Sebuah Perpisahan yang Biasa-Biasa Saja

Beberapa pekan yang lalu, sekira pukul sepuluh malam, aku keluar mencari kopi dan rokok yang sudah habis sejak sore. Malam diselimuti awan, sementara cahaya jingga dari lampu jalanan nampak terang menghiasi gerimis yang tidak berhenti turun, dan bulan di ufuk langit seperti biskuit bulat yang telah digigit.

Trek pejalan kaki yang siang hari dipenuhi orang yang berlalu lalang, menjadi bedeng tenda penjajak makan malam, dengan aroma bawang merah yang memikat siapapun yang menghidunya. Banyak orang duduk di atas tikar plastik, sebagian orang memakai jaket sebuah ormas, sementara lainnya berhias tato di lengan dan anting atau giwang tersemat di telinga kirinya. Suara peluit yang sumbang milik petugas parkir berulang kali berbunyi.

Aku melangkah masuk ke sebuah kedai seusai membeli rokok di toko yang buka 24 jam, dan memesan secangkir kopi, pemilik sekaligus penyajinya langsung menghaturkan salam dan menyapa. Selang detik waktu, minuman yang datang ke mejaku bukan kopi, melainkan segelas minuman dingin dengan sedotan hitam. Aku menelan heran, apa dia tidak mengingat sama sekali.

Dia ikut duduk di bangku begitu saja. Melipat kedua sikunya diatas permukaannya.

“Maaf tuan, aku memesan kopi …,” kataku.

“Apa kau sudah dengar?”

“Tuan, aku memesan secangkir kopi!”

“Kemala bakal menikah …,” pungkasnya.

“Itu sama sekali bukan urusanku.”

“Bukankah itu minuman yang selalu ia pesan jika kau mengajaknya kemari?”

“Aku tahu . . .”

Kedai yang dulu menjadi langganan kami sejak tadi sepi, dihampiri oleh orang lain, lantas ia pergi kembali ke muka kompor, mengorek sudip diatas wajan dan menuang air dari termos. Aroma bawang merah yang kuat tak sedikitpun menggodaku untuk tidak pergi.  Aku hanya meninggalkan uang di sebelah gelas bertangkai, lantas pergi ketika ia tengah disibukkan pesanan pelanggan yang lain. Tanpa pamit.

 

Saat kakakku menikah, aku mengajaknya ikut serta, menjemputnya dan menggandengnya masuk ke tenda biru dan mengantarnya ke kamar bakal istri saudara tuaku dimana ia sedang dirias, ia membuka tas selempangnya, dan menyulurkan kado berisi tipografi yang dibingkai kaca. Mbak menerimanya dengan sumringah. Kakak tidak banyak berkata dan hanya berterima kasih. Aku tidak sempat mengenalkan Kemala ke ibu dan bapak yang sibuk berganti pakaian untuk resepsi, adik perempuanku tak hirau sama sekali kalau-kalau kakak keduanya membawa seorang kekasih, sementara adik bontotku menyapanya hangat, lalu mengajak Kemala ke tepi kali, melihat bebek-bebek yang berenang dan mencari ganggang hijau atau udang di balik batu. Aku sibuk memotret kakakku beserta istrinya.

Setelah menyantap peresmanan dan mengudap kue pernikahan, kami pamit, aku mengajaknya ke rumah, ibu menyambut dan memperlakukannya seperti semestinya mertua, belajar memainkan peran barunya esok, mengajaknya berbincang, Kemala merespon ibu selaiknya menantu, dan ramah lagi sopan laiknya arti asmanya, sementara aku berganti kaos dan jaket dan meminum sebotol penuh air dari lemari pendingin.

Beberapa pekan sebelumnya, sesaat memintanya untuk datang ke pesta perkawinan kakak, ia menyetujui dengan tangan terbuka dengan satu syarat, aku mau menjemput kakak perempuannya di stasiun. Aku pun menyetujuinya. Kemala dan kakak perempuannya merupakan penumpang Kamandaka yang setia.

Malam dingin membeku, kurang lebih pukul sepuluh, aku sudah berada di atas jembatan di samping kuburan, menanti barangkali ada panggilan di layar telepon genggam.  Lagu keroncong ciptaan Raden Soetedja pengisi jeda pemberangkatan kereta mengalun-alun, Di tepinya Sungai Serayu mengiringi setiap jejak keberangkatan dan kepulangan. Sementara para penumpang mulai berduyun-duyun membanjiri pintu keluar di tepi selatan dan utara.

Kakak perempuan Kemala nampak berdiri menggendong tas punggung di muka pintu stasiun, ia amat mirip wajahnya, hanya saja dia sedikit tirus. Aku turun, menyalaminya, meminta maaf tidak sempat membalas panggilan dan pesannya, ia membonceng, aku dan Mbak Is lantas pulang.

