Menilik Perjalanan Secangkir Kopi

Kalian pasti sudah familiar dengan berbagai brand kopi instan yang iklannya sering muncul di televisi, atau selalu menggantung di sudut warung kelontong sebelah rumahmu, atau sekedar kopi olahan lokal daerahmu yang berjejer di lapak pasar tradisional dibungkus plastik sederhana yang sering tak bermerek. Bagi kalian semua yang setia dengan jenis kopi ini, kalian masihlah berada dalam era first wave of coffee. Apa itu? Itu adalah sebutan untuk era di mana kopi masih merupakan jenis minuman untuk dikonsumsi saja.

Dilansir dari laman coffetalk.com, sebuah artikel berjudul The Future of Specialty Coffee and The Next Wave yang ditulis oleh  Timothy J. Castle menyebutkan bahwa hingga kini ada tiga era tentang industri kopi yaitu first wave, second wave, dan third wave. Era first wave adalah ketika publik mengenal bubuk kopi yang dijual dalam kemasan bermerek dagang sebagai minuman yang mengandung kafein untuk mengusir rasa kantuk ketika sedang mengerjakan tugas-tugas kantor atau sekadar melepas penat setelah seharian berjibaku dengan rutinitas.

Lalu memasuki era second wave di mana beberapa merek dagang mempromosikan espresso sebagai bentuk penyajian kopi yang sophisticated ala Italia. Dengan menggunakan mesin kopi bertekanan tinggi menjanjikan inti kopi yang kental dengan lapisan crema di atasnya. Ini adalah awal dari propaganda bahwa menikmati kopi haruslah di luar rumah, mengunjungi kafe dengan berbagai suasana yang akan membuat kamu betah berlama-lama sembari menikmati pilihan menu kopi transnasional seperti espresso, cappuccino, latte, atau sekedar americano.

Namun, bagi kelompok marjinal arus bawah, amatlah sulit untuk bisa menikmati apa yang disebut dengan espresso, bahkan mendengar namanya saja mungkin ada yang belum pernah. Beras dan ikan asin lebih penting dari sekedar urusan cita rasa dan aroma kopi. Cukuplah bubuk kopi antah berantah dan sesendok gula setia menemani, asalkan hitam pekat saja sudah membuat bahagia maka bubuk kopi mana lagi yang kamu dustakan.

Belumlah cukup uang tabungan kita untuk bertandang ke second wave coffeeshop, masuklah kita ke era third wave. Era dimana kopi bukan sekedar barang komersil tapi merupakan objek penelitian bagi para pecinta kopi. Menelusuri dari perkebunan mana biji kopi berasal, varietas apa, ketinggian lahan tanam, proses panen, dan bagaimana proses roasting  merupakan bahan diskusi yang menggema di bilik-bilik kafe yang menyajikan specialty coffee. Ini adalah sebutan untuk biji kopi premium berkualitas tinggi yang didapat dari proses seleksi ketat berstandar internasional.

Era third wave juga memperkenalkan berbagai cara menyeduh kopi dengan metode manual, menggunakan biji kopi yang sama bisa menghasilkan cita rasa yang berbeda tergantung dari metode penyeduhannya. Dengan proses penyeduhan yang manual dan tidak dimonopoli oleh pemilik coffee machine saja, maka muncullah kedai kopi yang menyasar konsumen dengan kocek pas-pasan seperti mahasiswa atau pegawai bergaji standar UMR. Pastinya dengan kualitas biji kopi yang lebih rendah dan informasi yang kurang lengkap daripada specialty coffee, setidaknya kita tahu bahwa negara kita memiliki beragam jenis kopi seperti kopi Aceh Gayo, Flores, Mandailing atau Jember.

Hal positif di era third wave ini adalah munculnya apresiasi terhadap petani kopi dan kompleksitas proses pengolahan kopi, termasuk beberapa jenis kopi di Indonesia memiliki kualitas tinggi dan diakui di kancah pecinta kopi internasional. Sebuah tantangan bagi para petani kopi untuk terus meningkatkan mutu dan kesempatan meningkatkan taraf hidup. Sebuah kesempatan pula bagi para pemuda peminum kopi yang memiliki minat belajar lebih dalam tentang dunia kopi.

Dan bagi kamu yang masih harus mengatur neraca keuangan jangan berkecil hati, menjamurnya kedai kopi khusus proletar tetap memberi kamu kesempatan untuk menikmati manual brewed coffee ditemani alunan lagu “Akad” atau sekedar rintik hujan yang menyampaikan tetesan rindu. Mengolah rasa untuk tahu bahwa hidup adalah seperti secangkir kopi, pahit dan manis bercampur menjadi sebuah cita rasa kenikmatan.

Bukan tentang kopi premium, kopi gilingan atau kemasan sachet, yang lebih penting adalah bagaimana kita menghargai setiap kepulan aroma kopi yang kita hirup merupakan hasil jerih payah petani. Karena dalam secangkir kopi yang kita nikmati terselip perjuangan dan pengharapan akan cerahnya masa depan.

“Apa yang lebih penting dari menyeduh kopi untuk orang lain? Yaitu menanam kopi” – Ben, Filosofi Kopi 2

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.