MATINYA KAUM MUDA: Sebuah Otokritik Perjuangan

Jalan perubahan itu gelap kehilangan cahaya, akibat tidurnya nalar kaum muda (Quotes)

Sebuah diksi puitis, kritik untuk kaum muda yang terlena dalam nina bobo kejumudan. Sejarah tinggalah sejarah, hanya menjadi kenangan masa lampau dan cerita mewah, bukan lagi menjadi cambuk semangat. Tulisan – tulisan tentang gegap gempitanya gerakan perubahan yang di galang oleh kaum muda makin menjadi fiksi dan kisah legenda. Karya – karya kritis yang membakar pemikiran hanya menjadi bekal perdebatan dan perang retorika para aktivis. Semua demi eksistensi diri saja.

 

Kaum muda kehilangan identitas, bingung dengan tugasnya, tak tau arah berjalannya, tak faham fungsinya. Mereka disibukan dengan segudang aktivitas materil. Aktivis mahasiswa sibuk memperbesar nilai kuliah dan mencari kekuasaan, pemuda sibuk cari kerja dan memperkaya diri. Sebuah ironi sejarah dan keadaan. Kaum muda mati, terlena oleh gelap gemerlapnya kemajuan zaman, tangan tak lagi terkepal mengangkat perlawanan, mulutnya tak lagi bertriak terbungkam. Tak ada lagi istilah agent of change yang berarti kaum muda adalah kunci terjadinya perubahan, tak ada lagi istilah agent of sosial control yang berarti kaum muda adalah pengawas keadaan bangsa, tak ada lagi istilah iron stok yang mendaulat pemuda sebagai ketersediaan pejuang dan pemimpin bangsa, dan tak ada lagi istilah guardian of values yang membaiat pemuda sebagai penjaga nilai – nilai luhur bangsa dan nilai–nilai keadilan.

 

Kaum muda sirna , tenggelam oleh arus keadaan dan kesenangan, kaum muda lenyap tertidur dengan mimpi utopis dan sikap oportunis, kaum muda tak lagi melawan, kaum muda kini tak lagi menjadi tiang bangsa, tapi menjadi beban bangsa. Kamu muda tak lagi ambil bagian dala sejarah perubahan, mereka justru ikut dalam bagian kedzoliman bangsa. Kaum muda menjabat, dan yang muda yang korupsi. Kaum muda memimpin dan kaum muda yang menindas. Moral dan idealisme tak lagi menjadi jiwa kaum muda.

 

Sedangkan keadaan bangsa semakin memburuk, negeri salah urus, pemerintahan salah orang, Ekonomi carut marut, moral hilang, pejabat korupsi, negara sekarat tak berdaulat, rakyat semakin miskin, harga BBM naik, harga sembako melambung, pendidikan mahal, dan bangsa semakin hancur lebur terjajah oleh kapital bernama asing, terjual oleh anak terbaik dan terpilih bangsa ini. Keadaan kritis nyatanya tidak sama sekali mengusik sanubari kaum muda untuk bergerak dan naluri mahasiswa untuk berteriak. Kini entah pada siapa bangsa menyandarkan harapan, ketika kaum muda yang menjadi harapan bangsa tak lagi dapat di harapkan.

 

Permasalahan bangsa kian menumpuk, problem negara semakin menggunung, rakyat makin menderita, yang miskin tak dapat kerja, uang jadi modal kekuasaan, janji jadi modal memimpin, rakyat di tindas, korupsi membudaya, utang menumpuk, aset bangsa terjual, harga diri bangsa terkangkangi, dan kaum muda diam.

 

Problem bangsa tidak lagi menjadi pembicaraan dalam lingkar – lingkar obrolan kaum muda. Penindasan tidak lagi menjadi satu sayatan pada nurani mereka untuk bergerak melawan, tangisan rakyat tidak lagi menjadi alasan kongkrit kaum muda untuk turun kejalan meneriakan tantangan perang untuk penguasa jahat. Mereka sibuk menata masa depannya sendiri. Mereka sibuk merencanakan mimpi, mimpi–mimpi oportunis , mimpi–mimpi utopis , tanpa gerakan nyata.

