Merayakan 65 dengan Cara Ngehek

Novel Kubah dan Komunisme
Novel Kubah dan Komunisme
Membaca selembar, mengunyah seplastik

Sebagai kelas menengah ngehek, saya sudah barang tentu jengkel dengan September dan Oktober, hari-hari akan penuh dengan pemberitaan kaum intoleran, anti kebudayaan, rekonsiliasi, pembantaian, tragedy, genosida, kejahatan kemanusian, militer, jenderal jagal dan seterusnya. Coba diisi dengan film apa yang bagus, tim bola mana yang sedang jago, lagu siapa yang ada ditangga utama Billboard.

Saya tahu bahwa membunuh orang, memenjarakan orang tanpa pengadilan adalah sesuatu yang keji. Saya tahu bahwa menjadi warga negara yang dicabut haknya sangat tidak menyenangkan, saya tahu bahwa menjadi eksil itu perih, saya tahu bahwa jenderal brengsek itu diuntungkan dengan pembantaian itu, tapi bagaimana lagi lah wong saya kelas menengah ngehek. Bukan bagian dari lingkaran utama kekuasaan. Saya juga tidak mau menjadi rakyat jelata laiknya domba, dicukur bulunya, diambil kotorannya sampai suatu waktu harus dijual atau disembelih, itu takdir mereka.

Sebagai kelas menengah ngehek yang apalah-apalah saya merayakan bulan September dengan jalan ngehek pula. Tidak mungkin saya merayakan dengan menggeruduk acara-acara kebudayaan terkait kejahatan kemanusiaan yang telah lalu. Saya tidak memiliki massa dan pagu untuk itu.

Saya merayakannya dengan membaca sastra, karena saya kelas menengah. Membaca sastra jelas identitas dari kelas menengah.

Bourdieu mengatakan arena sastra sebagai sebuah semesta sosial terpisah yang memiliki hukum-hukum keberfungsiannya sendiri yang tak terikat dengan dengan hukum-hukum keberfungsian politik dan ekonomi (Arena Produksi Kultural, Hal 213). Jadi saya tidak takut akan adanya persekusi.

Sekeras apapun kritik yang disuarakan oleh sastra ia tetap memiliki kelamahan. Ia tidak bisa mengubah keadaan secara pragmatis. Ia merupakan sarana untuk menggugat peristiwa dan anasir-anasir di dalamnya. Itu berarti bahwa sastra adalah kendara untuk mengundang orang berfikir dan bermenung, dan di sisi yang lainnya ia juga berperan memberikan definisi kemanusiaan dalam konteks tertentu.

Katrin Bandel dalam wawancaranya dengan IndoProgress mengatakan bahwa salah satu fungsi kritis yang bisa diharapkan dari sastra adalah usaha untuk mempersoalkan kehidupan kelas menengah tersebut. Karya sastra dapat menjadi lahan subur dimana kelas menengah dapat mempertanyakan dirinya sendiri, ideologinya sendiri.

Ada banyak prosa yang merekam “Peristiwa 65” semisal karya-karya Umar Kayyam (Sri Sumarah dan Bawuk, Para Priyayi), Ajip Rosidi (Anak Tanah Air, Secercah Kisah), Putu Wijaya (Nyali), dan Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk dan Kubah). Saya lebih memilih Kubah musabab keterikatan budaya yang lebih dekat. Lewat Kubah pula saya mempertanyakan diri saya sendiri.

Kyai Tohari yang dibesarkan dalam lingkungan pedesaan dan santri, menulis Kubah kental dengan warna kehidupan desa dan politik didalamnya. Konteks relijiusitas dalam perdesaan berkontestasi dengan feodalisme, kuminisme dan politik aliran lainnya yang memang membanjiri Indonesia 50’an.

Dalam turbulensi pasca revolusi inilah sosok Karman muncul lengkap dengan segala problematika di dalam penokohannya. Ia dilahirkan saat Hindia Olanda masih berkuasa, ayahnya pun pejabat Gubermen, saat okupasi jepang tidak ada yang lebih berharga dari beras. Ayah Karman menukarkan sebagian sawahnya untuk ditukar dengan beras yang dimiliki Haji Bakir. Ayah Karman tidak mau makan selain nasi saat pecah revolusi. Lantas ia frustasi priyayinya hilang seiring berdirinya Republik.

Kemudian arah mata angin kehidupan berputar 180 derajat untuk keluarga Karman. Ia tak memiliki lagi ayah, Haji Bakir kemudian menjadi orang tua asuh untuk Karman. Ia dibesarkan dan didik untuk mengerti dan memahami pekerjaan sehari-hari yang tidak memberatkan Karman.

