Memperingati Hari Al Quds Sebagai Upaya Merawat Kemanusiaan

Hari Al Quds Sebagai Upaya Merawat Kemanusiaan

Hari Al Quds Sebagai Upaya Merawat Kemanusiaan. Hari ini—Jum’at terakhir bulan Ramadan, adalah hari yang disebut Yaumul Quds. Hari Al Quds. Setiap hari Jum’at terakhir Ramadan muslim di berbagi penjuru dunia diharapkan beramai-ramai menyerukan penghapusan penindasan. Terutama pada apa yang menimpa Palestina oleh Israel. Derita dan penindasan yang menghantui Palestina adalah ancaman nyata yang bisa terjadi pada negara-agama manapun jikasaja cara-cara kekerasan tidak dilawan. Pada semangat yang demikianlah Yaumul Quds diperingati. Sebagai solidaritas dunia pada siapapun yang tertindas.

Tapi sebelum kita membahas lebih jauh, sudah taukah Antum tentang sejarah Al Quds itu? Ingat kata Bung Merah: Jangan Pernah Lupakan Sejarah!

Hari Jum’at terakhir di setiap ramadan pertama kali dicetuskan sebagai yaumul quds pada tahun 1979. Dan siapakah pencetusnya? Iyakni Imam Khomeini, pemimpin revolusi Iran yang terkenal itu. Tentu saja dicetuskannya di Republik Islam Iran. Haiyak, Iran yang negara Syiah bukan Islam itu.

Sampai di sini, mungkin, bagi sebagian orang menjadi amat dilematis: turut memperingati Al Quds sebagai upaya solidaritas terhadap Palestina atau menolaknya karena pencetus gerakan itu adalah Iran, si negara Syiah bukan Islam. Bagi sebagian orang pula, mengetahui bahwa Iran telah sejak lama bersolidaritas terhadap Palestina akan sama kagetnya seperti saat saya tahu bahwa Chelsea Islan sedang dekat dengan Bastian CJR. #panubabi!

Akan lebih kecele lagi kalau tahu di negeri Syiah bukan Islam itu, ratusan ribu orang kompak turun ke jalanan ibukota meneriakkan “Death to Israel” di hari Al Quds ini. Sambil presidennya tanpa tedeng aling-aling bilang: Israel must wiped off the maps (sengaja saya kasih “s” untuk menegaskan bahwa itu berlaku di peta bumi datar dan bumi bulat. Jamak). Lakok Syiah bukan Islam mbela Palestina sih?

Terang ini membingungkan, karena kalkulasinya jadi begini: Iran memusuhi Israel, sementara ada kelompok muslim yang memusuhi Iran. Jangan-jangan sebenernya mereka, yang memusuhi iran, itu temennya Israel? Entah!

Tapi saya sarankan, antum tidak berpikir sesimpel itu. Sebaris dalam satu kondisi bukan berarti mereka berteman. Harusnya pun sebaliknya. Tidak bersepakat dalam satu hal bukan berarti harus bermusuhan.

Perkara melawan kebengisan Israel terhadap Palestina itu bukan tanggungjawab Iran semata. Pun juga bukan hanya tugas mas-mas yang mengusir jemaat Ahmadiyah dengan kebengisan yang tak kalah kejinya. Kemerdekaan adalah tanggungjawab kita bersama dalam kerangka menjaga kemanusiaan. Sehingga demikian, kebengisan, dengan dalih apapun terhadap siapapun itu, adalah tindakan melawan kemanusiaan yang mesti dihilangkan.

Dan dalam kaitanya dengan Palestina, Iran telah meletakkan hal yang patut kita dukung. Tapi kalau masih gengsi turut serta meramaikan Al Quds karena pencetusnya Iran maka tidak ada salahnya menyimak kembali pidato Imam Khomeini, 7 Agustus 37 tahun lalu. “Saya menyeru seluruh kaum muslimin di dunia untuk menjadikan Jum’at terakhir bulan Ramadan sebagai hari Al Quds. Dan melalui demonstrasi solidaritas kaum muslimin sedunia mengumandangkan dukungan mereka atas hak-hak rakyat muslim.

Lebih lanjut Sang Imam juga menyinggung bahwa sebagai hari persatuan, Al Quds bukan hanya menyatukan kaum muslim, tetapi juga semua manusia yang menginginkan kedamaian dan kemerdekaan. Termasuk penduduk Israel.

Perlu diketahui bahwa konflik Palestina ini bukan soal penduduk negara melawan negara yang lain, melainkan melibatkan persoalan politik global yang tak sederhana. Di Israel sana juga banyak penduduknya yang menolak tindakan sewenang wenang militer Israel pada penduduk Palestina.

Ini wajar karena  memang kekajaman tentara  Israel sudah kelewat  batas  sehingga  tak  segan menembaki penduduk  sipil  yang  tak bersenjata sekalipun. Dalam periode  1987-2011 saja ada  lebih  dari 7.978 korban tewas dan 1.620 di  antaranya masih  anak-anak. Jumlah tersebut akan meningkat drastis jika ditotal hingga hari ini, dimana pada 2014 saja, sebagaimana disebut OCHA (office for the cordination of humanitarian affairs), terdapat 1.500 korban meninggal. Itu adalah jumlah paling banyak sejak kecamuk berlangsung.

Hingga hari ini kekejaman itu belum berakhir dan entah berapa nyawa lagi harus terenggut, berapa keluarga lagi musti kehilangan rumah, berapa raga lagi terluka. Setelah pemerintahan disandera dan tanahnya dirampas, agaknya pada solidaritas kitalah Palestina berharap. Semoga rasa kemanusiaan masih lebih penting daripada ego komunal.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.