Menjaga Nalar di Tengah Badai Gosip Politik

Sesaat setelah kedua pasangan capres diumumkan, kedua kubu yang memang sejak awal telah terbagi menjadi dua poros, langsung beramai-ramai membuat opini politik. Meski kita lihat yang keluar hanya sekadar gosip politik, alih-alih opini sehat.

Lihat saja beranda media sosial kita, ramai terlihat orang-orang yang membagikan artikel, foto, atau meme yang intinya adalah olok-olok pada lawan politik atau sanjung puji pada tokoh dukungannya. Begitu pula kolom komentar pada berita yang bersinggungan dengan politik atau tokoh politik. Dan kira-kira itu akan terus berlangsung hingga pelantikan presiden terpilih 2019 mendatang, atau malah sama sekali tak bisa berhenti.

Kondisi yang demikian dapat terjadi dan mewabah oleh adanya pandangan politik yang menempatkan sosok lebih tinggi—atau paling tidak sepadan—dengan nilai. Sehingga seringkali mati-matian mendukung sosok, seolah tak pernah luput, juga membenci sosok, seolah tak pernah benar.

Pandangan tersebut tentu beracun, pasalnya jika dalam suksesi politik yang terpilih bukan dukungannya, ia akan terus berpikir negatif perihal bangsanya, tindak-tanduk pemimpinya, dan lain sebagainya. Dan jika cara pandang seperti ini diamini sebagian besar masyarakat, maka ini akan menjadi kontraproduktif bagi cita-cita bersama: pembangunan ekonomi guna kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Isu politik kita hari ini didominasi dengan hal yang jauh dari kata martabatif. Begitupun standar yang dipasang pada tokoh politik kita masih amat rendah. Misalnya saja yang berkembang di tengah masyarakat sebagai alasan mendukung adalah opini bahwa tokoh ini bersih, jujur, merakyat. Atau tokoh itu berwibawa, tegas, dan pemberani. Atau yang lebih parah, tokoh ini lebih ganteng/cantik dari tokoh itu. Alasan-alasan tersebut dikonstruk sedemikian rupa oleh beberapa elit partai sehingga edukasi politik yang sampai pada masyarakat menjadi amat rendah standarnya.

Padahal kalau kita boleh jujur, sifat seperti berani, jujur, bersih, merakyat, tegas, dan lain sebagainya memanglah prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh calon pemimpin. Sama sekali bukan keunggulan kompetitif. Memilih seorang calon pemimpin karena ia dinilai berani, nasionalis, bersih, jujur, merakyat itu sama halnya kita memilih sepeda motor karena rodanya dua, ada knalpotnya, dan spionya bisa untuk melihat kondisi di belakang kendaraan. Sama sekali tak substansial karena memang seharusnya ya begitu.

Memilih karena rekam jejak dan visi

Seharusnya pertimbangan memilih siapa calon pemimpin adalah soal rekam jejak dan visi misinya. Juga misalnya program-program yang akan dijalankan. Terdengar klise memang, tapi itulah cara paling masuk akal dalam menimbang tokoh politik. Dari situ kita bisa melihat, akan seperti apa saat dia memimpin nantinya. Seperti apa arah kebijakannya, program prioritasnya, serta keberpihakannya. Tentu dalam perjalanannya tidak akan semulus yang kita kira, sebab politik itu dinamis, tetapi paling tidak langkahnya tidak akan jauh dari dua hal tadi: rekam jejak dan visinya.

Ini sekaligus menjadi pengingat, bahwa politik itu tidak melulu hitam putih, melainkan penuh kompromi dan lobi-lobi. Oleh karenanya, dalam menempatkan dukungan pun kita tak perlu memasang harga mati pada tokoh atau partai tertentu. Ini agar kita tetap bisa menjaga nalar sehat, dan tak sampai saling memusuhi antar sesama pendukung yang afiliasi politiknya berseberangan dengan kita. Sebab, sekali lagi, politik tak selalu soal benar salah. Hanya soal subjektifitas masing-masing.