Setelah tiba di dusun yang di maksud, aku bertanya ke warga sekitar dimana rumah induk semang Kemala menginap semalam, si empunya jawaban, mengajakku menyesap kopi, di dataran pegunungan yang dingin. Kemala, mengambil konsentrasi Geofisika, ia belum turun dari gugusan pohon sipres diatas bukit. Ia tengah meneliti soal lapisan tanah di daerah penghasil salak yang rawan longsor, bahkan setahun sebelumnya di daerah itu  terjadi bencana nasional yang mengubur sebuah dukuh, Presiden pun turut serta menanam kakinya di endapan lumpur bekas longsoran di tengah masa jabatannya yang baru beberapa bulan belakangan.

Aku unjuk pamit menuju masjid, bersandiwara berniat menunduk di ubin masjid, laku yang buruk.

 “Lah kok kamu udah disini? Katanya ke Cilacap?” sapanya tetiba muncul di muka pintu toilet masjid.

“Balik tadi, kamu kusam sekali,” balasku.

“Kan mau mandi, nanti habis itu kita jalan yah!”

“Ya, jalan pulang kita.”

“Tidak perlu dandan?”

“Tidak usah. Tapi dandan juga boleh nanti balik dulu ke rumah, aku belum mandi.”

Aku menjemputnya setelah hanya mengantarkan keberangkatannya dengan lambaian tangan kemarin. Ia mengajak ke rumah induk semang, pamit ke dosen pendampingnya.

“Jangan kebanyakan gaya pengereman mas,” pinta ibu dosen pendamping.

Dan aku hanya mengangguk, mengiyakan permintaannya.

Di sela perjalanan pulang yang penuh dengan jalanan sempit dan tikungan tajam, tak henti-hentinya ia bercerita bahwa ia suka sekali terlibat dalam proyek penelitan susunan lapisan tanah di pegunungan yang struktur tanahnya labil dan rawan longsor. Ia suka dengan pohon sipres yang tidak bisa dihitung dengan jari, bunganya yang enggan layu, ujungnya yang seperti jarum serta hawa sejuk yang menyelimuti, sangat berbeda dengan rumahnya yang penuh dengan deru kendara Pantura, dan gemerisik debu pasir yang dibawa angin saat sore, ataupun genangan akibat air laut yang meluap.

Setibanya di rumah, ibu menyambut Kemala seperti seorang mertua menyambut menantu, belajar memainkan peran baru yang baru ibu tunaikan berapa minggu, mengajaknya berbincang. Ibu telah menyiapkan teh manis hangat, beserta mi goreng yang ditutupi telur mata ruminansia, menanyainya soal proyek yang dikerjakannya, selagi aku mandi.

Kemala menemani ibu mengobrol dengan sumringah, aku tahu ketika ia pulang, ia hanya disambut bibi bantu yang mengurus rumah dan membuang sampah di pagi hari, sementara Mbak Ifah sibuk mengurusi perkakas anak-anaknya yang hendak pergi ke sekolah. Ibu rezekinya jauh, menjadi saudagar di salah satu wilayah yang sama dengan kawasan Sarinah di Ibukota, tidak jauh dari tugu bundaran HI.

Meski jalanan licin, setelah derai gerimis luruh, kota tetap berdenyut, roda-roda kendara yang melaju saling bertumbukan di lampu merah. Kami tengah menuju minimarket, mereservasi tiket kereta nantipagi. Seusai membayar tagihan, kami menuju kedai ayam goreng di sudut lain kota.

“Apa kau ingat sewaktu aku kehujanan dan kau memberi jaket serta selembar kaus olahraga?” tanyanya membuka obrolan menunggu pesanan datang.

“Kenapa?” jawabku.

“Jangan malas seperti itu. Itu terjadi belum terlalu lama, belum sepenuhnya mengendap di dasar sumur ingatan.”

“Ya. . . “

“Nomor punggungnya itu tanggal lahirku bukan?”

“Lalu?”

“Kau memakainya terlebih dahulu sewaktu kejuaran futsal antar kelas sefakultas, kau andil mengantar kelasmu juara. Lalu pensiun dari kelas.”

“Biar meninggalkan kesan yang indah-indah saja.”

“Dan aku menyorakimu dari tepi lapang, tapi aku malah mendapat sorakan dari teman-temanmu yang menonton.”

“Ya. . . “

“Aku terbiasa memelukmu dari belakang dan nomor yang tersemat itu menjadi semacam kendara hal-hal yang telah lalu, esok atau lusa kita tidak bisa seperti itu lagi.”

