Pemain Pemain yang Patut Diboyong ke Indonesia Setelah M. Essien

Essien

Pemain Pemain yang Patut Diboyong ke Indonesia Setelah M. Essien – Berbicara seputar sepakbola, Indonesia punya citranya sendiri: tawuran. Sepak bola kita seolah bukan pertunjukan 22 orang yang saling beradu memasukkan bola ke gawang lawan. Melainkan ribuan orang yang saling ejek dan saling lempar batu.

 

Hal tersebut sudah sangat Indonesiawi. Sampai salah satu kawan saya yang hobi PSan pernah berspekulasi begini: alasan kenapa KONAMI belum mencantumkan Liga Indonesia ke menu pilihan PES mereka adalah karena mereka kesulitan membuat simulasi tawuran dan tombol bacoknya.

Tentu saja itu guyon, tapi kok rada masuk akal.

 

Namun lambat laun citra tersebut mulai luntur. Kini sepakbola kita mulai ramah anak dan lansia. Frekuensi tawuran pun menurun seiring amburadulnya faksi Bonek-Viking-The Jack. Praktis hanya tinggal Viking dengan Persibnya yang masih eksis di kancah atas persepak-bolaan nuswantara. Sementara Bajul Ijo dan Macan Kemayoran entah main di mana.

 

Sepakbola kita boleh dibilang kembali menemukan nyawanya setelah lama vakum.

 

Mulanya sengketa liga hingga tarik ulur konggres PSSI telah benar benar membuat sepakbola kita terpuruk. Selain ranking FIFA yang terus merosot manja, vakumnya liga juga membuat para pemain musti beralih profesi. Dari jualan baju sampai kuli bangunan. Untuk poin ini, kita mesti berterimakasih pada kukubima yang rosa-rosa gimana gitu yang telah mengabadikan kesusahan para pemain dalam sebuah iklan.

 

Tapi belakangan setelah digalernya beberapa kompetisi insidental macam Bhayangkara Cup dan Piala Presiden, sepakbola kita menunjukkan geliat kehidupan.

 

Bahkan beberapa hari lalu, jagat sepakbola tanah air mendapat kabar mencengangkan. Michael Essien yang biasanya mondar mandir di Stampford Bridge, Old Traford atau Emirates Stadium, bakal sering adu sprint di Pakansari, Kanjuruhan, Sijalak Harupat dan sebagainya. Lantaran gelandang yang dijuluki pengangkut air ini direkrut Persib. Maha Kuasa Allah dengan segala firmanNya.

 

Sontak ini membuat orang-orang Jawa Tengah macam saya yang hanya punya pilihan mendukung PSIS atau PERSIS menelan ludah. Dua teguk saja. Lahdalah, jangankan merekrut pemain uzurtop Eropa demi menatap juara Liga 1. Hawong menggaji pemain sekelas, umpamanya, Supardi Nasir, atau Mukhlis Hadining aja ngap-ngapan.

 

Tapi itu tak lantas membuat harapan kami pada bangkitnya sepakbola tanah air menguap. Justru kami berharap, akan makin banyak klub yang berani memboyong pemain-pemain Eropa. Terlepas itu adalah PSIS atau bukan. Supaya talenta muda kita bisa belajar langsung dari ahlinya. Dan tentu saja, supaya sepakbola kita lebih menghibur.

 

Berikut usulannya;

Carlos Teves

Pemain yang pernah merumput di Man. City dan Man. United ini punya determinasi tinggi. Ia adalah striker yang punya daya dobrak tinggi. Permainannya benar benar menggigit–menggigit beneran– Pemain belakang Chelsea, Ivanovic, punya penjelasan sempurna untuk itu.

 

Kehadiran Teves akan menjadi contoh bagi para striker Indonesia tentang bagaimana cara melukai pemain belakang lawan secara lahir batin. Lagipula sekarang Teves merumput di klub China. Jadi pas. Bukankah kita suka dengan barang-barang China macam peniti dan yang sepercangkulan dengannya?

 

Olivier Giroud

Sebagai seorang striker cadangan di klub phobia gelar macam Arsenal, tidak banyak yang bisa dicontoh Giroud memang. Tapi harus diakui, tampangnya yang tinggi besar dengan bewok menghiasi area hidung mancungnya akan membuat kaum Hawa kelojot-kelojot. Apalagi ditengah kegundahan para wanita Indonesia yang tengah mengidap gejala post-pangeran-syndrom sepeninggal Raja Salman serombongan.

 

Selain itu, Giroud akan membuat sepakbola kita makin semarak. Mba mba pasca wisuda seperti Vena yang mulanya tak melirik sepakbola akan jadi rajin menengok jadwal pertandingan. Supaya bisa nonton Mas Giroud yang ngganteng itu.

 

Seandainya ada klub Indonesia yang berani membelinya, dijamin akan cepat balik modal; dari penjualan tiket dan jersey Giroud. Industri penopang sepakbola juga akan menerima berkahnya.

 

Victor Valdes

Sebagai mantan kiper klub sekelas Barcelona, Valdes boleh dibilang sial. Pasca dibuang Barcelona, Valdes kini hanya membela klub medioker asal Inggris; Middlesbrough.

 

Kini Valdes bersama timnya tengah terseok di zona degradasi. Sejauh ini Middlesbrough telah kebobolan 30 kali dan hanya mampu membobol gawang lawan sebanyak 19 kali. Padahal di Barcelona dulu ia merupakan kiper dengan reputasi mentereng. Pie Des, esih enak jamane sopo?

 

Pada kondisi yang tak menguntungkan begitu, rasanya tak sulit merayu Valdes ke Liga 1 nanti. Klub seperti Persipura atau Persijap misalnya lebih bisa diharapkan meraih gelar ketimbang Middlesbrough. Tinggal bagaimana Klub menawarkan bonus dan klausulnya saja. Percaya deh, Valdes masih sangat tangguh untuk menghadang tendangan LDR pemain pemain Indonesia.

 

Jika suatu nanti Valdes diboyong klub Indonesia, tentu Bung Jebreet akan makin girang mengucap “ahaay Valdes terbang ke langit tujuh menyelamatkan gawangnya dari serangan tujuh hari tujuh malam”.

 

Sudah tiga saja dulu

Mendatangkan pemain-pemain Eropa ke Liga Indonesia bukan hanya akan memperkecil peluang bermain talenta lokal, tetapi juga menambah potensi korupsi. La emang di Indonesia ada ya, pengadaan sesuatu tanpa korupsi?

 

 

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.