Mobil Si Kaya dan Suara Si Miskin

Sekira sebulan yang lalu, saya cukup kaget dengan naiknya Bambang Soesatyo (Bamsoet), politisi Pohon Beringin menjadi ketua legislator, saya merasa ia sosok yang tak asing, dan pernah bertemu. Setelah saya ingat-ingat, ternyata benar, kami pernah bertemu.

Pertemuan pertama, saat ia tersenyum dan menunjukan air muka yang bahagia di baliho, spanduk, dan poster. Pertemuan kedua, saat saya berpapasan dengan wajahnya di bilik suara, ia tersenyum meminta saya mencoblos nomornya, namanya, bahkan mukanya sekalipun diperbolehkan (yang tentu hanya diperkenankan dalam konteks pemilu saja, di dalam kertas suara).

Setelah saya ingat-ingat kenapa mukanya akrab dengan saya, mau bagaimana lagi memang ia calon legislator Dapil VII Jateng pada 2014 silam, yang meliputi tiga kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Jadilah, ia dan mukanya wara-wiri juga sekira di kampung saya, di salah satu bilangan di Purwareja Klampok.

Hasilnya memunculkan dominasi petahana, misal Bamsoet sendiri dan Taufik Kurniawan dari PAN yang menjadi perahu keduanya menjadi pimpinan Gedung Kura-Kura. Soesatyo memperoleh 57.235 suara, sementara Kurniawan mendapatkan 59.495 biting.

Soesatyo mampu mengumpulkan 22.638 pemilih di Kebumen, 20.169 biting di Purbalingga, dan 14.428 suara di Banjarnegara. Di Purbalingga perolehan suara Soesatyo besar di daerah Purbalingga, Mrebet, Kalimanah, Bukateja, Kaligondang, Kemangkon, Bojongsari, dan Kejobong.

Sementara di Banjarnegara suara Uwa Soesatyo (kata wa dan ka sangat sering digunakan oleh penutur Ngapak di daerah Banjarnegara, misal Iya ka? Atau Iya Wa! Jadi sampean jangan kaget, jika menemukan partikel tersebut dalam dialog) gemuk di Punggelan, Pagentan, Bawang, dan Banjarnegara. Lain lagi di Kebumen, Soesatyo mengantongi banyak pemilih di Alian, Buluspesantren, Gombong, Kebumen, Klirong, Pejagoan, Sempor, dan Sruweng.

Dari kecamatan yang sudah disebutkan, Soesatyo mendapat empat digit angka suara. Soesatyo meraup banyak suara di daerah tapal kuda, selain di kota kabupaten macam Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen.

Ketiganya adalah kabupaten miskin di Jawa Tengah. Berdasarkan data BPS pada 2014, Purbalingga memilki 19.75%, Banjarnegara 17.77%, dan Kebumen 20.50%. Jika disederhanakan Kebumen ada di ranking 2, Banjarnegara ada di ranking 7, dan Purbalingga ada di ranking 4.

Kabupaten termiskin tetep daerah asalnya Mas Fajar, wkwkwk. Nah, bebannya Mas Fajar untuk menekan kemiskinan berat loh. Sedangkan imaji Purbalingga sebagai kabupaten ramah industri untuk menyejahterakan warganya, tidak selinear dengan angka kemiskinan yang tinggi.

Angka kemiskinan yang tinggi biasanya berjalan bersama dengan rendahnya tingkat pendidikan, alih-alih mereka melek politik. Swing voters semacam ini yang menjadi potensi lumbung suara dengan adanya money politics baik dari calon yang bersangkutan, mesin politik (di Jawa sering disebut dengan bakul caleg) atau para penyabung uang yang bertaruh calon siapa yang bakal menang. Tentu, saya tidak sedang menyebut Soesatyo melakukan politik uang dalam memperoleh kursi.

