Lebaran dan Kejombloan yang Berkelanjutan

Siapakah kalian di hari raya Idul Fitri? Apakah seseorang yang masih harap-harap cemas ketika akan membuka kaleng Khong Guan, apakah isinya sesuai gambarnya atau ternyata remah-remah rengginang? Atau menjadi seseorang yang merasa paling berdosa sehingga mengirim broadcast ucapan dan permohonan maaf ke seluruh nomer kontak di WA, teman di FB, dan pengikut di Twitter dan IG? Ataukah seseorang yang malah merasa terintimidasi atas beragam pertanyaan yang dilontarkan sejenak setelah bersalaman dengan tuan rumah seperti “kesini sama siapa”, “kok sendirian aja”, “sekarang pacarnya siapa”, dan yang paling menohok “kapan nikah”?

Siapapun kalian, saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1439 H, Mohon nafkah lahir dan batin. Eh, Mohon maaf lahir dan batin.

Momentum Idul Fitri merupakan sarana bagi khalayak penduduk NKRI untuk kembali merajut simpul-simpul persaudaraan, mempererat keakraban di antara tetangga dan handai taulan. Disebut pula sebagai hari kemenangan setelah selama tiga puluh hari menjalani ibadah puasa, menahan diri dari keinginan untuk menahan rasa marah, kesal, lapar, dan dahaga. Namun, ternyata masih ada satu kelompok sosial yang masih berpuasa di tengah gegap gempita hari kemenangan.

Siapa lagi kalau bukan entitas yang disebut jomblo.  Meski puasa menahan diri dari makan dan minum telah berakhir, namun puasa mereka untuk menahan diri dari keinginan memiliki pasangan terus berlanjut dan akan diuji lebih berat lagi dengan pertanyaan seperti yang tertera di kalimat terakhir dari paragraf pertama. Bagaimana cara mereka menjawab dan menyikapi pertanyaan tersebut akan menentukan keberhasilan mereka dalam menjalani ibadah puasa.

Ada beragam metode dan cara kaum jomblo menjawab pertanyaan tersebut, masing – masing jawaban menunjukkan tingkat kreatifitas dan referensi bacaan setiap orang. Jawaban yang paling sering digunakan adalah ‘kapan-kapan” atau “kapan aja boleh”, ini adalah level jawaban paling rendah yang bisa digunakan untuk kalangan manapun. Namun, jika jawabannya adalah “insyaAllah secepatnya, doain yah” atau “jodoh ada di tangan Tuhan”, ini menunjukkan orang tersebut memiliki tingkat religiusitas yang lumayan atau hanya sekedar ingin menarik simpati lawan bicara agar dianggap religius.

Jomblo yang sedikit agresif dan reaksioner akan menjawab dengan serangan balik seperti “emang kamu mau kondangan berapa kalau aku nikah?” atau “kenapa tanya-tanya? kaya’ mau bayarin kateringnya aja?”. Tetapi, demi menjaga momen silaturahmi, lebih baik dijawab saja dengan santai dan nglawak seperti “nikahnya kalau nggak Sabtu ya Minggu” atau “pengennya sekarang, tapi KUA kan masih libur”.

Selain sibuk menanggapi rangkaian pertanyaan yang jawabannya ada di ujung langit, beberapa jomblo lebih sibuk bergerilya menyapa para mantan. Dengan modus operasi ucapan selamat lebaran dan maafkan kesalahanku selama kita berpacaran, ini salah satu cara mencari peruntungan siapa tau ada yang melempar senyuman dengan sebait kenangan terpupuk kerinduan sehingga menimbulkan peluang untuk balikan.

“Seiring kesulitan, pasti ada kemudahan”, begitu pula hari lebaran tidak hanya memberikan tekanan berlebihan pada sikap mental kaum jomblo namun juga memberikan sedikit kesempatan untuk bisa bersalaman dengan para mantan, pacar orang lain, dan istri orang lain. Setidaknya, sedikit mengisi kekosongan di sela-sela jari yang berdebu dan terdapat sarang laba-laba akibat sudah sekian lama tak bergandengan tangan.

Akhirnya saya harus menyerukan untuk kaum Jomblo, bersatulah! Rebutlah jodohmu dari tangan mertua kapitalis yang mematok angka tinggi untuk uang lamaran dan biaya resepsi. Teruslah berjuang dan semoga di hari lebaran, kamu temukan jodohmu dengan kualitas yang hampir mendekati Nissa Sabyan.

Comments

comments