Pil Peluruh Kenangan

Bulan ini begitu sarat akan peristiwa, dimulai dari awal penentuan syawal, para muslim ramai-ramai merayakan Hari Raya Idul Fitri di seluruh penjuru muka bumi, sementara ada saja rumah produksi yang mengejar momentum hari Lebaran, lain lagi produsen biskuit dan sirup yang telah dikomodifikasi sedemikian rupa, keduanya ditawarkan dengan harga miring di segenap minimarket. Padahal saban hari mungkin tiada tawaran serupa.

Sebagian orang turun ke jalan mengutuk hasil pilpres, sebagian kepala daerah mengeluarkan surat edaran mengenai perda syariah. Ganjih memang, orang tidak boleh merupawujudkan opini, padahal manusia dan kebudayannya berasal dari desas-desus.

Sementara itu, kakak Otok sibuk menulis di kartu nota pembelian dagangannya. Ia mendapat sedikit tambahan rejeki memasuki pertengahan bulan, bagi orang kaya-raya kematian tak boleh luput untuk dirayakan, meski bunga-bunga di Pasar Rawa Belong kadang ikut meroket, melangit dan stoknya belum penuh semua.

*****

Otok menemukannya begitu saja, tergeletak di samping bantal, bahkan ketika bulir mata Otok belum terbuka sepenuhnya, sembari berjingkat dan duduk bersila, ia memeriksanya, dalam sebuah plastik kecil pembungkus obat, sebuah pil bersemayam, plastik itu bertuliskan ‘Pil Peluruh Kenangan’. Pun, bertuliskan dosis minumnya cukup sekali seumur hidup. Bentuknya mirip pil penambah darah perempuan hamil, yang bikin tinja menghitam dan air seni menguning.

Otok memandang nanar, menekuri seisi kamar, bagaimana bisa pil semacam tadi ada di muka bantal di tempat tidurnya. Apa mungkin kunang-kunang yang menghantarkannya semalam? Atau bidadari bersayap gelap yang meletakkannya begitu saja?

Otok tidak sepenuhnya tahu jawabannya, sewaktu tidur ia selalu mematikan lampu, bolehjadi ia tak melihat bidadari bersayap gelap yang singgah semalam, lalu meninggalkan pil itu.

Ia memutuskan untuk menyimpannya baik-baik, dan akan memberikannya kepada kekasihnya, Chika, sebagai sebuah hadiah di bulan yang penuh kasih sayang, saat mereka bertemu esok atau lusa atau hari sesudahnya.

Hari yang ditunggu pun tiba, mereka berkencan di taman kota, sembari mencari kelopak bunga kaca piring yang sudah mengering, mencuri bijinya lalu bakal ditanam di pekarangan samping rumah. Chika merupakan pencuri biji bunga yang terampil, tanpa sekalipun ditegur pegawai dinas pertamanan.
Sesuainya mengudap siomay, dan air muka Chika sudah bisa diajak bicara, Otok menggeragap saku celananya.

“Tutuplah matamu barang sejenak, serta bentangkan telapak tanganmu di atas paha menengadah ke muka langit,” pinta Otok.

“Ini apa?” tanya Chika.

“Itu hadiah dari aku,”

“Kok mirip pil kb?”

“Minumlah! Ini pil ajaib….”

“Ini pil apa?” Jawabnya sambil memacak wajah heran.

“Itu pil ajaib, hanya ada satu di dunia, dan hanya kau seorang yang beruntung untuk meminumnya….”

Ia mulai mengeja pelan tulisan yang ada di muka plastik, ‘Pil Peluruh Kenangan’, dosis ‘sekali seumur hidup.’

“Apa kau sudah gila?”

“Aku tak sanggup meminumnya, minumlah nanti malam menjelang tidur, dan kau akan melupakan segalanya, tentang kita, berikut kenangan yang menyertainya.”

Ia terdiam melipat kening. Sepasang mata Chika mulai menyipit, menajamkan pandangan.

“Kita sudah berhubungan selama tujuh tahun, dan kau menginginkan aku melupakannya begitu saja?”

“Itu seperti kondar atau after morning pill, ia berfungsi menghapus segala kenangan, seperti mencegah kelahiran bayi-bayi yang tak diinginkan, kau akan melupakan aku, bagaimana kita bisa bertemu, bahkan meski nanti lidah kita berpagutan saling mencari kehangatan sekalipun, kau akan melupakannya, itu niscaya,” terangku menjelaskan kepada Chika.