Daerah marginal adalah lahan subur untuk mendapat banyak suara. Daerah tersebut biasanya sering dijadikan pagelaran Misbar (lamis ndisek, terus bubar) mulai dari ring satu kekuasaan di Jakarta, politisi yang bemukim di Senayan, provinsi, hingga daerah.

Jokowi pun pernah melakukan kunjungan kerja ke eks-Karasidenan Banyumas pada Juni atau Ramadan 2017 termasuk ke Banjarnegara dan bukan yang pertama kali. Presiden lewat jalanan dan melambaikan tangan di Jalan Raya Purwareja-Klampok, Salat Jumat di Masjid Alun-alun, lalu bagi-bagi PKH dan KKS. Selain itu Widodo juga takziah di Cilacap, belajar mengeja kata “kencot” di Kroya, membagikan  sertifikat tanah, sarung, dan batik di Cilacap, hingga salat tarawih di Ponpes Darussalam Kembaran.

Widodo melakukan safari Ramadhan, selain sebagai jawaban atas tuduhan komunis pada pilpres, faktor banyaknya pemilih dari kalangan santri juga dipertimbangkan. Hal tersebut ditambah dengan kekalahan PDIP di Pilkada Banjarnegara dan Cilacap setahun sebelumnya, Pilkada Purbalingga sendiri dapat diamankan. Lebih-lebih menjelang Pilkada Banyumas dan Jateng, dimana keduanya terkenal sebagai Kandang Banteng.

Jangankan para politisi, Unsoed, almamater saya, sangat suka untuk mengadakan KKN Posdaya di ketiga kabupaten tersebut. Dengan harapan, mampu memberdayakan keluarga miskin.

Kembali ke Soesatyo. Setelah Soesatyo dilantik menjadi ketua DPR, ia diberondong pemberitaan soal pundi-pundi rupiahnya. Lelaki kelahiran Jakarta itu disebut sebagai tuan tanah di daerah dapilnya, serta memiliki kendaraan dengan nilai rupiah mencapai sembilan digit, misal Hummer H2 (buatan 2009) dibeli 2009 Rp 2,250 miliar, Land Rover (buatan 2013), dibeli 2013 Rp 2 miliar, Bentley Mulsanne (buatan 2012), dibeli 2013 Rp 2 miliar, Porsche Cayenne (buatan 2011) dibeli 2014 Rp 1,1 miliar, Ferrari California (buatan 2010) dibeli 2014 Rp 2,150 miliar, Mercedes Benz 400 (buatan 2014) dibeli 2014  Rp 2,750 miliar, dan Rolls Royce Phantom (buatan 2011) Rp 4,3 miliar.

Data BPS menunjukan adanya angka penurunan kemiskinan di tiga daerah pada 2017, Kebumen menjadi 19.60%, Banjarnegara menjadi 17.21%, dan Purbalingga menjadi 18.80%. Akan tetapi, apa iya tebal kantong Soesatyo ikut turun?

Kemiskinan adalah keadaan diam yang tidak dapat disuarakan. Keadaan hidup dimana tinggal di dasar dari tangga eksistensi manusia.

Sumir, saya sangsi, apakah pemilih Soesatyo tahu bahwa orang yang mereka pilih dulu sudah menjadi orang nomor satu di Senayan? Apakah mereka dapat jawaban atau dampak dari keluh kesah mereka (aspirasi terlalu tinggi bahasanya) ?

Setahun lagi pemilihan legislatif bakal digelar. Masyarakat harus tahu atau mencari tahu calon yang mereka pilih benar-benar mengawal keluh kesah warganya atau malah menimbun kekayaan untuk diri dan sanak famili.

Lebih lanjut, saya tengah disibukkan berdialog dengan orang tua dan keluarga saya sendiri, soal memilih wakil rakyat atau pemimpin daerah bukan dari suar televisi, selebaran di jalanan, poster di sepeda motor, lebih-lebih amplop yang datang tak diundang dan pulang meninggalkan pesan.

Comments

comments

5 thoughts on “Mobil Si Kaya dan Suara Si Miskin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.