“Ya. . . “

“Nanti balaslah kasih sayang yang jumlahnya sama jika seseorang memberikannya kepadamu, seperti di Hukum Avogrado.”

“Ya, bakal aku ingat.”

“Tapi kau juga harus ingat?”

“Tentang apa?”

“Aku pernah membuang banyak waktu untukmu dengan percuma,” tukasnya diikuti kelakar.

“Harusnya kita bersedih bukan saling meledek,” pungkasku.

“Untuk apa bersedih? Kembali ke Teori Relativitas saja. Besok aku pulang, tapi boleh aku minta dua hal?”

Aku mengangguk, mengiyakan permintaannya.

“Tolong antar aku stasiun, aku ingin kau mengantar kepulanganku untuk yang terakhir, dan setelah aku pulang. . . .”

Ia membuat jeda pembicaraan diantara kami.

“Kenapa berhenti?”

“Aku ingin berbicara denganmu lagi!”

“Tentu. . .”

“Dan hanya kita berdua . . .”

“Apa kau sudah pernah membaca Zambra?”

“Siapa dia?”

“Penulis asal Chile, yang cerpennya baru saja terbit di New Yorker?”

“Akhir-akhir ini aku sibuk di lab, nanti kalau belum tidur aku cari.”

“Kita ke stasiun dulu nanti, cetak tiket, kau suka malas kalau bangun.”

“Aku menurut saja.”

Esok paginya di pagi buta, ia melambai di depan petugas pengecek tiket dan kartu penduduk, Kemala menghilang di balik Peron. Lagu jeda pemberangkatan memudar suaranya, diikuti kalimat-kalimat pengingat yang dilantunkan petugas stasiun.

Mengenai nomor punggung itu, mengingatkan percakapanku dengannya ketika kami baru berpacaran beberapa bulan. Aku tak ingin mengingatnya, tapi ia mengapung begitu saja, seperti aroma basa selepas hujan turun, orang-orang menamainya sebagai petrichor. Kami mengobrol sembari duduk dan menggenggam minum di Menara Telkom. Kami berpakansi seharian waktu itu, dan boleh jadi itu menjadi hari dimana ia memelukku dari belakang dalam waktu yang paling lama.

“Kenapa kita kesulitan bernapas duduk di sini?” tanyanya membuka obrolan.”

“Karena capek harus jalan kaki dulu,”

“Bukan itu . . .”

“Terus apa?”

“Disini dekat gelombang yang kuat dari pemancar sinyal, selain karena berada di dataran tinggi yang hampir setara dengan awan Cumolonimbus, awan yang membawa hujan.”

“Ya. . .”

“Dan selalu saja seperti ini. . . .”

“Maksudmu?”

“Seperti yang dijelaskan oleh Einstein, dekat denganmu waktu begitu cepat habis, sementara menanggung waktu jeda pertemuan, terlampau berat dipikul seorang diri.”

“Kemarin aku baru membaca Mimpi-Mimpi Einstein, yang ditulis Alan Lightman,”

“Tentang apa?”

“Baca sendiri nanti. . . .”

“Sebenarnya jarak yang memisahkan kita itu dekat saja bahkan tidak ada, pegunungan yang memisahkan Pekalongan dan Banjarnegara, itu sejatinya fana, ia baru tercipta beberapa ratus ribu tahun yang lalu ketika lempeng bumi bertubrukan dan menciptakan daratan baru, daratan itu diberi nama Pulau Jawa,” sambungnya.

“Berarti kita masih berada di alam arwah sana dan berkumpul dengan para leluhur dan bakal anak cucu kita, sayap-sayap kita belum lagi dipotong oleh para malaikat dan meletakkan kita di dalam rahim ibu.”

“Ya, jika suatu saat aku sedang tidak baik, kau harus berperan meredam egoku, dan berusaha menenangkannya, jangan malah merutuk,” tuturnya menerangkan Hukum III Newton dengan gaya melankolis.

Aku hanya mengangguk tanpa mendebat, saat pergi keluar, di tengah obrolan ia kerapkali mendongeng hukum-hukum dan teori yang ada di Fisika dan menggubahnya menjadi metafor-metafor. Ia tengah merapal materi yang ia dapat di kelas. Kami turun ketika kabut semakin pekat. Lantaran kehabisan ongkos, kami hanya membeli stroberi seberat sekilo dan dibagi untuk kami berdua.

Seperti pertemuan yang sudah-sudah diantara kami, sesuai janji kami bertemu di kedai makan pinggir jalan, minumannya pun masih sama, es jeruk.

“Aku pulang tapi ibu sibuk ngobrol soal politik,” paparnya.

“Terus?”

“Iya aku kan hanya pulang sehari saja.”

