Prosa dan Tokoh-Tokoh Berakhiran Vocal A

Seorang puan suatu waktu pernah bertanya kepada saya, pertanyaannya terlampau sederhana, namun sulit bagi saya menjawabnya. Puan itu bertanya, “Mengapa tokoh perempuan dalam sebagian prosa Indonesia selalu menggunakan huruf vokal berakhiran ‘A’?

“Bisa jadi supaya latar rasa, sense, dan tone-nya bisa lebih terbangun,” jawab saya.

Saya tidak bisa menjawab dengan pasti waktu itu. Si puan terlihat murung dan merutuk dengan jawaban saya, mulutnya manyun.

Akan tetapi, saya sekarang mencoba untuk menuliskannya lebih panjang, semoga puan yang jauh di sana membaca jawaban saya atas pertanyaannya tempo lampau. Here there are.

Saya mencoba mengingat tokoh-tokoh tersebut dari nama-nama yang saya ingat, semisal; Milana, Alina, Mia-Mia, Zia dan Milea.

Pertama, berawal dari pertanyaan itu, saya tetiba mafhum dengan Chairil. Si Binatang Jalang yang ingin hidup seribu tahun lamanya. Sajak barunya Huesca terjemahan karya John Conford yang berjudul To Margot Heinemann.

Huesca

Jiwa di dunia yang hilang jiwa…

Meski sajak tersebut merujuk kepada nomina yang konteksnya nama tempat bukan nama orang, saya merasa bahwa saya kena sihir setelah membacanya. Bagaimana huruf vokal ‘A’ memiliki kekuatan tersendiri dari hal-hal yang telah saya sebutkan. Lalu saya  menemukan salah satu karya Pramoedya Ananta Toer, Larasati dimana tokoh utama tersebut memiliki nama panggilan Ara, ataupun dengan Annelies Mellema di dalam Bumi Manusia, tetapi ia lebih sering dipanggil dengan Ann. Pun lebih lanjut, di dalam alur roman tersebut, diceritakan pula Ara bertemu dengan Chairil.

Sementara pada waktu itu, Abdul Muis dalam Salah Asuhan memiliki tokoh utama yang bernama Corrie de Busse. Lain halnya dengan HAMKA, yang dalam magnum opusnya memiliki Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wick. Hal ini, ditambah dengan berkembangnya gaya semi-autobiografis yang muncul di pertengahan abad dua puluh.

Ketika saya membaca kumcer Si Burung Merak, Pacar Seorang Seniman, saya menemukan nama yang sangat terkenal; Wasya dalam Wasya, ah, Wasya. Potongan seperti di bawah mungkin tidak secara komprehensif menjelaskan, pun saya nukilkan sebagian saja dari cerpen Rendra;

“Rendra, Makam.”

“Makan,” kata saya membetulkan.

“Ah, yes, makan.”

“Terima kasih.”

“And also- er selamat pagi.”

“Selamat pagi.”

“What is your name?” tanya saya.

“Wasya.”

Selanjutnya, saya pertama kali berkenalan dengan Bernard Batubara, seusai nonton filmnya Radio Galau FM. Kemudian, saya berkenalan dengan Batubara lebih jauh lewat kumcernya, Milana. Begini ia menggambarkan tokoh perempuan dalam cerpennya;

Kali ini saya sudah tahu namanya. Milana. Ia bercerita mengapa ia melukis senja. Dan mengapa ia selalu melakukannya di atas feri yang menyebrangi Selat Bali, dari Banyuwangi ke Jembrana…

Dari beberapa karya yang ditulis oleh Eka Kurniawan, tokoh perempuan yang paling di ingat dalam kepala saya adalah Mia-Mia di dalam Taman Patah Hati. Saya suka  kohesifitas dari penulis yang masuk nomine Man Booker Prize ini terutama di dalam penutup cerpennya itu.

”Sejujurnya aku patah hati, tapi tak ada alasan untuk tak menerima kenyataan, kan? Jangan tunggu aku di hotel. Aku mungkin tak akan pulang ke Jakarta. Aku akan tinggal di sini, berteman dengan Benzaiten.” Setelah mengatakan itu, Mia Mia turun dari sampan ke dek. Sejenak ia berdiri di tepi danau, masih memandang Ajo Kawir yang tak berani balas menatapnya. ”Kuharap kamu bahagia dengan gadis itu.”

