Movie Review: Cargo (2017)

He is her only hope… and greatest threat.

Semakin ke sini semakin banyak keratifitas yang dipersembahkan sineas horror, baik dari Hollywood atau dalam negeri. Sebut saja Get Out (2017) karya Jordan Peele yang mengeksplorasi isu rasial di Amerika Serikat, A Quiet Place (2018) karya Jon Krasinsky yang menggabungkan drama anak-orang tua dan terror alien, atau Pengabdi Setan (2017) a.k.a Satan’s Slaves hasil arahan Joko Anwar yang menjadikan porsi dramanya terkesan diperlukan.

Singkatnya, ada muatan lain dalam film-film tersebut, membuatnya semakin berbobot. Datang tidak cuma untuk menakuti, tapi juga menyampaikan pesan. Walaupun memang kalau film horror ya untuk menakut-nakuti, tapi jika bisa dapat lebih, kenapa tidak? Tak terkecuali Cargo (2017) yang jadi debut penyutradaraan duo Ben Howling & Yolanda Ramke yang merangkap sebagai penulis skenario serta pengarah film pendek Cargo ini sendiri.

Menceritakan tentang merebaknya wabah epidemik di sebagian besar wilayah Australia, yang kemudian memaksa Andy (Martin Freeman) dan Kay (Susie Porter) bersama putri mereka Rosie (Lily Anne McPherson-Dobbins & Marlee Jane McPherson-Dobbins) mencari tempat perlindungan guna menjamin keberlangsungan hidup mereka. Celakanya dalam pencarian tersebut mereka menemui banyak rintangan, yang tak saja menuntut untuk terus bertahan tapi juga menghadapkan mereka pada pilihan-pilihan sulit.

Datang dari platform streaming Netflix yang berjaya dengan original series –tapi tidak dengan original filmnya, awalnya Cargo sempat “sangat” meragukan. But, let’s not judge the book by it’s cover, right? Karena sajian dengan 104 menit ini berhasil menampik semua keraguan dengan kualitasnya.

Pasalnya, Cargo berhasil keluar dari zona film zombie arus utama. Bahkan istilah “zombie” tak sekalipun disebut. Penyebaran wabah yang biasanya disebabkan oleh sains, -bukan cuma sudah jadi formula pasaran, tapi akan mengecewakan jika harus disebabkan oleh sains (lagi) kan?-, di sini diganti perannya dengan alam.

Benar, virusnya datang dari alam. Hasil eksploitasi besar-besaran oleh manusia akhirnya berbalik kepada manusia itu sendiri. Alam yang awalnya jadi sumber daya, kini jadi pemusnah. Ber-setting di Australia, pribumi, budaya serta kehidupannya pun ikut dibahas.

Kekejaman dan kerakusan kapitalis yang tak hanya memeras sumber daya, juga menindas pribumi digambarkan dengan jelas. Tidak dengan cara yang halus memang sehingga sangat terasa, karena Howling & Ramke sepertinya memang enggan menggunakan “pemanis” di bagian itu.

Sebut saja bagian saat Daku (David Gulpilil) dimasukkan ke dalam kerangkeng yang kemudian di sekitarnya ditumpahkan darah guna memancing mayat hidup untuk mendekat dan coba menggerogoti beliau perlahan-lahan. Perlakuan serupa juga dirasakan oleh Thoomi (Simone Landers). Pengibaratan yang tak usah dibahas apa artinya, dengan sendirinya anda akan tahu.

Andai bisa diumpamakan, Cargo adalah hibrid dari Sicario (2015) dan Train to Busan (2016). Sicario ada di bagian mencekam, dan Train to Busan adalah hatinya. Meneror, menakutkan, bahkan mencekik. Tapi tensinya dibakar dengan pelan. Setiap detik durasi yang bergulir dapat diserap penonton dengan efektif.

Geoffrey Simpson yang mengarahkan sinematografi juga cerdik mengarahkan kamera dan menangkap lansekap daratan Australia menggunakan establish-shot, memberikan kesan gersang dan sepi, pun juga tangkapan pemandangan langitnya yang cantik, digabung dengan scoring gubahan trio Chris Ridenhour, Chris Cano, dan Trials yang mendebarkan.

Kesan Sicario-ish sungguh terasa. Pada “departemen hati”, eksekusinya jempolan, berkat dukungan jajaran cast yang apik beraksi. Martin Freeman (The Hobbit Trilogy, Holmes, Fargo, Black Panther) adalah true leader di sini. Sedikit aktor yang bisa menghipnotis dengan ekspresi wajah,-bahkan ekspresi kecil sekalipun-, without trying to hard seperti Mr. Freeman.

Momen saat karakter Andy menemukan istrinya terinfeksi misalkan, dengan mimik muka yang berusaha tetap cool dan rentetan dialog khas orang panik, “You’re okay!”, disampaikan dengan baik, penonton tak sekedar dapat menilai bahwa momen itu not okay, tapi juga menilai bahwa Andy adalah pria yang punya hati. Karakter pendukungnya juga bermain maksimal, seperti Simone Landers yang di salah satu sekuen menciptakan momen hangat nan menyentil. Saya takkan mengungkapkan momen seperti apa itu.

Overall, di tahun 2017 setelah Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, Cargo adalah paket lengkap yang menawarkan banyak rasa. Takut, tersudut, kesal, sedih, dan lain sebagainya jadi satu. Menggunakan banyak perumpamaan yang tak membuat penontonnya jadi malas berfikir. Mencekam, namun tak melupakan hatinya.

Menampar, namun memberikan pelajaran dan pesan serta relatable. Dan yang paling penting adalah tampil beda dan membawa penyegaran, khususnya untuk genre film horror dengan tema “zombie”.

 

Score: 5/5 (Highly Recommended!)

Comments

comments