Hal-hal yang Membuat Koperasi Susah Maju

kenapa koperasi tidak maju
kenapa koperasi tidak maju
perjalanan koperasi

Hingga hari ini koperasi masih menjadi obrolan level undang-undang saja. Prakteknya, koperasi belum banyak memberi manfaat di masyarakat. Sependek pengalaman saya, koperasi itu memang rada susah diajak maju. Beda kalau diajak karaoke atau shopping, cepat sekali. Untuk itu, saya bersama tim riset independent dari esensiana.com mencoba untuk mencari alasannya dengan penelitian paling metodik abad ini. Menurut penelitian ada beberapa faktor yang membuat kenapa koperasi sulit maju. Penelitian saya tentu saja. Tsah!

Sebagai pengamat, karena ini memang kerjaan yang paling gampang, setidak-tidaknya ada tiga alasan yang menurut saya menyebabkan gerakan koperasi Indonesia susah maju. Tiga alasan ini saya dapat melalui proses penelitian panjang dibarengi tirakat dan perenungan level khowash. Ooo, ndak usah maksa-maksa ngebayangin. Ndak nyandak situ. Mending langsung cekidot aja.

Alasan pertama, Koperasi dijadikan soko guru ekonomi

Ini mungkin mengejutkan. Bagaimana mungkin, menempatkan koperasi sebagai soko guru ekonomi justru jadi penyebab seretnya gerakan koperasi?

Koperasi memang jadi soko guru ekonomi, itu semua berkat perjuangan Bung Berkacamata, Muhammad Hatta. Berkat jasanya, beliau didaulat jadi bapak koperasi Indonesia. Tapi masalahnya ini belum jelas guru yang seperti apa je.

Koperasi itu sudah jadi soko guru ekonomi sejak UUD ditetapkan. Tapi masih saja mikro-mikro, gurem-gurem. Setelah ditelusuri tim saya menemukan fakta bahnya betul koperasi itu soko guru ekonomi nasional. Tapi masih guru honorer. Laiya wajar mpot-mpotan memenuhi kebutuhan ekonomi dalam negeri sehingga colak sana-colek sini. Hasilnya? Utang negara gagah di angka 3.667 triliun.

Karena masih honorer, jadi wajar kalau cuma kasih 1,7% ke PDB. Kecil sih, tapi mau bagaimana lagi namanya juga honorer. Bisa bertahan saja alhamdulillah. Kalau sektor lain bisa kasih sampai 20 -50% itu wajar karena mereka bukan guru ekonomi—honorer pula.

Masalah makin pelik saat rejim Jokowi menerapkan moratorium PNS. Laiya masa di usia 70 tahun, sudah sangat sepuh, sudah aki-aki, tetep tidak ada pengangkatan? Keburu mangkat!

Kalau ingin nambah penghasilankontribusi, harusnya koperasi itu lebih kreatif, jangan jadi guru ekonomi aja. Jadi apa kek gitu, misal guru les, guru mengaji atau guru spiritual. Bayarannya kan lumayan buat tambah-tambah penghasilan.

Memandang koperasi pakai cinta

Aktipis koperasi itu, terutama yang anak mudanya, sering banget bilang “aku cinta koperasi”. Apalagi di hari koperasi nasional begini, jargon Saya Indonesia, cinta koperasi akan membanjiri linimassa. Aktipisnya banyak pakai foto profil campaign semacam itu.

Lalu pertanyaan pertamanya yang tanya kamu indonesia apa bukan itu siapa? Mau kamu orang Zimbabwe, Madagaskar, atau Kuvukiland kek, emangnya penting. Lagi pula jargon “aku cinta koperasi” itu gak cocok. Koperasi kok dicintai Hellow, gak ada cewek apa bang?.

Setau saya, orang di koperasi itu enggak ngomongin cinta tapi sibuk kerja, serius  mikir biar koperasinya bagus dan sejahtera.

Selain itu koperasi itu perusahaan, apanya yang dicintai? Ingat lho, mencintai harta kekayaan a.k.a hubbud dunya itu tidak ajarkan nabi. Kalau mau cinta itu, cintailah anak yatim, fakir miskin, janda mudadan anak terlantar. Itu baru bener.

Emmm apa nganu, maksudnya cinta koperasi itu mencintai koperasi sebagai sistem ekonomi? Waiya kalo gitu kurang tepat. Sistem ekonomi itu, alih-alih dicintai malah perlu terus dikritik, dikembangkan bair semakin relevan. Tau sendiri kan kalo cinta itu buta, kalo sudah buta, justru makin susah untuk membawa koperasi berdiri di atas pemilik jutaan hektar tanah, atau industri otomotif yang lagi cengengesan sama penguasa atas sana.

Nih ya, tak kasih tau. Akademisi kapitalis di Harvard dan MIT sana mengembangkan teori ekonomi kapitalis dengan serius. Mereka gak pernah bilang “ I love capitalism” tuh, tapi riset serius. Lahini koperasi, malah sibuk terlena sama cinta koperasi.

Kalau mau teriak-teriak turun ke jalan aja. Bikin demo koperasi berjiid-jilid. Atau kalau maunya teriak cinta-cintaan, jangan jadi aktivis koperasi, ikut aktipis gerakan nikah muda aja sudah.

Tidak punya partai

Penyebab ketiga adalah karena koperasi tidak punya alat politis untuk kemajuan gerakan pada level nasional. Meskipun sudah ada Kementrian Koperasi dan UMKM tapi itu kurang strategis, lagipula masak koperasi disandingkan sama UMKM. Sama BUMN napa. Nah, riset saya punya saran agar koperasi itu harus bikin partai.

Soalnya begini, bro en sis.

Para pemilik korporasi yang suskes, banyak yang jadi oligark. Mereka turut memodali pencalonan bupati, gubernur bahkan presiden dengan duit yang mereka punya. Alhasil mereka bisa mengendalikan dan mempengaruhi kebijakan sehingga banyak public policy yang memihak mereka. Masyarakat? Ah itu kan cuma remah-remah mie goreng, yang walaupun dimasukkan panci akan ikut terbuang bersama air.

Nah koperasi jangan mau kalah, tapi jangan jadi oligark juga. Itu anti-demokrasi dan anti-pancasila namanya. Lagipula masalahnya banyak koperasi itu kagak gableg duit, jangankan mau ngebiayain pilgub, gajih karyawan aja hutang sana sini.

Tapi jangan khawatir, kreativiats itu justru muncul dari keterbatasan. Koperasi itu kan anggotanya di seluruh Indonesia banyak nih, intinya punya basis massa. Nah, koperasi harus bisa mengkonversi itu menjadi kekuatan politis, anda paham maksud saya? Yak, tul. Bikin Partai tadi.

Mari kita bayangkan koperasi itu punya partai. Misal, Partai Koperasi Indonesia, disingkat PKI. Eh, kok namanya kayak partai kuminis ya. Jangan itu deh, nanti anggotanya bisa terciduqe, ganti Partai Koperasi Sejahtera, disingkat PKS. Lho kok jadi ingat partainya Akhina Fahri Hamzah.

Yasudah soal nama terserah teman-teman koperasi saja lah. Yang penting saya sudah kasih ide yang briliant. Ini bukan ide tanpa dasar loh, 2014 kemarin, PDIP memenangi Pemilu dengan raihan 23.681.471 suara. Padahal, menurut data Kementerian Koperasi, jumlah anggota koperasi yang ada di seluruh Indonesia saat ini sebanyak 37,78 juta orang. Bisa menang banyak tuhhhh.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.