 

Kaum muda tak lagi akrab dengan gerakan, gerakan turun jalan di anggapnya suatu hal yang sia – sia, menjadi aktivis di anggap suatu hal yang tak guna, berdiskusi tak disukai, bicara bangsa tak di pahami, dan parahnya kaum muda hari ini memilih menjadi penikmat ketidak adilan.

 

Matinya kaum muda akibat matinya kesadaran, di matikannya kaum muda dengan cara di bunuhnya kesadaran dan di batasinya kreatifitas berfikir dan bertindak oleh formalisme. Rasa cinta bangsa di batasi oleh tulisan resmi bertajuk pengakuan ber–ruh feodalGloria seorang pasukan pengibar dwi warna bendera pusaka dalam rangka merayakan berkurangnya sisa umur bangsa di usir dari barisannya karna bukan darah murni indonesia. Sebuah ketimpangan keharusan dan cerita, manakala mencintai dan berbuat untuk bangsa terbatasi oleh dimensi selembar kertas pengakuan, sedangkan para pemuda dengan pengakuan penuh tidak berbuat apapun untuk bangsa. Dan sebuah ironi mana kala yang berbuat tanpa butuh pengakuan di buang, dan anak muda berdarah murni bangsa tak berbuat namun mencari pengakuan di beri singgasana mewah. Sungguh sebuah ke bebalan.

 

Belenggu perubahan nampak jelas tersingkap, nalar bebal dan di bunuhnya kesadaran, sebuah kenyataan yang kompleks. Esensi tak lagi menjadi yang utama, persepsi menjadi racun dan penyakit, pengakuan dan eksistensi menjadi ambisi,dan kekuasaan menjadi tujuan, maka fakta telah jelas bahwa kaum muda mati dan di matikan, terbunuh setelah bunuh diri. Maka hilang lah masa depan bangsa.

 

Menukil satu prasasti kata dari pendiri bangsa:

berikan aku 1000 orang tua maka akan ku cabut gunung semeru sampai ke akar – akarnya, Berikan aku 10 pemuda, maka akan ku guncang dunia

Sebuah diksi hiperbolik yang menegaskan bahwa kaum muda yang dapat menjadi penggerak perubahan besar. Dan ada satu amanat dan harapan besar yang di tumpukan di pundak kaum muda oleh para pendiri bangsa. Tidaklah berlebihan, mengingat kaum muda merupakan kunci dari masa depan bangsa.

 

Harapan para pendiri bangsa adalah sebuah cita–cita besar masa depan, dan telah jelas semua di pasrahkan kepada kaum muda. Mimpi yang belum usai dalam pencapaiannya itu hanya akan menjadi imaginasi manakala kaum muda bertahan dalam kejumudan berfikirnya. Dan akan menjadi nyata apabila kaum muda bergegas tersadar dari mimpi dan tidur nya.

 

Bagaikan pendulum kaum muda adalah magnit grafitasi penyeimbang pendulum, sebuah bangsa tidak akan berjalan dalam track yang benar jika tidak ada penyeimbang. Maka tidak berlebihan jika di katakan bahwa kaum muda adalah penyeimbang bangsa yang akan senantiasa mejadi control para pekerja negara. Namun tidaklah kaum muda bisa menjadi pendulum penyeimbang bangsa manakala tetap pada keadaan yang sama hari ini, tetap bertahan pada titik kejumudan, tetap tidur dengan mimpi–mimpi utopis dan berjalan dalam bingkai egosentrisme individual.

 

Sebuah bangsa yang kehilangan peran kaum muda bagai kapal kehilangan navigator, tak tau arah mana yang akan di tuju, tak tau pulau mana yang layak di singgahi. Tak ayal bangsa ini terjebak pada keadaan kritis, terkangkangi oleh kaum jahat, akibat kaum muda tak lagi menjadi control mereka. Begitu pentingnya peran kaum muda yang kini sudah mati.

 

Tak lagi bisa di hindari, takdir sebagai kaum muda dengan tanggung jawab dan amanah masa depan bangsa adalah sebuah pecutan bagi kita kaum muda untuk segera merapatkan barisan perlawanan, untuk bangun dari tidur, dan bangkit dari kematian nalar. Bangsa telah memanggil, rakyat sudah tak sanggup menunggu.  Hanya kaum muda satu–satu harapan negara bangsa.

 

 

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.