Satu Jam di Salam

Belajar, bagi saya, adalah suatu ketidaksengajaan yang perlu diseriusi.

– Fajar

 

Beberapa waktu lalu, saya sedang selonjoran sambil mengusap manja layar ponsel. Jika sudah dalam posisi meditatif macam begitu, gatal sekali saya kalau tak membuka facebook yang kian kemari kian bikin baper saja inovasi-inovasinya. Setelah ucapan selamat pagi, lalu mengingatkan bawa payung karena hari akan hujan, kini ada video peringatan tahun pertemanan. Terakhir saya diingatkan bahwa sudah sekian tahun putus berteman di facebook dengan mantan saya. Ah, mungkin facebook tak bermaksud menyinggung persoalan sentimentil itu, mungkin juga facebook tidak tahu bahwa saya dan dia pernah lebih dari sekadar teman. Ok, saya hormati langkah facebook itu.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan soal facebook di sini. Saat sedang menyelami beranda yang isinya terbelah menjadi kelompok pilkada, piala dunia, dan online shop itu tiba-tiba notifikasi berbunyi. Nama saya disebut dalam kolom komentar oleh seseorang, Mba Cici namanya. Ia mengajakku untuk ke Jogja melihat langsung proses belajar di Salam. Meski aku tak tau banyak soal Salam, apalagi nanti di sana harus ngapain, saya iyakan saja ajakan itu. Itung-itung libur lebaran, pikirku dangkal.

Selang berapa hari, tanggal yang disepakati tiba, kami berangkat pagi-pagi sekali ke Jogja dengan menumpangi sebuah bus yang pada masanya adalah primadona masyarakat Purwokerto-Yogyakarta: Efisiensi. Kenapa tak naik kereta? Mahal, adanya yang eksekutif, kami pikir itu tak cocok dengan kantong dan khawatir mengganggu proses belajar di sana karena lalai pada kemewahan duniawi.

Sesampainya di telatah Jogja, kami di sambut oleh mas-mas Go Car, yang segera mengantar kami ke  daerah Bugisan. Tempat di mana bangunan bambu bernama Salam berdiri. Saya pikir ini bagian dari keramahan Jogja, eh tarnyata, saat masih dalam terminal Mba Cici sudah memesannya. Tapi tak apalah, yang penting kami tak perlu lontang-lantung dan sampai tujuan.

Di Salam, kami disambut oleh pria sepuh dengan gelas teh tinggal separuh di depannya. Pria tersebut lekas-lekas menyalami kami dan segera mempersilahkan untuk duduk. Rupanya Mas Heri—orang yang mengajak Mba Cici bertandang ke Salam—sudah berada di sana. Kami lantas mencoba menyesuiakan diri dengan obrolan yang sudah terjalin. Tentu kami yang sering nimbrung di obrolan orang sudah punya SOP untuk situasi semacam ini, yakni mengangguk ritmis sambil mesem seperlunya untuk mengimbangi obrolan.

Entah pada anggukan ke berapa, saya mulai nyantol dengan bahasan yang tengah dibicarakan, yakni soal melompongnya pola didik anak. “Yang perlu dididik itu orang tua si anak. Anaknya tidak memiliki masalah karena yang bermasalah justru orang tuanya. Mereka tidak tahu bagaimana cara mendidik anaknya, di situ masalahnya,” begitu Pak Toto—begitu pria sepuh yang tadi menyambut kami karib dikenal—menyentak perhatian saya. Belum juga ditanggapi, Pak Toto sudah menyergap, “Jadi, Salam ini menerima orang tua murid baru, bukan murid baru,” tuturnya mantap.

Memang di Salam, setiap kali ada calon anak didik, yang dites dan diwawancara adalah orang tuanya. Diukur sejauh mana orang tua memiliki consern mendidik anaknya. Salam meyakini, bahwa orang tua adalah kunci pendidikan anak. Sebab anak, belajar dengan menyerap pengetahuan dari sekitarnya. Untuk itu konsep sekolah di Salam adalah membuat lingkungan sosial yang kondusif bagi perkembangan si anak. Dengan konsep seperti itu, sekolah adalah proses dialektis antara guru, orang tua, dan si anak itu sendiri untuk terciptanya iklim pembelajaran.

