Manjur, Begini Langkah agar Timnas Masuk Piala Dunia

Di balik kelincahan para pemain yang berlaga di piala dunia Rusia, ada banyak sekali kerja multi-pihak di belakangnya. Terutama mereka yag bekerja dalam senyap untuk mengasah potensi para pemain-pemain tangguh itu. Yang tak cuma pandai menggiring tetapi juga berakting macam Neymar, atau yang tak cuma jago mencetak pundi-pundi goal tetapi juga pintar menambah pundi-pundi amal macam Mbappe. Semua pemain tadi tidak lahir dari butir Kinderjoy yang mabelasribuan itu. Tetapi melewati proses panjang yang melelahkan dari keluarga hingga regulator sepakbola di negaranya masing-masing.

Jadi agaknya kita berdosa jika mengharap sepakbola kita sementereng Jepang (jika sungkan menunjuk Belgia sebagai pembanding) sementara sengkarut sepakbola kita saja tak pernah serius diurus. Ini serupa dengan orang yang tak nyepik tapi berharap jadian. Nonsense brooh.

Yang paling gamblang misalnya saja soal ketua PSSI yang sejak dulu tidak jelas asal usulnya. Baiklah, kita mungkin sudah terbiasa untuk asal tunjuk dalam memilih pejabat bahkan hingga selevel menteri. Mereka jarang sekali diisi oleh seorang ahli, kebanyakan yang duduk diposisi itu dicomot dari politikus strategis partai pengusung presiden, atau pihak yang secara hitung-hitungan politis memiliki daya tawar.

Tapi kan itu menteri, sebuah jabatan yang kinerjanya berada di ruang gelap. Sehingga kita tidak bisa mengukur secara pasti baik buruknya. Paling banter raport mereka dilihat dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan yang hasilnya berupa status Wajar Tanpa Pengecualian itu. Sementara dampak programnya apa terhadap sektor yang jadi ruang lingkup kerjanya sama sekali tak terukur.

Lah kalau ketua PSSI? Ndak bisa gitu, lawong ukuranya jelas e, prestasi Timnas. Atau paling tidak kualitas program untuk melahirkan prestasi-prestasi itu. Maka, ia tentu tak bisa dipilih dengan model kocokan atau anasir-anasir politis macam memilih menteri di atas. Ia harus dipilih berdasarkan kapabilitasnya. Kalau tidak, hasilnya akan seperti ketua yang sekarang ini. Belum melakukan apa-apa di tubuh lembaga sepakbola paling tingggi setanah air itu ia sudah mbabit nyalon gubernur dan sialnya—tampaknya—menang.

Sampai di sini, kalau ada yang menuduh saya sebagai cebong pendukung Djarot yang gagal move on sejak dari Jakarta saya kutuk badanya tetep bau meski sudah mandi. Ini bukan soal politik ndes, ini soal harga diri kita sebagai sebuah bangsa besar.

Ini soal sebab negara seperti Kroasia yang luasnya tak lebih dari dua kali Jawa Tengah saja bisa tampil begitu perkasa di Piala Dunia, sementara kita yang ngablag-ablag negaranya, fans sepakbolanya juga amat militan, justru lebih banyak melahirkan pemain Tiktok macam Bowo, alih-alih pemain bola sekelas Luca Modric.

Untuk itu, salah satunya jalan adalah Edi Rahmayadi, selaku ketua PSSI yang kini menjadi Gubernur Sumatera Utara merujuk hasil Quick Count mesti mundur. Jika tidak, Sahabat Imam Nachrawi saya pikir perlu segera ambil langkah intervensi. Oya kita jangan terlalu banyak berharap sama KONI, isinya mantan Jendral semua, pasti ga enak kalau mau “ganggu mainan” temen. Kwak kwak.

Kenapa regulator ini penting? Sebab dari regulasi yang benar-benar komprehensiflah kita akan memiliki pemain-pemain selincah Eden Hazard, Coutinho, Harry Kane atau mereka-mereka yang bermain di Liga Sekompetitif Premiere League karena iklim pengembangan sepak bola yang baik di masing-masing negaranya. Lah di kita, ada pemain yang merumput di negara tetangga karena usahanya sendiri saja sudah di bilang tak nasionalis oleh petinggi regulator sepak bola kita. Hapaora jancuk iki. Wong mereka ya kalo dipanggil Timnas pasti mudik kok.

Pada kasus lain, Luis Milla, pelatih kepala Timnas kita, pernah mengeluh soal minimnya juru gedor di lini depan Timnas. Menurutnya, penyerang lokal kita tak memiliki waktu bermain yang cukup sehingga kemampuannya tak kunjung berkembang. Padahal kita tahu, sepak bola bukanlah permainan menggiring bola ke sana kemari tanpa mencetak gol sebagaimana sering diperagakan Spanyol. Sepakbola adalah soal bertahan seperlunya, lalu menempatkan pola di bagian gawang yang tak bisa dijangkau kiper. Itu saja.

Dalam kasus seperti yang disinggung Luis Milla, sebenarnya, PSSI (bersama operator liga) bisa membuat aturan ketat soal pembatasan jumlah striker asing atau mewajibkan klub memiliki striker muda, sehingga Timnas nantinya tak menjadi macan eh Garuda ompong. Awas kalo engga!

Comments

comments