Searching (2018); Menelusuri Jejak Alasan, Misteri yang Punya Hati

Score: 4,5/5

I didn’t know her, I didn’t know my daughter...”

-David Kim

Momen ketika David Kim melontarkan kata-kata “I didn’t know her, I didn’t know my daughter…”, seketika itulah terasa sesak dada dan menghangat mata. Ada tamparan yang kuat ketika itu. Benar saja … seberapa kenal kita terhadap seseorang?

Katakanlah teman dekat, atau keluarga sekalipun. Banyak menghabiskan waktu bersama, melewati banyak hal bersama, dan di konteks zaman sekarang? Kita perlu berpikir ulang untuk menemukan jawabannya. Dari sanalah film ini masuk, yang tak hanya menawarkan balutan misteri investigasi, tapi juga mengungkap pertanyaan mengenai “Seberapa kenal?”.

Cerita dimulai setelah putri David Kim (John Cho), Margot Kim (Michele La), remaja berumur 16 tahun dinyatakan hilang. Investigasi lokal yang dipimpin oleh Detektif Rosemary Vick (Debra Messing) pun dibuka. Namun, setelah 37 jam berlalu tanpa ada petunjuk berarti, David memutuskan untuk mencari petunjuk di laptop putrinya,–media yang sudah jadi tempat menyimpan rahasia di zaman sekarang khususnya khalayak muda–, dari situ satu-persatu “jejak digital” ditemukan, dan David harus bergelut dengan waktu yang terbatas sebelum putrinya benar-benar menghilang.

Tak perlu banyak waktu bagi Searching untuk menunjukkan pesonanya. Dari adegan pembuka saja, perhatian penonton sudah direbut. Layaknya sedang menatap layar PC sendiri, audiens bak dihipnotis. Ya! Kita menyaksikan film ini dari sudut digital! Sama seperti Unfriended (2014) dan Aib #Ciberbully (2018).

Selanjutnya tampilan awal Windows XP yang sederhana nan friendly pun menghiasi layar bioskop, bergerak perlahan-lahan menuju pengambilan foto bersama keluarga Kim, yang nantinya kita tahu bahwa komputer adalah sarana penyimpanan kenangan mereka.

Kemudian berangsur-angsur muncul platform-platform yang pasti kita kenal, sebut saja YouTube, Facebook, dan Instagram. Pun saat durasi bergulir kita juga akan menyaksikan berbagai kreatifitas dalam penyampaian ceritanya, dari penggunaan screensaver, fitur map atau peralihan adegan dengan menggunakan situs YouTube.
Yang menuntun pada kesimpulan, bahwa Searching tak hanya memikat secara visual, namun juga pintar.

Searching yang ditanyangkan di festival film Sundance pada 21 Januari lalu, –yang juga memenangkan penghargaan Alfred P. Sloan Prize serta NEXT Audience Award di festival film yang sama–, dari awal memang sudah berhasil memancing rasa penasaran. Dan rasa penasaran itu pun terbayar lunas. Pasalnya, kita tak hanya diajak menyaksikan sebuah film dari kacamata digital, namun juga mempertanyakan esensi dari media itu sendiri. Dan bagaimana pengaruhnya terhadap pengguna.

Konversi antara dunia nyata ke dunia digital pun dieksekusi dengan efektif. Sebut saja ketika karakter Abigail (Briana McLean) membuat video tribute untuk Margot, dengan bumbu tangisan dan sedikit “Margo is my best friend”, sontak netizen memberikan komentar “That’s a strong stuff!”, padahal saat David menanyakan keberadaan putrinya, Abigail hanya menjawab “We’re not that close”. Miris. #FuckFakeFriend

Dari sisi emosional, Searching pun tampil memukau. Mengeksplorasi elemen terdekat kita, yaitu keluarga. Tempat kita kembali. Searching dengan tegas mengungkapkan bahwasannya sesuatu yang telah tiada tidak seharusnya tak dibicarakan, karena bagaimanapun keluarga tetap bagian dari diri kita.

Kemudian hubungan antara orang tua dan anak, yang dari film ini pun ada definisi baru dari kata “terbuka”. Semua elemen itu berjalan beriringan dan disimpulkan dengan apik pula. Dibantu dengan performa pemeran yang mumpuni, John Cho,–setelah Colombus (2017)–, jelas sedang dalam masa jayanya. Dengan begitu lengkaplah, Searching jelas punya peluang jadi salah satu film terbaik di tahun 2018 ini.

Singkat kata, film dengan durasi 1 jam 42 menit ini adalah sebuah mahakarya. Aneesh Chagarty dengan debut penyutradaraannya berhasil mengawinkan banyak elemen dalam film ini, menjadikannya tak cuma sekedar tentang sebuah investigasi menegangkan, memancing berbagai spekulasi, tapi juga media chatarsis, yang emotionally effective. Namun tetap dalam kadar yang wajar tanpa adanya dramatisasi berlebihan. Two thumbs up! Sangat direkomendasi.

Comments

comments