Movie Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)

Score: 4,25/ 5

Skeptis adalah sikap yang wajar jika menyangkut menonton film negeri sendiri. Bukan hanya separuh publik sudah kehilangan kepercayaan, tapi karena memang industrinya sendiri terkesan lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. Benar, kualitas memang sudah jadi harga mati.  Jadi wajar jika publik sering membandingkan karya dalam negeri dengan Hollywood. Dirilisnya Sebelum Iblis Menjemput membawa angin segar khususnya untuk  genre sejuta umat (baca: Horror, or:  “Film Hantu”, if you like.), setidaknya dari segi eksekusi dan crafting, walaupun ceritanya masih terasa biasa saja.

Bercerita tentang kisah Alfie (Chelsea Islan), yang mendatangi vila kepunyaan ayahnya yang bernama Lesmana (Ray Sahetapy), -jutawan bankrut yang terserang penyakit misterius yang akhirnya meninggal secara tidak wajar, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ikutlah bersama Alfie, istri kedua ayahanda Laksmi (Karina Suwandi) dan ketiga anaknya Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan Nara (Hadijah Shahab) dengan agenda mereka sendiri. Dari situ, mereka semua mencoba menguak rahasia mengerikan Lesmana yang mungkin akan membawa mereka ke nasib yang lebih mengerikan.

Dari sekuen pembuka, film ini sudah meniupkan atmosfir “tidak menyenangkan”. Menggunakan gubahan musik hits klasik dilapisi scoring  “menggangu” susunan Fajar Yuskemal (Merantau, The Raid, The Raid 2: Berandal) yang pitch-nya diturunkan seirama dengan gerak kamera memasuki vila, memberikan kesan mencekik. Timo Tjahjanto ( Rumah Dara, Killers, Headshot) yang bertindak sebagai sutradara tahu persis bagaimana membuat disturbing moment itu begitu hidup.

Untung, sosok “sebenarnya” dari sang peneror belum diungkap di sini, sehingga Timo punya banyak kartu pada second & third act nanti. Karena momen pembukanya sudah cukup membuat penonton untuk menahan nafas mereka. Dilanjutkan dengan second act , yang diawali opening credit sekaligus eksposisi praktis walaupun tidak berhasil menutupi semua kebutuhan cerita tapi cukup memberikan bekal bagi penonton tentang back story dari Lesmana.

Kalau boleh diibaratkan, Sebelum Iblis Menjemput mirip dengan stand up comedy yang terdiri dari set-set panjang. Timo sangat sabar dalam mengeksekusi. Menebar teror-teror kecil di sana-sini. Menakuti penonton dengan bayangan gelap, bunyi gemeretak, derit pintu, ekspresi karakter, sebelum sampai ke punchline, yang image-nya tak hanya menakutkan, tapi juga sulit dihapus dari benak penonton.

Terornya juga tidak terbatas teror “recehan”, tapi berdampak langsung secara fisik dan mental pada karakternya. Sebut saja adegan saat salah satu karakternya diseret dan kuku-kuku jarinya terlepas, sedangkan karakter lainnya dibiarkan menyaksikan. Atau adegan di rumah sakit saat Alfie menjenguk ayahnya, without giving too much away, waktu sang peneror menggenggam pergelangan tangannya dan diteruskan dengan adegan Ray Sahetapy muntah darah. Yikes!

Minus film datang dari departemen audionya, jujur saja, berisik . Mungkin dalam benak Fajar Yuskemal semakin tinggi volume scoring maka akan semakin menakutkan adegan yang diiringi. Kemudian ada gap yang cukup besar pada sub-plot cerita untuk karakter Lily (Ruben’s GF), selepas kejadian di rumah sakit tak ada perkembangan pada karakternya, sehingga saat dieksekusipun tak ada feeling apa-apa. Belum lagi pada beberapa bagian di resolusi filmnya, terkesan memanjangkan durasi.

Grafik konfliknya urung meruncing. Eksposisi yang seharusnya bisa dilakukan saat perkenalan atau pengembangan konflik malah disajikan pada bagian akhir, yang sebenarnya jika dipotong filmnya bisa diakhiri lebih cepat. Mungkin maksud Timo melakukan hal itu adalah baik, untuk menjelaskan kepada penonton, tapi dengan topangan cerita yang biasa saja, hal tersebut terasa tidak diperlukan. Kalaupun perlu, tentunya bisa dipersingkat.

Overall, Sebelum Iblis Menjemput adalah suguhan yang memuaskan. Singkatnya, ekspektasi untuk menyaksikan “sebuah film horror” terpenuhi. Menakutkan, membekas, dan stylish (one thanks goes to those POV shots). Didukung dengan performa meyakinkan dari jajaran cast , scoring musik apik meskipun berisik, dan arahan mantap dari Timo Tjahjanto menjadikan terornya sungguh terasa. So delicious! Semoga kedepannya akan ada terus karya-karya “berani” seperti ini.

Comments

comments