Di sisi lain dengan pertimbangan yang logis seperti itu, maka sungguh pun diperlukan diskusi intensif di medsos yang muncul adalah diskusi yang mencerdaskan. Yang bermanfaat bagi lawan maupun kawan, lantaran sajiannya adalah data dan fakta. Bukan diskusi yang menyoal tantangan untuk lomba mengaji, berenang atau berlari antar pasangan capres-cawapres. Lagipula kita ini mau memilih seorang presiden yang kompetensi utamanya adalah mengelola negara dengan kemajemukan budaya dan masyarakatnya. Bukan atlet asian games atau da’i.

Memilah sosok dan nilai

Satu hal mendasar yang tak boleh kita lupakan adalah kenyataan bahwa tak seorang pun yang melulu benar atau terus menerus salah. Ia pasti mengalami keduanya. Salah di satu hal, benar di hal lain. Lewat kesadaran semacam ini tentu kita bisa lebih proporsional dalam memberi dukungan pada tokoh politik. Karena kita tahu sosok dan nilai adalah dua hal yang berbeda.

Sosok adalah tokoh yang kita rujuk, sementara nilai adalah sesuatu yang menjadi tujuan besar dari proses politik tersebut. Sebut saja misalnya, keadilan, kebaikan, kedamaian dan lain sebagainya. Sepanjang sosok yang kita dukung masing berada pada nilai-nilai tadi, tentu tak ada masalah kita dukung, tetapi jika sudah melenceng kita tak boleh sungkan untuk mengkritik.

Pada kasus yang lebih sederhana kita bisa menganalogikan bahwa sosok hanyalah alat atau jalan memperjuangkan nilai. Oleh karenanya jangan sampai kita berhenti pada sosok dan justru lupa pada nilai yang seharusnya kita perjuangkan. Dengan demikian kita bisa jernih melihat dan mendukungnya saat sosok tersebut melakukan tindakan yang benar lalu mengkritiknya ketika keliru (melenceng dari nilai tadi).

Kebenaran relatif

Jika ada seribu orang dikumpulkan untuk memilih ibu terbaik, saya yakin akan memunculkan seribu ibu. Dan jika itu ditambah menjadi sepuluh ribu orang yang dikumpulkan, maka akan memunculkan sepuluh ribu ibu terbaik, yang tak lain dan tak bukan adalah ibu dari masing-masing orang yang dikumpulkan. Mengapa ini bisa terjadi? karena manusia selalu berpatokan pada pengetahuan dan pengalamannya dalam memutuskan sesuatu.

Tentu bukan sesuatu yang sulit baginya untuk mengatakan bahwa ibunyalah ibu terbaik di dunia itu, lantaran pengetahuan dan pengalamannya yang telah dilalui bersama ibunya. Begitu juga dalam persoalan politik. Keputusannya untuk memilih siapa adalah soal pengetahuan dan pengalaman masing-masing, maka menjadi sulit—untuk tak mengatakan mustahil—menyeragamkan pilihan politik dengan pilihan kita.

Persoalan kita merasa perlu untuk mempengaruhi orang lain untuk mendukung apa yang juga kita dukung itu soal lain. Itu tentu sah-sah saja dilakukan, tetapi tidak dengan paksaan dan yang paling penting, tidak membenci orang yang tak mendukung apa yang kita dukung. Sebagaimana kita tak bisa memaksa orang lian mengagumi ibu kita sebagai ibu terbaiknya.

Untuk itu, kita tak perlu merasa benar sendiri. Sungguhpun kita yang benar, alangkah lebih baik tak mencemooh yang kita anggap keliru. Jangan sampai perbedaan politik naik levelnya menjadi konflik politik. Ini tentu merugikan kita sebagai individu dan bangsa pada umumnya. Tidak perlu ada lagi orang yang masuk penjara lantaran kontestasi politik di negeri ini, sama sekali tak perlu.

 

 

Sumber gambar: viva.co.id

Comments

comments