“Ibumu kan mantan anggota dewan, kalau ada tamu yang safari politik sekalipun, itu menjadi wajar. Atau mungkin ibumu sedang dipinang partai untuk maju kembali.”

“Ibu sudah dipinang oleh bapak silam, aku tak mau ikut-ikutan soal itu,”

“Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku.

“Barangkali, kita akan bertemu lagi entah di suatu tempat, atau bersama lagi entah kapan?”

“Tentu. . . “

“If you sad to hear that. Please don’t be.

“Aku kan sudah menyuruhmu membaca Zambra kemarin!”

“Hubungannya apa?”

“Aku tidak bisa mengatakan apapun untukmu sekarang, lewat cerpen Zambra itu yang ingin kuutarakan,”

“Judulnya apa? Kau belum memberitahunya.”

Thankyou. . . “

“Nanti aku baca,” pungkasnya.

“Buku bapakmu, masih ada di aku, mau diambil?”

“Sudah simpan saja, anggap saja kenang-kenangan.”

 

Terakhir kali aku pulang yang ibu tahu aku dan Kemala tengah berbaik-baikan saja. Aku tidak tahu sama sekali bagaimana benang pembicaraan harus mulai dirajut dengan ibu. Seperti biasanya, aku berjalan menyongsong ibu menentangkan punggung serta telapak tangannya untuk dikecup, seperti yang dulu diajarkan di pesantren.

“Ibu sekarang tidak perlu khawatir bakal punya besan yang jauh,” aku mencoba menjelaskan dengan sebaik mungkin.

Ia hanya tertegun, menekuri seisi ruang. Aku memberitahunya untuk tidak mudah khawatir, tapi air mukanya justru mencerminkan kekhawatiran.

“Apa alasannya?” tanyanya dengan sungguh-sungguh.

“Aku kira kami sudah tidak cocok.”

“Klise sekali. . .”

“Begitu keadaannya Bu.”

“Aku kira kau akan memberiku cucu sebanyak enam belas.”

“Bagaimana mungkin?”

“Kau empat bersaudara, ia pun empat bersaudara.”

“Aku tidak sedang bercanda Bu . . .”

“Lalu apa?”

“Seperti yang ibu tahu, kami tidak bisa bersama-sama lagi, kami sudah tidak mungkin bercocok tanam dan beranak pinak sebanyak enam belas kelak.”

Ibu tidak berkata apa-apa lagi. Dan membiarkan aku beristirahat.

Semenjak itu, aku tidak pernah lagi bercerita soal teman dekat wanita, sebisa mungkin aku mengalihkan pembicaraan soal hal itu kepada ibu. Sekalipun ia bertanya, aku hanya menjawabnya dengan ringkas. Dan aku tidak pernah lagi mengajak teman dekat perempuan untuk main ke rumah, sekalipun misalnya aku tengah dekat dengan perempuan dari kecamatan sebelah. Seandainya ia menjemput atau mengantar ke rumah, aku tidak sekalipun membolehkan ia tahu rumahku, lalu menghantar kepulangannya dengan lambaian tangan di depan gang, tanpa kecupan di kening seperti di opera sabun selepas Maghrib.

 

Selang beberapa malam lembam di kedai, aku memutuskan menelponnya, seusai ia pulang dari kantor.

“Ada apa? Tumben sekali menelpon?”

“Katanya kau bakal menikah?”

“Ya, apa kau mau datang?”

“Aku belum ada tabungan ke Pekalongan!”

“Toh masih lama, Desember nanti.”

“Kita selesai di bulan itu, dan di bulan yang sama kau hendak menikah,” kataku.

“Justru itu bagus, jangan lupa bawa serta penggantiku,” tukasnya.

“Ya, semisal dia mau.”

“Salam buat bapak, sampaikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya dari mantan kekasih anaknya yang anak Pantura,” katanya diikuti derai tawa.

“Ya, nanti aku sampaikan. Sampaikan ucapan selamat juga buat Mbak Is dan Mas Danang atas kelahiran anak pertamanya, semoga cepat diberi adik agar tidak kesepian sepertimu yang anak  bontot,” balasku.

“Sial, oiya. . .  lupain obrolan kita tempo dulu. Dan aku minta maaf untuk itu. Hukum Kepler I diantara kita sudah tidak berlaku lagi,” ucapnya pelan.

“Untuk apa minta maaf? Toh bukan perlombaan. Aku bakal menerapkan hukum-hukum Fisika yang lain, kau tenang saja.”

“Ini lomba, nanti kau juga akan kerja dan merencanakan menikah. Ingat Hukum I Kirchoff, jika kau datang, aku pun kelak akan datang,” tutupnya.***

Comments

comments