Pagar Tuhan

Pagar Tuhan

****

Angin malam menggodaku, menjamahi setiap bagian tubuhku malam itu. Aku pun diam, tak bergerak sedikit pun, tak berucap sepatah pun. Hanya diam menikmati keheningan malam dan rintik hujan. Kubiarkan angin memanjakan tubuhku yang letih malam itu. Malam yang ku pikir akan tenang dan membuatku tidur panjang ternyata hanya fiksi. Saat mata ini mulai lelah, saat raga ini tak mau diperintah, ponselku berbunyi.

“Jadi makan malam berdua kan De?” Line dari seorang senior- kakak angkatan. Mataku masih sayu, pikiranku masih beku untuk menerjemahkan rangkaian huruf yang berjejer rapi di ponselku. Akan tetapi angin menyentakku, mengagetkanku, dan menyeretku agar mengaktifkan kembali otakku. Aku pun menurut saja, tanpa mau berkata-kata. Tanganku mulai meraba ponselku, dengan terbata-bata ku baca kembali pesan itu. Singkat saja pikiranku terbang melayang ke belakang, membuka setiap memori yang tersimpan. Aku pun sadar, “Astaga, malam ini aku ada janji dengan Kak Tama.”

“Em, gimana ya Kak, hujan sedang turun nih,” balasku. “Kita tunggu hujannya reda dulu ya De,” responnya. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, namun hujan belum juga reda, ingin rasanya kubatalkan janji itu namun,  aku tak sampai hati. Akhirnya, kuganti baju dan kurias wajahku alakadarnya malam itu.

Kami pergi ke rumah makan, cukup megah, namun sepi, mungkin karna sedang turun hujan. Awalnya, sembari menyantap hidangan, kami berdua tak banyak cakap. Aku dan dia lebih memilih diam, menikmati apa saja yang disuguhkan di tempat itu. Berbeda denganku yang lebih memilih diam membisu dan beku, disela-sela keheningan, dia mulai menciptakan perbincangan kecil yang membuat bibirku melontarkan tanggapan-tanggapan atas pertanyaannya. Ketika suasana sudah mencair, tiba-tiba, dia menunjukan 2 cincin padaku, sembari mengenakan salah satu cincin dijariku dia mengungkapkan perasaannya.

Jujur, hatiku bergetar. Dengan sopan ku lepas cincin itu dan kuserahkan padanya lagi. Dengan lembut ku jawab, “Maaf, kita sama-sama tahu kita berbeda.” Ku lihat raut mukanya sedih. “Kamu tak perlu menjawab sekarang, kamu bisa pikirkan jawabannya nanti. Kamu bawa cincin ini ya, aku bisa tahu jawabannya dari cincin ini, kalau kamu mau memakainya, itu artinya kamu menerima aku,” tegasnya. “Taa…taaapi, kita sama-sama tahu kan, kalau satu cinta dua keyakinan itu adalah masalah klasik yang belum ada obat penawarnya,” ucapku. “Pasti ada, kita cari bersama-sama ya,” jawabnya halus.

Singkat cerita, kami berpacaran. Sekarang usia hubungan kami sudah dua tahun. Selama itu, aku sangat menghormati dia dan kepercayaannya. Ketika dia berkata “Assalamu’alaikum” ku jawab “Wa’laikumsalam”. Perjalanan kami harmonis dan romantis meski tak selalu mulus. Perdebatan selalu mengiringi perjalanan kami. Kami sama-sama kukuh dengan keyakinan masing-masing. Tak ada yang mau mengalah. “Tidak, aku memang mencintaimu, tetapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk ku berpaling dari Tuhanku,” tegasku. Saat itu aku sadar, ada cinta segitiga. Cinta segitiga antara aku, dia dan Tuhan.

Sebelumnya, kami sama-sama menyepakati untuk konsisten dengan agama masing-masing dan akan mengusahakan menikah di luar negeri. Karena kesepakatan itu, kami berdua mengkomunikasikan pada orang tua masing-masing agar diperbolehkan menjalin kasih dengan orang yang berbeda agama. Nasihat, saran dan larangan pun mengalir, namun kami tetap mencoba berjalan bersama. Katanya, “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Pertemuan kita, apakah itu rancangan kita? Ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Kalau kita tak berjodoh kenapa kita dipertemukan? Lalu siapa yang salah ketika cinta tumbuh di hati kita? Bukankah semua itu alamiah dan tidak dibuat-buat?” ucapnya padaku ketika kami sedang gundah. Aku pun mengiyakan ucapannya.

“Cinta itu alamiah, bisa tumbuh dimana pun dan kapan pun. Apakah dia salah mencintaiku dan apakah aku salah mencintainya? Siapa yang sudah menaburkan pupuk cinta di hati kami?” keluhku.

Saat kami berjuang untuk tetap seirama, pihak keluarga justru saling melarang. Akhirnya, kami pun memilih mengalah, “Untuk apa kita bahagia jika keluarga kita meneteskan air mata,” pikirku waktu itu. Sehari, dua hari, aku berhasil memantapkan hati menerima kenyataan bahwa lingkunganku tidak bisa menerima keberadaan cinta suci aku dan dia. Hari berganti minggu, minggu bergati bulan, aku mencoba melanjutkan hari-hariku tanpa dia, tak mudah memang namun aku berjuang. Tapi, aku tak munafik. Jika ditanya rindu atau tidak, tentu aku merindukan dia. Setelah dua bulan tak saling kontak, dia pun muncul kembali. “Tak mudah menghapusmu dari hidupku sayang,” ucapnya. Aku pun menangis mendengar pengakuannya.

Akhirnya, kami sepakat tak mau membohongi diri sendiri. Kini, aku dan dia tetap saling menjaga satu sama lain walau pun masa depan kami tak terprediksikan. Akan happy ending atau sad ending kami belum tahu, kami hanya ingin mencoba. Kami tak mau kalah sebelum berperang, namun kami juga tak mau egois. Aku dan dia akan berlapang dada jika nantinya usaha kami tak mendapat titik terang. Intinya kami mau berusaha dulu, bukankah apa yang dipersatukan Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia?

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.