“Untuk apa aku meminumnya?”

“Sudah aku bilang untuk melupakan aku,” tegas Otok.

“Laki-laki memang tidak mengerti apa-apa tentang perasaan!”

“Perempuan tidak sepenuhnya tahu bagaimana laki-laki menyimpan kenangan-kenangannya!”

Chika nampak masih bingung, ia tidak begitu memahami apa yang sedang terjadi, apa yang terjadi dengan Otok, laki-laki yang sudah dipacarinya selama lebih dari tujuh tahun.

“Kamu kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Cinta itu begitu singkat, melupakannya teramat lama. Aku tak mengira kita bakal selama ini berhubungan, selama tujuh tahun. Maka dari itu aku ingin kau melupakanku dengan singkat, cukup satu malam,”

“Cobalah membuat kutipan sendiri, jangan meminjam Neruda terus!”

Chika mengambil botol minum dari tas punggungnya, ia mencoba mengaliri otaknya dengan oksigen, barangkali apa yang tengah dibicarakan hanya pepesan kosong. Ia sama sekali tidak mengerti, bukannya mendapat cokelat potek, seikat bunga mawar merah, atau cincin kawin.

“Otok … apa kamu tahu?”

“Tentang apa?”

“Perjuangan hidup manusia adalah perjuangan melawan lupa, termasuk melawan lupa akan kenang-kenangan kekasih atau mantan kekasih sekalipun.”

“Soal itu aku mengerti, cobalah membuat kutipan sendiri, jangan meminjam Kundera terus!”

“Lantas?”

“Aku ingin kau tidak perlu repot-repot lagi berjuang, aku tak ingin kau menangis lagi dengan alasan yang tidak begitu jelas karena aku …”

“Manusia punya kelenjar air mata, lantas untuk apa?”

Otok diam saja, ia nampak tak beringsut dari duduknya. Tenggorokannya kerontang, seperti hendak menetaskan anak itik.

“Kenapa aku harus melupakanmu? Melupakan kita?”

“Karena aku menyayangimu, aku tak mau melupakanmu, kau sebaiknya meminum pil itu, demi kebaikan kita bersama.” tandas Otok.

Chika merutuk, ia pergi begitu saja, kemudian pergi dengan ojek daring. Di jalan, ia menyobek plastik pembungkus Pil Peluruh Kenangan itu, ia membuangnya ke sungai, membiarkannya hanyut bersama puluhan ribu debit air yang mengalir setiap detiknya.

Otok duduk saja, mengeluarkan bungkus rokok, menyulutnya, mengisapnya dengan tatapan kosong, sementara malam sudah semakin dekat. Usahanya pupus, menguap begitu saja.

*****

“Apa kamu sudah sampai?” tanya Otok melalui pesan suara.

“Aku sudah sampai, AKU MASIH BENCI SAMA KAMU….” Balas Chika melalui aplikasi pesan singkat.

Otok hanya menyulut kembali rokoknya, tanpa ekspresi yang berlebihan.

Kepalanya menyandar di dinding kamar.

*****

Sepasang hari sesudahnya, kota dilanda kekacauan hebat, krisis moneter melanda kota, roda ekonomi tak mau berputar sebagaimana semestinya. Perputaran uang sedikit macet.
Otok dan Chika menjalankan hari mereka seperti biasanya, menulis dan menyiapkan dokumen lamaran kerja, sembari mengerjakan kerja paruh waktu mereka, keduanya sama-sama tak lolos dalam ujian aparatur sipil negara.

Linimasa media sosial mereka penuh dengan berita viral dengan topik yang sama dan menjadi tajuk utama setiap media, baik cetak maupun daring, “Kota Mendadak di Dera Penyakit Lupa” tulis sebuah media cetak. “Wedding Organizer Merugi, Puluhan Pasangan tak Jadi Menikah,” tulis sebuah media daring.
Orang-orang tetap bekerja sebagaimana mestinya, pergi ke kantor, ke pasar, ke sekolah, ke bank menyetor uang. Namun, ada yang berbeda. Kafe mendadak sepi tak ada muda-mudi, kantor catatan sipil dan urusan agama meliburkan diri, kawasan red light district sepi dari para pelanggan, konter penjual pulsa mengalami penurunan omzet, pertengkaran di rumah tangga perlahan menyusut. Para ormas penegak moralitas tetiba limbung, kehilangan agenda rutin. Band dengan lagu cinta-cintaan tidak jadi menggelar konser, sudah sedikit warga yang kesepian, sudah sedikit orang yang butuh ditemani rindu.