Dengan menciptakan iklim pembelajaran, maka yang terjadi sekolah bukan tempat menasehati, ceramah, apalagi tempat penghukuman. Melainkan tempat yang membuat anak terlibat langsung dalam suatu peristiwa edukatif. Misalnya saja Bu Wahya, istri Pak Toto, menyebutkan bahwa, di Salam, anak-anak seringkali membawa mainan lalu di situ mereka saling pinjam. “Seringkali diakhiri dengan tangis, ya namanya juga anak,” ujar Bu Wahya. Tapi justru di situ letak pelajaran tentang kerjasama, solidaritas, empati, dan lain sebagainya diketengahkan. Jadilah anak-anak di Salam belajar dengan merespon pengalamannya.

Ia juga menyayangkan soal banyaknya tempat pendidikan anak yang sibuk dengan hal-hal teknis seperti metoda mengajar, kurikulum, masuk jam berapa, berapa jam pelajaran dan sebagainya. Sehingga sekolah justru sibuk dengan rencana dan SOP yang sama sekali tak menyentuh proses yang komprehensif pada para siswanya. Misalnya saja soal keterlambatan, siswa seringkali mendapat semacam hukuman untuk setiap keterlambatan. Alasanya sepele, yakni hendak menanamkan kedisiplinan.

Sayangnya kedisiplinan yang bercokol di keyakinan kita adalah kedisiplinan ala militer. Anak diajarkan untuk manut, diam, mekanik, dan diperlaukan kaku sebagaimana robot. Kedisiplinan hanya tentang boleh tidak boleh, begini maka begitu, dan hal kaku lainnya. Itu semua justru akan mematikan imajinasi, bagian terpenting sekaligus kunci pendidikan anak.

Sementara Salam, merespon keterlambatan dengan memberi siswa itu ruang menjelaskan kenapa dia terlambat. Misalnya saja karena orang tua yang mengantarnya terjebak macet di palang pintu kereta api, maka pembahasan mendadak berubah ke bab transportasi dan edukasinya, untuk kemudian mempersilahkan si anak mengambil posisi ternyamannya guna mengikuti kelas. Dengan begitu, anak tak merasa dihakimi untuk hal-hal yang tak seharusnya ia dipersalahkan. Bagi Salam, semua kejadian adalah pembelajaran untuk anak, tergantung dari bagaimana kita memprosesnya.

Obrolan terus berlanjut, saling saut, sampai kemudian saya terhenyak ketika Pak Toto dengan gamblang menyebut di Salam tak ada pelajaran agama. Pada bagian itu, mekanisme batin saya langsung bekerja: hmmm sekolah kok melupakan agama, mau jadi apa nantinya. Tapi batin saya itu buru-buru saya koreksi ketika Pak Toto melanjutkan kalimatnya. “Salam tidak mau terjebak pada kulitnya saja, membentuk keimanan itu mestinya inklusi, menyatu dengan perilaku sehari-hari.” Selama ini pelajaran agama di sekolah-sekolah adalah pelajaran tentang menghapal teori-teori agama. Sekolah justru tak punya waktu untuk mendorong peserta didiknya mempraktikkan saripati agama.

Pernah ada satu kejadian, di mana sepulang sekolah ada anak yang hendak memetik rambut jagung. Lokasinya tak jauh dari Salam yang memang letaknya persis di tengah sawah. Karena tak cukup tinggi, maka anak tadi melompat lalu meraih rambut jagungnya dan … plettaakk, tak dinyana justru batangnya yang patah. Spontan si anak itu menangis menemui gurunya di Salam untuk mengantarkannya meminta maaf pada pemilik jagung tadi. Begitulah “pendidikan” agama di Salam, menyatu dengan lelaku. Pak Toto dan Bu Wahya pun menyebut contoh-contoh lain yang tak bisa saya ingat satu-satu. Maklum ingatan saya sedang melemah akhir-akhir ini, karena selain ingat mati, juga ingat dia terus. Uhuk.

Lalu di tengah perbincangan hangat nan reflektif itu, Bu Wahya mulai melongoki jamnya. Kami pun paham bahwa, ini pertanda jatah obrolan kami segera berakhir. Memang sebelum obrolan dimulai Pak Toto dan Bu Wahya sudah menyampaikan akan ada acara sekira jam tiga.

Sebelum kami pamit, Pak Toto kembali mengingatkan untuk menata niat ketika hendak menyelenggarakan pendidikan anak. Jangan karena hal-hal yang teknis justru melupakan inti. Kami pun mengangguk kompak seraya berpamit, menyalami pasangan sepuh yang tak kenal lelah menebar inspirasi itu. Tabik.

Comments

comments