Menjadi Tidak Apa-Apa Itu Tidak Apa-Apa

“No one feels okay or all right about the loss”. 

Menyoal kehilangan, saya rasa tidak ada yang baik-baik saja saat menghadapinya. Tidak ada seorang pun yang cengengesan ataupun bahagia saat menemui kehilangan. Mungkin hanya orang-orang tidak waras saja yang begitu. Terlebih ketika kehilangan seseorang yang kita cintai entah itu selepas dikhianati, ditinggal mati, ataupun rabi.

Memang kenyataannya kehilangan adalah sebuah keniscayaan yang menyakitkan dan bukan perkara mudah untuk menghadapinya. Mau tidak mau, siap atau tidak siap, kita harus menghadapinya.

Setiap individu pun punya reaksi berbeda-beda saat menemui kehilangan dan butuh waktu yang berbeda-beda pula untuk bisa menerima kenyataan dan mengikhlaskannya. Intinya setiap individu punya kopingnya masing-masing.

Wajar saja karena manusia memang cenderung mempunyai kadar keterikatan atau “seolah-olah benar-benar memiliki terhadap sesuatu” yang tinggi. Padahal kita cuma dititipi, bukan benar-benar memiliki. Memang sebuah paradoks, merasa kehilangan sesuatu, sementara kita, tidak pernah benar-benar memiliki.

Saat kehilangan tiba, seseorang bisa menyandang gelar manusia melankolis sekalipun. Saya rasa cukup wajar dan manusiawi karena memang kehilangan diciptakan satu paket dengan kesedihan dan kekecewaan.

Manifestasi dari kesedihan dan kekecewaan itu pun beragam. Ada individu yang mengekspresikan kesedihannya dan kekecewaannya secara gamblang di sosial media (sosmed) dengan update story berlatar belakang ternit rumah  plus backsound lagu super galau disertai tulisan kecil-kecil sekecil bakteri E colli.

Ada yang membuat status maha galau di seluruh platform sosmednya atau hanya sekadar menyimak akun-akun motivasi. Ada pula yang memilih menyendiri di kamar, menangis sesenggukan, dan bahkan ada yang mengalihkan fokus dengan memilih menulis sebagai pelariannya. Ada-ada saja pokoknya. Itu baru sepersekian contoh. Tidak jarang juga suicidal thought muncul pada beberapa individu setelah kehilangan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal-hal tersebut. Poin penting yang harus diketahui adalah that’s okay not to be okay. Menjadi tidak apa-apa itu tidak apa-apa. Bahkan saya rasa, mereka-mereka yang berani mengungkapkan kalau mereka tidak baik-baik saja, jauh lebih baik daripada mereka yang berpura-pura baik-baik saja.

Galau is much better than sok strong broh! Mereka hanya butuh waktu untuk terbiasa dengan ketiadaan sosok yang hilang dan menjalani hidup kembali normal.

Nah, ternyata, untuk sampai tahap menerima kehilangan dan mengikhlaskannya atau move on dari sosok yang hilang,  seseorang mengalami beberapa tingkatan emosional. Menurut Elizabeth Kubler Ross, ahli psikologi, seorang yang kehilangan itu akan mengalami “five stages of grief/loss” yaitu denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance.

Teori ini bisa dikaitkan untuk meng-cover berbagai macam kehilangan, baik kehilangan sesuatu yang berharga ataupun seseorang yang kita cintai entah itu orangtua, saudara, sahabat, ataupun pacar. Mari kita coba identifikasi satu per satu teorinya mba Ross ini.

Untuk yang sudah pernah mengalaminya, kalian bisa saja manggut-manggut karena “Wow, that’s me a lot at that time!”. Nah, bagi yang belum ataupun menemui orang terdekat yang sedang menghadapi kehilangan, semoga bisa lebih mengerti dan mengendalikan diri.