Para ibu muda dan paruh baya malah gembira, mereka tidak perlu repot menerima panggilan yang tidak jelas, atau mengecek ponsel pasangannya secara rutin.

Malam-malam sesudahnya menjadi pendek, tak ada yang telpon melepas kangen, atau video panggilan di tengah larut malam. Penjual nasi goreng kesepian, warung lamongan tidak begitu laku. Penjajak martabak murung, tak banyak yang membeli martabak untuk di bawa apel, telur ayam ras dan bebek mereka memenuhi etalase. Kondom yang di jual di minimarket tidak laku, tisu magic atau obat kuat tak kunjung dibeli.

Hanya segelintir orang yang tetap berpacaran, mereka semua yang meminum air sumur, tak hentinya berucap syukur. Mereka mengadakan sujud syukur di rumah masing-masing.
Chika tidak menyadari, ‘Pil Peluruh Kenangan’ yang ia buang larut di aliran sungai, aliran itu menjadi sumber utama kapital hulu perusahaan air minum milik kota, semua orang meminum air yang tercampur pil peluruh kenangan.
Para pejuang LDR tak ingat ia punya kekasih yang jauh, para perempuan tak lagi ingat berapa banyak pria yang tengah mendekatinya, para suami tak ingat simpanannya, ribuan pasang kekasih mendadak menjadi sendiri, para pramuria benar-benar menjomlo, para penjual es krim keliling khusus kawinan, meliburkan diri, toko bunga hanya menerima ucapan kematian dan pembukaan usaha baru, rumah karaoke hanya buka setengah hari. Gerakan Indonesia tanpa Pacaran bingung, dagangan mereka menjadi tak laku, hampir seluruh warga kota sudah tidak berpacaran. Isu-isu yang mereka tawarkan sudah tidak lagi kekinian. Golongan konservatif kanan sudah tidak bisa lagi menunggangi isu-isu poligami. Volume sampah domestic meningkat, dipenuhi barang-barang yang tidak lagi bisa mengingatkan masa lalu.

Pemerintah kota sepakat, menjadikan peristiwa itu sebagai bencana daerah, walikota mengeluarkan perda, setelah ribuan warganya tetiba menjadi single. Sementara itu, puluhan intel baik dari Kodim yang berjumlah tiga puluh maupun Polres yang berjumlah 25 seantero kota sibuk mencari penyebab gejala amnesia itu.

Walikota memutuskan untuk menelpon gubernur dan pimpinan partainya, Perda syariah dan anti maksiat tidak lagi dibutuhkan, mereka panik takut kehilangan konstituennya pada pemilu yang akan datang.

*****

Otok sedikit panik, ia mencoba menelpon Chika berulang kali, tak kunjung mendapat jawaban, padahal ia sudah menghabiskan setengah bungkus rokoknya.

Ponsel Otok akhirnya berdering, ia tak sabar menunggu kabar dari kekasihnya.

“Aku membuangnya ke sungai kemarin lusa….,” tutur Chika pelan pada kekasihnya.

“Lalu bagaimana?” tanya Otok.

“Aku tidak tahu….”

Obrolan tak selesai. Otok dan Chika kembali menulis surat lamaran kerja. Bersiap mengirimnya lewat surel.

*****

Fajar perlahan menyingsing dari ufuk timur, kantor polisi dipenuhi oleh reporter dari seluruh media di kota, bahkan ada redaktur dari media nasional yang turun gunung menunggu release berita dari Polresta. Mereka sedang tidak menunggu laporan kecelakaan maupun kasus kriminal yang lain. Bahkan, isu-isu pemilihan umum terabaikan jua.

“Semua masih dalam proses penyidikan,” tutur bapak Kapolresta. Seluruh wartawan kecewa. Kerumunan mereka sejak tadi perlahan membubarkan diri, mereka serentak melapor pada koordinator liputan dan redaktur masing-masing.

*****

Seperti malam yang sudah-sudah, Chika melepas kutangnya menjelang tidur dan tanpa diiringi tangisan.

Comments

comments