Movie Review: Halloween (1978)

“It’s Halloween, everyone’s entitled to one good scare…” – Dr. Loomis

Dari detik pertamanya, Halloween sudah menarik perhatian. Opening credit yang spooky dengan iringan musik lirih. Kemudian diteruskan dengan sekuen pembuka yang tak kalah mengerikan. Bersetting waktu di malam perayaan Halloween di kota fiksi Haddonfield. Gambar diambil secara POV, dari sudut pandang Michael Myers kecil tepatnya,–yang nantinya akan jadi karakter antagonis di film ini–,  yang “mengintip” kegiatan sang kakak perempuan dengan kekasihnya. Yang pada akhirnya menuntun penonton pada sebuah kejadian mengenaskan. Penonton dibuat menyaksikan kejadian itu secara keseluruhan dari sudut pandang Myers. Opening sekuan yang secara mental  mengganggu, namun berhasil memantapkan tone filmnya dari awal.

Halloween bercerita tentang , well malam perayaan Halloween. Laurie (Jamie Lee Curtis), Annie (Nancy Kyes), Lynda (P.J. Soles) menyusun rencana dari awal bagaimana mereka akan menghabiskan malam tersebut. Bersamaan dengan itu Dr. Loomis (Donald Pleasence) dibantu Leigh Brackett (Charles Cyphers) berusaha menemukan pasien RSJ yang melarikan diri pada malam sebelumnya. Yang nantinya akan diketahui sebagai Michael Myers.

Menonton film yang datang dari masa dimana produksi masih bisa dibilang “minim”, merupakan sebuah tantangan tersendiri. Apalagi sebagai movie nerd yang sudah terbiasa dengan sajian modern. Ada ketakutan tak bisa menghargai salah satu film horror klasik ini. Namun, seperti yang sebutkan diawal, film ini sedari detik awalnya sudah menarik. Don’t judge the book by its cover, saya tahu. Tetapi perasaan menarik itu ajaibnya tetap terjaga hingga akhir tayangan. Halloween is hell of a great movie. Jadi wajar jika film-film penerusnya tak mampu mencetak prestasi yang sama, but lemme tell you why tho.

Film dengan durasi 91 menit ini bisa dibilang slow burn. Membakar pelan. Naskah garapan John Carperten (The Fog, Escape from New York, Prince of Darkness) & Debra Hill (Escape from L.A, The Fog) mampu menopang elemen itu dengan fantastis. Teror sebenarnya tidak muncul sampai paruh akhir, akan tetapi penonton tidak dibuat menunggu sampai kejutan itu muncul. Di sepanjang durasi tetap ada kejutan-kejutan. Seperti setting waktunya yang cuma sehari semalam, semakin bergulirnya waktu semakin terasa ada sesuatu yang mendekat. Semakin gelap hari, teror pun mulai bermunculan. Penonton akan menyadari hal itu, ditambah dengan ekspresi yang ditampakkan karakter, maka semakin mencekam pula jadinya. John Carpenter pandai menyulam adegan-adegan itu dan hasil arahan sabar dari beliau membuahkan hasil yang amat sangat efektif.

Belum lagi membicarakan hal-hal klise yang ditolak filmnya sendiri. Katakanlah seperti adegan saat protagonis bertemu dengan antagonis-nya. Dikebanyakan film horror, kita akan menemukan karakter utamanya membuat keputusan bodoh, berteriak tanpa ada perlawanan. Tetapi tidak dengan karakter yang dimainkan Jamie Lee Curtis (True Lies, Freaky Friday, Trading Places) ini. She fights back. Keputusannya untuk melakukan konfrontasi sejalan dengan naluri penonton. Walaupun ada satu-dua adegan yang menunjukkan sebaliknya, namun bisa dimaafkan, karena sifatnya tak berulang. Carpenter mencari jalan lain agar filmnya tak mengandalkan satu media saja, dan juga agar tensi yang dibangun tidak buyar sia-sia.

Dan satu poin terakhir, Halloween tidak bergantung pada elemen slasher yang dibawanya sebagai media untuk menjual filmnya. Bagi saya pribadi, elemen itu justru ada sebagai pelengkap. Karena Halloween justru lebih fokus meneror pikiran. Hal-hal yang membuat tidak nyaman, yang ada dalam diri karakternya lah yang banyak dimainkan. Bentrok fisik adalah hasil akhir, bukan sajian utama. Dan hal itulah yang membuat Halloween pada akhirnya melekat di benak penonton, dan dikenang sebagai salah satu horror slasher terbaik. (4,5/5)

Comments

comments