Marlina; Dua Sisi Realita yang Tampil Tanpa Malu-Malu

“Terus saya harus bagaimana?” – Marlina

Ada pencapaian tertentu yang ingin dicapai atas lahirnya sebuah karya. Menyampaikan pesan, meningalkan kesan,–dan yang paling umum–, memberikan hiburan. Film dengan judul internasional Marlina – The Murderer in Four Acts ini merangkap ketiga elemen tersebut. Disampaikan secara perlahan dan memastikan bahwa kesemuanya membekas.

Ada perasaan campur aduk setelah durasinya berakhir, tak banyak karya yang mempunyai kemampuan sedemikian rupa. Menyimak kehidupan Marlina (Marsha Timothy) yang senyap di tanah Sumba. Sampai pada suatu hari kesenyapan itu berakhir karena Marlina kedatangan seorang berandal bernama Markus yang bermaksud merampok harta serta kehormatannya. Entah karena beruntung atau malah petaka, Marlina berhasil membalikkan keadaan dengan membunuh Markus serta empat anggota gangnya.

Lepas dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya, kehidupan Marlina berubah 180 derajat. Dihantui secara mental oleh mendiang Markus dan dikejar sisa gerombolannya. Marlina – SPD4B, jelas bukan film biasa. Walaupun mengangkat tema feminisme tapi tidak serta merta menjadikan filmnya seperti Kill Bill Vol. 01 & 02 dengan karakter female badass atau wanita yang gemar meratap seperti dalam sebuah sinetron. Marlina ada diantara itu, tidak over the top, dia tahu pasti bagaimana bersikap.

Durasinya bergulir tenang, tiap momen dibangun dengan apik, membuahkan punchline berefek tahan lama. Bahkan beberapa bagiannya terasa absurd, canggung, tabu dan terkesan surreal. Sulit dipercaya apa yang dilihat. Sehingga film yang digandrungi masuk ke ajang penghargaan tertinggi perfilman dunia a.k.a 91st Academy Oscars (Oscar 2019) ini akan terasa sangat menantang bagi penonton film arus utama.

Selain itu, filmnya pun bermain di ranah yang tak asing bagi penonton lokal dan dibahas dengan lugas. Katakanlah seperti daerah timur Indonesia yang jarang diperhatikan oleh pemerintah kota. Atau kinerja suatu lembaga negara,–dalam hal ini kepolisian–, yang di-delivery dengan kocak. Momen ketika Marlina menunggu untuk “ditanyai” sambil menyaksikan anggota Polisi beradu kemampuan bermain ping-pong misalnya, atau saat ia ingin melaporkan kejadian yang menimpa dirinya, ada sesuatu yang bergejolak di situ, sesuatu yang memberikan kesan mendalam. Dan masih banyak lagi kritik sosial yang disampaikan filmnya, yang terlalu sayang jika saya jelaskan.

Dialog yang saling ditukarkan antara Marlina dan petugas polisi tak sekedar sebagai media komunikasi belaka, tetapi juga sebagai alat penguat makna. Dengan konteks yang pas, pesan tersampaikan dengan baik. Sehingga tak melelahkan untuk disimak. Bahkan dalam lingkup komedi sekalipun. Ya! Komedi adalah bagian tak terduga dari filmnya. Tak cuma ada untuk mencairkan suasana. Walaupun banyak diisi dengan dark comedy (Komedi Tabu) namun tetap terasa relevan.

Sebut saja ketika dua tokohnya sedang jongkok buang hajat, dan diiringi dengan obrolan tentang hubungan suami-istri dari sudut pandang wanita, yang kemudian diteruskan dengan salah satu disturbing moment yang paling melekat di sepanjang durasi. Sontak penonton bingung harus bereaksi seperti apa. Atau adegan saat salah seorang karakternya terlalu lama menghunus Kabeala (Parang Pinggang) ke leher supir truk, dan salah satu penumpang truk nyeletuk berkomentar. “Eh, tak pegal kah kau punya tangan?”

Dari segi teknis, Marlina – SPD4B tidak kalah uniknya. Semua adegan diambil dengan wide-steady-shot. Kamera tak banyak bergerak, dan mengambil gambar secara penuh. Sehingga memberikan sutradara Mouly Surya (Fiksi., Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta), kesempatan untuk menggunakan seluruh tata lokasi, dan memberikan penonton ruang pandang yang utuh juga.

Dengan dukungan sinematografi arahan Yunus Pasolang (Headshot, Pasukan Kapiten, Catatan [Harian] si Boy), potret alam Sumba pun diabadikan dengan cantik. Bukit, padang rumput, laut, bahkan langitnya. Banyak frame yang pas jika dijadikan wallpaper.

Skoring karya Yudhi Arfani (Fiksi., Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta) dan Zeke Khaseli (Fiksi., Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta) sangat mengagumkan, seolah punya nyawa tersendiri. Nafasnya selaras dengan kondisi karakter. Meninggi ketika karakter mulai tegang, dan mendalu anggun ketika keadaan tenang. Namun tak bisa ditampik, dibeberapa adegan audio terkesan menyaingi dialog karakter, sehingga terasa tumpang tindih.

Sulit jika ingin mencacati Marlina: The Murderer in Four Acts. Karya dalam negeri yang unik ini adalah benar sebuah sajian yang kuat. Pesan, kritik subtil tentang keadaan negeri ini, pengembangan tokoh yang mumpuni, gerakan kesetaraan perempuan, dan keseimbangan di tiap penyampaiannya, dirasa sangat baik.

Marsha Timothy (Wiro Sableng 212, Modus Anomali, The Raid 2: Berandal) sebagai sentral cerita berhasil menghidupkan karakter Marlina. Senyum, diam, dan tatapan matanya menyimpan banyak makna. Bahkan sampai ke level mengalahkan Nicole Kidman di ajang pernghargaan Suetges Film Festival Germany (2017) untuk kategori Aktris Terbaik. Pun posisi Dea Panendra (Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak adalah debut layar lebarnya) sebagai Novi tidak terkesan sebagai sisipan begitu juga Yoga Pratama (Bisa Naik Bisa Turun, The Window, Lima) sebagai Franz yang menyebalkan, kehadiran tokoh-tokoh tersebut berkontribusi terhadap perkembangan cerita.

Singkat kata, sayang jika melewatkan karya lokal yang kualitasnya sudah mendunia ini. Sungguh pengalaman yang mengesankan. Layaknya koin taruhan Harvey Dent dari The Dark Knight (2008) yang satu sisinya telah terbakar, begitu juga film ini. Tak ada yang ia tutupi, begitu juga hendaknya penonton, menerima kedua sisinya. Karena sulit menerima sisi baiknya, tanpa bertahan dengan sisi “mengganggu”nya. Semoga perjalanan Marlina di Oscar 2019 nanti menuai hasil terbaik.

#MarlinaGoesToOscar (Score 5/5)

Comments

comments