Ucapan Mia Mia tak terdengar seperti doa.

Mahfud Ikhwan, penulis asal Lamongan, di dalam karyanya Kambing dan Hujan pun bisa ditemukan pengunaan tokoh dengan huruf vokal ‘A’ di dalam prosanya. Nurul Fauzia, namanya. Saya mencoba mengambil dari potongan prosa pemenang Sayembara Novel DKJ dan Kusala Katulistiwa itu, di dalam terbitan Bentang Budaya hal 8-9 seperti di bawah:

“Fauzia, ya?

Fauzia hanya menoleh kecil, Basi! Makinya dalam hati. Fauzia berpikir, paling lelalki itu tahu namanya dari buku yang dibawanya. Ia hafal tabiat orang iseng yang butuh teman mengobrol. Makhluk-makhluk yang paling mudah ditemukan di bus antar kota.

Tidak bisa dimungkiri bahwa Dilan 1990 menjadi film adaptasi yang paling sukses, dengan jumlah penontonnya yang tembus sampai sekian juta, tentu konteks ini tidak terkait dengan film adaptasi pop islamisme yang tidak saya sebutkan dari awal. Jika penontonnya mungkin lebih tertarik bagaimana Vanesha dan Iqbaal memerankan peran dan Milea. Tapi bagi yang sudah membacanya, pasti mengerti bagaimana film dan novel sebagai produk budaya pop punya keistimewaannya masing-masing.

Tapi saya rasa, bila Anda sudah membacanya, ada beberapa hal yang lebih indah dari apa yang didapatkan dari menonton filmnya. Bagaimana Pidi Baiq menyusun kalimat-kalimat prosanya dengan sederhana, namun tetap memukau dan indah, contohnya:

Aku senang akhirnya bisa berpacaran dengan Lia. Bagiku, Lia adalah perempuan yang memiliki semua yang aku sukai. Aku suka ketika dia ada. Aku suka ketika dia ketawa. Aku suka ketika dia tersenyum. Aku suka ketika dia bicara. Aku suka ketika dia memelukku di atas motor. Aku suka ketika dia mampu meladeniku bicara. (Milea, Suara dari Dilan)

Dan tentu saja, tidak afdol rasanya, jika Alina karya Seno Gumira Ajidarma tidak disebutkan, nama tokoh ini kekal dalam ingatan pembaca karya-karyanya, tentu tidak hanya di dalam Sepotong Senja untuk Pacarku.

Alina tercinta, bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja –dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu… 

Jadi, kurang lebih begini puan, saya merasa bahwa huruf vokal memiliki fungsi pembentukan bunyi tersendiri, maksudnya dalam proses kreatif prosa liris romansa, bagi yang gandrung dengan genre yang satu ini, kekuatan bunyi mempengaruhi hook para pembacanya, tentunya jarang ditemukan bila kita mencoba membaca di dalam fiksi historis, thriller, maupun realisme magis, dimana kekuatannya lebih bertumpu pada kondisi psike para tokoh pembangun narasi ceritanya, berikut pembacanya.

Kebetulan di Esensiana, penyuntingnya seorang perempuan dengan huruf vokal berakhiran ‘A’, Mba Aifia namanya belum pernah terdengar di daun telinga saya menjadi tokoh utama dalam prosa Indonesia kontemporer, sampai saat ini. Bagi tuan dan puan yang belum memiliki tokoh perempuan, bisalah namanya disebut-sebut, dan sudilah kirim naskahnya ke kami. Saya akan mencoba memulainya.

Aifia, namanya, tentu bukan nama lengkapnya. Sekira setahun lamanya, saya berkenalan dengannya, lewat aplikasi pesan, dan setahun yang lalu untuk pertama kali saya bersua dengannya. ia tengah duduk di bangku taman, mengenakan blus hitam dan denim biru. Ada beberapa hal yang tak lekang dari kenang-kenang, tingginya sekira 165, ia manis, dengan bentuk wajah oval, kedua telinganya tak beranting ditutupi rambut sebahu, seolah-olah usaha agar ia tak terganggu bising kehidupan, bulu matanya indah tanpa mascara, senyumnya menawan berhias gigi-gigi kecil seperti biji mentimun dan di pipinya ada seberkas tahi lalat tipis.

Saya tidak bermaksud mereceh, demikian jawaban saya untuk puan atas pertanyaan puan yang ada di sana.

Comments

comments