Kembali pada Al Quran dan Hadist, Ajakan Simpel yang Tidak Simpel

Kembali pada Al Quran dan Hadist

Kembalikan pada Al Quran dan hadist – Sebagai umat Islam, mendengar ajakan untuk kembali pada Al Quran dan Hadist—yang merupakan dasar hukum paling  tinggi dalam beragama—tentu kita setuju. Hal tersebut jelas amat baik. Tetapi kebaikan itu tidak lantas bisa dijalankan secara serampangan. Apalagi ini menyangkut soal agama.

Akhir-akhir ini gerakan semacam tersebut masif terdengar diberbagai forum dan media. Terutama pada kajian kajian agama yang diselenggarakan oleh beberapa kelompok Islam. Meme, sebagai bagian dari kehidupan masa kini, pun tak lepas dari konten-konten propagandis tersebut.

Ajakan tersebut menjadi begitu heroik karena digencarkan ditengah berbagai kemrosotan moral akhir-akhir ini. Tak lepas juga dari kondisi perekonomian negara yang saat ini belum bisa dikatakan baik. Kondisi makro ekonomi tersebut menjadi alasan untuk menuduh pemerintahan yang dikelola secara demokratis—yang katanya tidak disebutkan dalam Al Quran—adalah penyebabnya. Maka pengelolaan negara, kata mereka, harus dikembalikan pada aturan Al Quran; Khilafah jawabannya (yang sebenarnya juga tak disebutkan dalam Al Quran).

Ajakan kembali pada Al Quran dan Hadist mulanya gencar semenjak banyaknya nilai-nilai keagamaan yang merasuki ritual kebudayaan. Yang demikian dianggap menyimpang karena diinisiasi oleh manusia. Dalam konteks Indonesia, tentu saja, para Wali Songo. Oleh karena itu, dengan niat baik memurnikan tauhid, sebagian kelompok mengajak untuk kembali pada Al Quran dan Hadist.

Dengan segenap prasangka baik, kita harus menduga bahwa ajakan tersebut tidak dilakukan dengan maksud menjebak. Kenapa? Karena meskipun tujuannya baik, ajakan tersebut justru telah banyak membuat pelakunya terjebak. Terutama mereka yang hendak berpindah (baca: hijrah) secara ekstrem. Yang akhir akhir ini kita sering mengenalnya dengan sebutan; Khaffah.

Kembali pada Al Quran dan Hadist secara harfiah memang sangat indah dan mestinya memang begitu. Tapi konsep tersebut sering disederhanakan sehingga jauh dari maksud sebenarnya. Bentuk penyederhanaan tersebut, misalnya, semakin banyak orang yang menafsirkan Al Quran dengan interpretasinya sendiri. Padahal kadar keilmuannya belum bisa menyamai para mufasir. Jangankan mufasir, setingkat ustads saja belum.

Memang benar, bahwa Al Quran diturunkan sebagai pedoman manusia. Tetapi permasalahannya manusia seperti kita, yang referensi bahasa arabnya saja baru ana;antum;akhi;ukhti;abi;umi, sangat mungkin malah tersesat memahami Al Quran. Kok bisa? Bisa saja, kita justru tersesat saat membaca kitab yang mendapat julukan “cahaya petunjuk” tersebut. Hal itu  terjadi jika kita membaca Al Quran hanya dari teks dan lepas dari konteks. Belum lagi soal ilmu alat dan hadist—sebagai semacam petunjuk teknis—yang juga harus dikuasai.

Pada kondisi yang demikian, Ketua Umum PBNU, Kiai Said Aqil, mengibaratkan orang yang kembali pada Al Quran dengan menafsirkan sendiri suatu ayat dengan hanya bermodal terjemahan, sama dengan orang awan yang membaca buku kedokteran, lalu ia membuka praktek. Padahal Al Quran jauh lebih tinggi tingkat bahasanya ketimbang buku-buku kedokteran.

Pada beberapa Surat, seperti Al Baqarah: 23, Al Hud: 13, Yunus: 37, bahkan Allah sendiri yang menjamin tidak akan ada satupun makhluk yang sanggup menyamai tatanan bahasa dalam Al Quran. Ini menunjukkan bahwa Al Quran tidak bisa serampangan ditafsirkan oleh kita orang awam.

Sebagai jalan paling aman, cara kita kembali pada Al Quran, adalah menggunakan pendapat para musafir (ahli tafsir) untuk memahami Al Quran. Bukan membaca lalu menafsirkannya dari terjemahan yang ada. Cara seperti tersebut akan membuat kita lebih bijak dalam memahami ajaran agama yang merupakan rahmat bagi sekalian alam ini.

Perlu kita garis bawahi, Al Quran itu tidak turun gluntungan, blek seperti kitab yang kita baca sekarang itu. Ia diturunkan ayat per ayat, surat demi surat. Bertahap sesuai dengan kondisi Nabi dan umat sebagai penerimanya.

Permasalahan berikutnya, yang banyak membuat orang bingung, adalah perkara banyaknya ahli tafsir, yang seringkali, tafsirnya berbeda satu sama lain. Mengantisipasi hal tersebut, Rasulalloh telah memberikan semacam kode yang kemudian diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650).

Hadist tersebut kemudian, oleh para muhaddist, ditafsirkan sebagai: orang-orang yang paling soleh adalah yang paling dekat dengan Rasulalloh.

Dengan demikian, kita bisa menggunakan pendekatan tersebut untuk menentukan ulama mana yang memiliki tingkat kesalahan lebih sedikit. Sederhananya, ulama yang hidup sezaman dengan Rosulalloh memiliki pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang bagaimana Islam disampaikan. Karena melihat sumbernya langsung.

Metode semacam iniliah yang kemudian dinamakan as-salafu ash-shalih, atau yang bisa diartikan orang yang mengikuti orang-orang shalih zaman terdahulu. Umumnya dibatasi pada tiga generasi awal yaitu para sahabat, at-tabi’un, dan atba’u tabi’in (para pengikut tabi’in). Siapapun yang mengikuti mereka dari aspek pemahaman, i’tiqad, perkataan maupun amal, maka dia berada di atas manhaj as-salaf.

Ohya dan sebagai penutup tulisan ini, saya pengen mengingatkan, ya FYI aja sih. Kalau  Imam Hanafi itu lahir pada tahun 80H, Imam Maliki pada tahun 93H. Sedangkan Imam Syafi’i lahir pada 150H, sementara Imam Hambali pada 163H. Para Imam Madzhab tersebut lebih tua (bisa diartikan lebih dekat dengan zaman Nabi) ketimbang Imam Bukhari yang lahir pada 196H, atau Imam Muslim yang lahir pada 204H. Imam Muslim sendiri, yang periwayat hadist kenamaan itu, bermadzhab Syafi’i loh. Kalau Ibnu Taimiyah lebih junior lagi. Beliau hidup 600 tahun setelah zaman Nabi.

Jadi agak lucu saja kalo ada orang yang ngotot dengan doktrin yang dibawa oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab (pendiri Wahabi)—yang lahir pada 1115H—tentang pemurnian akidah yang justru menegasikan ulama-ulama terdahulu yang hidup satu generasi di bawah Nabi.

Tapi siya sebenernya ok oce saja seandainya situ mau mengikuti pendapat Abdul Wahab atau Ibnu Taimiyah. Menjadi tidak oke jika kemudian karena pendapatmu itu orang lain jadi kafir. Paham lik?

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.