Sepulangnya Hasyim-Paman Karman- dari perang, ia bergabung dengan Laskar Hizbullah dan merubah alur kehidupan Karman. Ia kemudian disekolahkan oleh Hasyim sampai jenjang menengah. Usia telat bukanlah masalah. Lulusnya Karman dari sekolah menengah mengakhiri jenjang pendidikannya, Hasyim memiliki anak yang harus disekolahkan pula.

Triman dan Margo adalah sosok yang menjadi dalang deideologi Karman, setelah berkenalan dengan keduanya Karman perlahan berubah, ia menjadi pegawai kecamatan atas campur tangan dari keduanya. Ia pun menjadi kader partai yang dibentuk dari buku-buku yang diberikan oleh Margo dan Trisman. Karman agamis berubah menjadi Karman Kuminis.

Nama Haji Bakir adalah kambing hitam dan sumber dendam dari Karman. Triman adalah penokohan kader partai yang tampak sangat nasionalis. Isu tanah yang dimiliki oleh Haji Bakir, penolakan lamaran terhadap syarifah menjadi sekam yang membakar kesadaran dan kemampuan berfikir Karman.

Kehidupan Karman baik-baik saja sampai geger 1965 terjadi. Partai dan organisasi yang terlibat dengan kekirian diberangus, tidak terkecuali dengan dua atasan Karman, Margo dan Triman sudah dieksekusi. Ia melarikan diri takut dipenjarakan lebih-lebih turut dieksekusi. Di makam kuno ia mampu bersembunyi selama lebih dari sebulan.

Suatu waktu ia keluar dari persembunyiannya untuk mencari minum dikarenakan kondisinya sakit parah, sial ada orang mengetahui. Ia tertangkap dan dinormalisasikan di Pulau Buru.

Sepulangnya dari Buru, ia seperti tapol lainnya, Karman sering silaturrahim ke Kodim. Ia akhirnya pulang ke rumah Hasyim dan beberapa waktu berteduh disana. Kemudian ia pulang ke rumah ibunya.

Noktah hitam Karman hilang setelah religisituasnya kembali, dan ia membangun Kubah masjid desanya, sekaligus penanda damai dengan Haji Bakir. Karman kuminis berubah menjadi Karman agamis.

Antara Stereotyping dan Apologeticism

Secara terbuka novel ini bersifat sangat persuasif kepada khalayak bahwa rekonsiliasi dengan bekas tahanan politik adalah sesuatu yang wajar, tahanan politik tidak untuk dijauhi, dikucilkan apalagi untuk dimusuhi, sebaliknya tahanan politik haruslah dirangkul kembali agar dapat bersosial dengan umum. Ada banyak orang yang menjadi korban brainwash ideologi jangan sampai mereka dicabut hak-hak menjadi anggota sosial dan warga negara. Syak wasyangka terhadap berdirinya PKI pun sudah tidak lagi relevan.

Akan tetapi, penggambaran kuminisme di Kubah sangatlah bias, dalam beberapa bagian jelas tergambarkan ide-ide atau penggambaran kuminisme menurut pencerita bahwa kuminisme sebagai ideologi tidak bisa membebaskan manusia dari penganutnya, justru sebaliknya. Melalui tokoh Karman direpresentasikan bahwa kuminisme adalah biadab dan keji.

Inilah undangan untuk berfikir itu, hari ini manusia (tidak tercekuali kelas menengah) selalu dihadapkan dengan hanya dua pilihan (either or), segala sesuatu menjadi bipolar, seolah nilai itu tidak ada selain benar atau salah. Kasus ini menyajikan, satu sisi TNI menganggap benar, sisi lainnya menganggap TNI pandir.

Sastra tidak dapat diragukan, ia merupakan bagian dari dokumen sejarah. Ia selalu melakukan transformasi kenyataan lewat pandangan dan penghayatan pengarang menjadi rekaan. Dan didalam sastra tidak ada benar atau salah. Sastra selalu menyajikan gambaran manusia dengan seluk-beluknya berkelit dan bergelut dari krisis nilai akibat tragedi kemanusiaan yang hebat.

Sebagai kelas menengah, sudah saatnya mengambil sikap dan keberpihakkannya dalam laju sejarah. Gaya hidup boleh tetap menjadi kelas menengah ngehek, tetapi dalam krisis nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan seperti saat ini ia harus mengambil sikap, ia andil peran dalam laju sejarah.***

Baca juga artikel lain tentang PKI di sini

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.