Tentang Hilangnya Profesi Petani

Beberapa hari belakangan, sebagian dari kita dikejutkan dengan pernyataan Bappenas yang memprediksi pada tahun 2063, profesi petani tidak ada. Pernyataan tersebut bukan tanpa didasari alasan yang kuat. Pasalnya memang jumlah petani terus menurun dari tahun ke tahun. Menurut data Bappenas rasio petani dengan jumlah penduduk menurun dari 65,8% di tahun 1976 menjadi 28% saja di 2019. Jika trend terus berlanjut, maka cepat atau lambat, prediksi Bappenas akan terjadi.

 

Masalah pertanian memang dilematis. Karena kesejahteraan petani mesti bertentangan dengan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Jika petani ingin sejahtera maka harga-harga komoditas terkesan mahal, sehingga tak terjangkau oleh masyarakat kelas bawah yang bukan petani. Dan sebaliknya, jika harga-harga komoditas rendah maka petani yang dirugikan. Dan inilah yang sering terjadi. Terbukti dari nilai tukar petani (NLP) yang masih di bawah 100. (sebagai tambahan informasi, bahwa jika nilai tukar petani di bawah 100 berarti hasil dari pertanian di bawah kebutuhan hidup wajar petani, pun sebaliknya).

 

Sebagai regulator, pemerintah selalu gagal menyeimbangkan pertentangan keduanya. Di mana diharapkan harga jual komoditas cukup menguntungkan bagi petani dan masih terjangkau oleh kalangan masyarakat ekonomi rentan. Ini bisa dilakukan dengan berbagai intervensi yang bisa dilakukan seperti subsidi dan pembangunan infrastruktur untuk menekan biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh petani.

 

Tapi toh selama ini itu semua tidak terjadi. Tanpa menihilkan peran pemerintah, faktanya banyak yang belum berubah dari wajah pertanian kita: kotor dan miskin. Itu jugalah yang membuat sebagian besar petani–untuk tak menyebut semuanya–berharap anaknya tak jadi petani. Mereka tak mau anaknya hidup susah menjadi petani, maka didoronglah untuk pergi sekolah ataupun merantau ke kota. Tentu dengan satu tujuan kuat, merubah nasib.

 

Petani adalah profesi

 

Sebagai sebuah profesi, petani mestilah menghasilkan keuntungan bagi yang menggeluti agar dapat menarik peminat. Karena bagaimanapun sebuah profesi digeluti untuk menjaga hidup dan penghidupan pelakunya. Saya pikir tidak ada satu orang pun yang mau menghabiskan waktunya untuk bekerja keras, berpanas-panasan, untuk memperoleh hasil yang tak seberapa jika bukan karena terpaksa. Inilah yang kerap petani kita rasakan sehingga membuatnya perlahan-lahan meninggalkan profesinya.

 

Di satu sisi, pertanian merupakan bidang usaha yang syarat modal.    

Comments

comments