So, let’s check it out:

  1. Denial (Penyangkalan)

Denial adalah fase awal selepas kehilangan. Tidak mempercayainya dan berupaya untuk menolak kenyataan. Contoh pada kasus kehilangan kekasih selepas dikhianati, ybs tentu saja syok dan tidak mempercayainya. Kurang lebih, penyangkalannya dimanifestasikan dengan pernyataan “ini tidak mungkin terjadi”, “aku ngga percaya, ini pasti cuma mimpi”. Ybs ini menganggap realita itu bohong, tidak benar adanya. Tahap ini berlangsung pada minggu-minggu pertama pasca kehilangan.

  1. Anger (Kemarahan)

Setelah fase penyangkalan, seseorang yang berduka tadi mengalami fase anger (kemarahan). Fase ini terjadi setelah seseorang yang kehilangan tadi merasa lelah dengan penyangkalan yang dilakukan. Ybs akan mulai sadar bahwa penyangkalan tidak mengubah apapun dan akhirnya berujung pada keputusasaan/frustasi. Frustrasi dengan penyangkalan membuat seseorang itu marah. Mengutuk kenyataan dan menganggap apa yang terjadi tidak adil dan semesta tidak pernah memihak kepadanya.

  1. Bargaining (Penawaran)

Setelah kemarahan itu reda, ybs mengalami fase bargaining (penawaran). Pada fase ini ybs mencoba bernegosiasi dengan keadaan. Pengandaian muncul pada fase ini. Mereka akan berandai-andai untuk melakukan sesuatu agar tidak mengalami kehilangan. Misalnya, “seharusnya dulu saya tidak sibuk main Mobile Legend setiap ketemuan, jadi doi tidak marah dan mutusin saya”.

  1. Depression(Depresi)

Depresi yang dimaksud di sini bukan mental illness. Bukan. Depresi di sini dianggap sebagai respon yang sangat wajar setelah kehilangan. Pada tahap ini ybs akan menarik diri dari sosial. Fokus terhadap keadaan sekitar nihil. Ybs cenderung untuk menyendiri, sedikit bicara, banyak diam. Meskipun begitu, rasioanalisasi pada tahap ini sudah mulai bekerja. Ybs sudah menyadari bahwa kenyataan itu benar adanya tanpa ada pernyangkalan lagi.

  1. Acceptance (Penerimaan)

Fase ini adalah fase akhir dimana emosi ybs mulai stabil dan mulai bisa menerima kenyataan dengan ikhlas. Ybs akan baik-baik saja ketika mengingatnya tanpa ada rasa sakit, kecewa dan marah. Ybs mulai bisa menjalani hidup seperti sedia kala. Fokus terhadap sosok yang hilang mulai terkikis dan mulai tergerak untuk bangkit dari keterpurukan atau move on. Setiap individu mempunyai waktu yang berbeda-beda untuk sampai tahap ini. Ada yang butuh berbulan-bulan, ada juga yang butuh bertahun-tahun.

Kelima fase tersebut tidak selamanya berjalan runtut. Terkadang juga ada yang stuck di fase tertentu atau kembali lagi ke fase-fase awal dan tidak bisa melampaui tahap akhir. Disitulah kita sebut gagal move on.

Memang dibutuhkan pengendalian diri yang kuat untuk bisa sampai ke fase akhir. Sulit memang, tapi yakinlah kita pasti bisa.

Ketika kita sudah di fase terakhir, beban kita akan semakin ringan. Menerimanya dengan ikhlas jauh lebih baik dibandingkan menolaknya. Karena menolak apa yang telah digariskan dan tidak bisa kita ubah jauh lebih menyakitkan.

And at the end, konsep unik Tuhan yang perlu dipahami adalah Ketika Tuhan ingin memberikan kebahagian, maka Dia timpakan kesedihan. Pun jika Tuhan ingin memberikan yang lebih baik, maka Tuhan pun ambil yang baik.

Comments

comments