Mile 22, Sebuah Sajian Aksi yang Terlupakan

Score: 2,5/5

Mile 22 adalah proyek kolaborasi ke-4 dari duo Peter Berg dan Mark Wahlberg, Peter duduk sebagai sutradara dan Wahlberg menjadi lead actor.  Sebelumnya, mereka juga bekerja sama dalam Lone Survivor (2013), Deepwater Horizon (2016), dan Patriots Day (2016). Ketiganya diangkat dari kisah nyata, berkesan seperti “memoir”, bertempo cepat, singkat dan jelas, serta bisa dibilang sukses secara komersil maupun kritik. Lalu apa yang berubah pada proyek ke-4 ini?

Well, seperti yang diungkapkan Mark sendiri di The Late Show with Stephen Colbert (2015), “We (Peter & Mark) wanna have our version of fun….”

Lalu, apakah hasilnya memang “fun”?

Mile 22 bercerita tentang sebuah operasi bernama “Overwatch”, operasi pengekstrakan aset yang diindikasi mempunyai informasi “sensitif” sehingga harus dibawa keluar dari negaranya. Terlibatlah James Silva (Mark Wahlberg), intelejen Amerika serikat sekaligus ketua operasi, Alice Kerr (Lauren Cohan), Sam Snow (Ronda Rousey), Willian Douglas III (Carlo Alban), dan Li Noor (Iko Uwais) sebagai aset. Serta tim “Eye in the Sky”, yang diketuai (Bishop) John Malkovich.

Dari awal, Mile 22 terkesan tak mau banyak mengungkapkan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Penyampaian ceritanya cepat, namun tak begitu efektif diterima. Informasi tentang karakter James Silva yang diselipkan pada saat opening credit pun tak banyak membantu. Apa yang membuatnya demikian? Rasa paranoia atau memang patriotisme? Entahlah. Sulit untuk bersimpati kepada karakternya.

Peralihan adegan dari frame ke frame pun shaky. Dan sejauh ini  masih bisa ditolerir, setidaknya mampu menantang penonton untuk terus mengikuti. Namun dengan cerita yang “tipis”, film ini juga tidak menawarkan kelebihannya, dalam konteks ini “aksi”. Adegan laganya terkesan “tanggung” dibandingkan dengan film-film yang dibintangi pemeran Mile 22 sebelumnya. Tidak bombastis, apalagi fantastis. Apakah sebegitu buruk? Tidak.

Arahan dari Peter Berg masih mencengkram. Desing peluru, pukulan, retakan tulang, atau kulit yang tergores kaca, sekali lagi masih mampu mencengkram penonton. Namun, sayangnya tidak maksimal. Film yang seharusnya jadi panggung atraksi bagi Iko Uwais dalam unjuk gigi, tak menampilkan kebolehannya secara utuh. Quick cut seakan merangkum adegan baku hantamnya. Seolah, kita sebagai penonton dilempar kembali ke zaman di mana film-film semacam The Raid, The Raid 2: Berandal, John Wick, John Wick 2, atau Atomic Blonde belum dibuat, dan yang ada cuma The Bourne —- & Taken 3. If you now what I mean.

Paling kentara dari film ini adalah  penulisan naskahnya. Seolah tak ada second act atau “komplikasi” dalam cerita. Tak ada pengembangan masalah. Aset menyerahkan diri, dimulailah prosedur pengekstrakan, dalam perjalanan dicegat, dan pada akhirnya tiba di destinasi. Okay, then what? Mungkin keputusan itu dibuat guna menyimpan banyak bahan cerita untuk melanjutkan filmnya agar jadi trilogy. Mungkin. Belum lagi menghitung sub-plot yang melibatkan pihak Rusia. Yep, the Russia is in the house, folks!

Secara keseluruhan, Mile 22 bukanlah film yang amat sangat buruk sehingga tak bisa dinikmati. Aksi yang tetap mencengkram dan cepat, walaupun beberapa bagian terasa sulit untuk diikuti. Gerak kamera yang shaky dan quick cut seolah mengurangi keutuhan adegan laga, namun tetap dipresentasikan dengan baik. Keputusan untuk mengakhiri film dengan cara demikian,–yang bisa dibilang mirip dengan Jurassic World: Fallen Kingdom (2018)–, membukan kemungkinan pengembangan cerita tanpa batas, mengingat masalah yang diangkat adalah “cerita lama”.

Comments

comments