasilan rendah. Rumah sakit mulai beroleh rupa menjadi ruang santai untuk penderita lepra yang memilih mati di dalamnya. Rumah sakit berlanjut menjadi tempat mahasiswa medis mempelajari seni mereka di atas tubuh si miskin. Adalah sesuatu yang hebat, mati di atas kasurmu sendiri, lebih baik mati di atas kakimu sendiri. Bagaimana pun luhurnya kebaikan, di rumah sakit, setiap kematian akan menjadi perkara biadab, mungkin hal sepele untuk diberitahukan tetapi meninggalkan kenangan rasa sakit yang mengerikan di belakangnya. Rumah sakit menjadi tempat di mana setiap hari orang sekarat di antara orang-orang asing, paparnya dalam Bagaimana si miskin mati.

Orwell bukannya tidak lelah. Menulis sebuah buku adalah sesuatu yang mengerikan, perjuangan yang melelahkan, laiknya penantian yang panjang dari rasa sakit, Orwell bermonolog.

Selepas Perang Dunia Dua, bagi Orwell dunia tidak serta merta menjadi lebih baik, ia merasa bahwa wujud totalitarianisme berganti rupa, bersolek dalam wujud ‘Kementerian Propaganda’, mengatur kerja otak seseorang, mengatur cara orang mengkritisi pemerintahnya, tanpa harus menodongkan bayonet.
Sastra dan bahasa yang selama ini mejadi padang untuk berlindung pun diselusupi apa yang ia yakini selama ini sebagai musuh kemanusiaan. Seseorang tidak harus menelan absurditas, tapi ia harus mengenali kekacauan politik di masa sekarang yang berhubungan dengan kerusakan bahasa, tulisnya dalam Politik dan bahasa Inggris.

Bagi Orwell, apa yang ditulis, apa yang dilontarkan tidak lepas dari absurditas, bias, paradox, dan penggunaan eufimisme untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Anasir-anasir tadi yang mendorongnya mengembangkan konsep doublespeak dalam 1984.

Waspadalah terhadap keberpihakan saya, dan distorsi pasti disebabkan karena saya hanya melihat satu sudut kejadian, tulis Orwell memberi petuah.

Disaat banjir-banjir informasi yang tidak jelas juntrungannya, kepentingan-kepentingan, bias paradoks politik, booming konsumsi dystopian film, di situlah Orwell muncul meninggalkan secercah cahaya harapan, memerangi, dan mengenali kebohongan. Tentu saja sebelum ia mati, kemarin, 21 Januari. Sebagaimana mesin uap, katup-katup mesin pun lapuk, paru Orwell bocor, lantas ia mati terkena TBC.

Waspadalah terhadap apa yang saya tulis, bisa jadi saja terjadi distorsi.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.