Yang Tetap Miskin di Tengah Triliunan Nilai Bisnis Pangan

Bisnis Pangan
Mafia Pangan
petani sudah kurus masih diperas

Masih hangat berita menghebohkan mengenai penggrebakan salah satu perusahaan beras. Adalah PT. Indo Beras Unggul anak dari PT. Tiga Pilar Sejahtera yang disinyalir telah melakukan tindakan penipuan jenis beras sebanyak 1.161 juta ton beras. Modusnya, ribuan ton beras tersebut disulap dari beras kategori medium ke premium.

Beras yang dibeli seharga Rp. 4.900 dijual dengan banderol Rp. 20.000, dikali ribuan ton dalam waktu bertahun-tahun. Maknyuss betul bukan? Dengan begitu memble-lah kamu yang sudah sambil puasa mendiskusikan perbaikan negara sementara mereka, para mafia, tipu-tipu bentar langsung dapat triliunan.

PT. IBU, demikian mereka menamakan diri–sebuah penamaan yang sama sekali tidak mencerminkan sifat keibuan yang asih dan care, berdalih bisnis tersebut tidak ilegal. Malah menguntungkan petani. Wong beras dari petani yang biasanya dibeli 3.600 di tempat lain, oleh PT. IBU dimahar 4.900. Yasih lebih mahal tapi tetep bedebah kan wong dijualnya aja 20.000 rupiah.

Tapi tenang, tulisan ini tidak ingin berbicara mendetail tentang persolan tersebut. Saya hanya ingin menyampaikan rasa perihatin (dengan gaya Es BY), apalagi ini sudah menyangkut masalah pangan. Ini soal hidup mati suatu bangsa Bung. Perihal penipuan beras ini sensitif bagi siapapun yang makannya bukan kerikil.

Betul bahwa “logika tanpa logistik maka tidak akan berjalan”, namun dalam persoalan kali ini justru logistiklah yang membuat orang tak berlogika. Berebut jatah pasar logistik, dengan menindas yang lemah, mengeksploitasi kekurangan pemerintah demi perut semata. Bertolak belakang dengan apa yang disabdakan Mbah Immanuel Kant, bahwa logika seharusnya membantu kita mendeteksi penalaran-penalaran yang keliru dan tidak jelas bukanlah malah sebaliknya.

Memang sudah bukan rahasia jika mafia beras bercokol negeri ini. Bahkan tak cuma beras, tapi seluruh sektor pangan, hukum, politik, migas, tanah dan masih banyak lagi punya jatah mafianya masing-masing. Sialnya mafia di dunia bukan sekedar cerita seperti dalam film fiktif, yang selalu punya seorang pahlawan untuk menumpas mafia tersebut. Mafia beras tak seperti tokoh Michael Corleone dalam Trilogi godfather, ribuan kali lebih sulit dikalahkan dan ditangkap. Mereka terlampau licin dan teroganisir sehingga mampu berkilah dengan mengatasnamakan kesejahteraan. Jancuk, curang kok mengatasnamakan kesejahteraan.

Mereka juga sulit ditangkap karena kebal hukum, mampu menyusup di berbagai lini, bisa berlindung dibalik aturan sehingga dapat membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Kurang dewa apa coba? Saya pikir berkembangnya mafia-mafia di negeri ini tak terlepas dari sistemnya, juga karena masyarakat yang cenderung lebih sedikit berpikir ketimbang merasa. Merasa alim, merasa si dia juga cinta, merasa situ okDengan kata lain, memang pola pikirnya less-rationalistic dan lebih emisional.

Sentimen-sentimen kesukaan fis a fis ketidaksukaan pada ideologi lebih dialamatkan sebagai respon emosional pada kelompok orangnya. Akibatnya jangankan untuk mikirin negara, berlogika saja tidak. Yang ada cuma mikirin pribadi, pertemanan dan paling banter percintaan itu sudah.

Menilik juga data dari kementrian pertanian, Indonesia kini memiliki kurang lebih 56 juta petani–yang jumlahnya kian menyusut dari waktu ke waktu. Dalam satu tahun pendapatan pertani hanya sekitar 1,2 juta. Bandingkan dengan pedagang di produk pertanian yang bisa dapat ratusan juta per orang per kepala. Itu yang tingkat kecil hingga menengah. Kalo yang besar bisa berkali-kali lipat dapatnya.

Dari ketimpangan tersebut tentunya kita bisa melihat ada kejanggalan pada sistem pertanian kita. Di tingkat on farm petani ngos-ngosan memproduksi pangan dengan keuntungan minim, sementara di tingkat off farm, duet tengkulak dan mafia jor-joran mempermainkan harga.

Disamping itu, penelitian terakhir dari Organisasi Pangan Dunia (FAO), memperkirakan sebanyak 19,4 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan. Penyebab utamanya tentu adalah kemiskinan, yang ironisnya sebagian besar disumbang dari desa-desa. Yang berarti ya petani-petani itu, yang hidup miskin.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.