The Nun (2018); Sajian Potensial yang Terjebak Medioker

God ends here….”

– Father Burke

The Conjuring Universe telah memasuki babak baru. Dengan 2 film utama (The Conjuring (2013), The Conjuring 2: The Enfield Poltergiest (2016)), dan spin-off (Annabelle (2014), Annabelle: Creation (2017)) kemudian disusul dengan The Nun. Sama seperti Annabelle, film ke-5 dalam jagad Conjuring ini mencoba mengeksplor dan menyibak misteri dari sosok ikonik dalam film utamanya sendiri, dan dalam hal ini karakter Valak, yang muncul di seri film ke-2.

Jika dilihat lebih dekat, karakter ini sudah ada sejak awal. Empat film sebelumnya memberikan petunjuk,–tersembunyi maupun secara eksplisit–, akan keberadaan sosok menyeramkan ini. Dari objek potret, patung, foto, goresan nama di dinding, dan audio. Baik dalam durasi maupun creditnya. Tak heran jika setting waktunya jauh mundur kebelakang, tahun 1950 tepatnya, yang gunanya untuk mengaitkan sekaligus membungkus semua clue yang ada. Secara keseluruhan, itulah usaha yang nampak.

Bertempat di Rumania, The Nun menceritakan tentang investigasi kematian janggal dari seorang biarawati bernama Victoria (Charlotte Hope), yang jasadnya ditemukan oleh Frenchie (Jonas Bloquet) dalam keadaan mengenaskan. Terlibatlah Pastor Burke (Demian Bichir) dan Suster Irene (Taissa Farmiga ‘adik dari Vera Farmiga yang berperan sebagai Laorraine Warren dalam universe yang sama’) sebagai investigator sekaligus perwakilan dari Vatikan, yang tugasnya tak cuma menyelidiki tentang kematian anggota biara, namun juga mencari klarifikasi apakah tempat mencekam di atas bukit itu statusnya masih murni ataukah tidak.

To the point saja, The Nun adalah film yang “seru” terlepas dari eksposisi panjang dan jawaban atas misteri yang terkesan simpel, tetap ada keutuhan di dalamnya. Perkawinan antara teknis dan pondasi ceritanya bisa dibilang bagus. Tata lokasi, visualisasi, audio, dan performa pemeran, semuanya seimbang. Departemen suara yang tidak berisik, presentasi visualnya memikat, belum lagi pengambilan gambar yang cerdik, elemen-elemen tersebut dikombinasikan jadi satu. Dalam porsi yang pas.

Namun, bagi yang familiar dengan semesta Conjuring, film dengan durasi 93 menit ini adalah sesuatu yang Anda harapkan bahkan bisa anda tebak arahnya. Sebagaimana pendahulunya, jump scare adalah menu utama. That’s what people talk about when they talk about horror movies anyway. Beberapa adegannya terasa seperti mendaur ulang adegan yang ada di film-film sebelumnya. Tetapi diulik dengan apik, jauh dari kesan mencontoh, lebih
condong ke referensi.

Akan tetapi sekarang adalah zaman di mana film horror mulai menunjukkan perkembangannya yang signifikan, dan The Nun tetap setia dengan “rumus” lamanya, and that’s not really a good thing. Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, terdapat eksposisi yang sangat panjang di dalam ceritanya. Sebagian durasi dihabiskan untuk menjelaskan dan menjelaskan. Diberikan kepingan-kepingan petunjuk, kemudian penonton ditakuti dengan parade jump scare. Yang hal itu bukan datang dari ceritanya, tapi karena mereka berada di tempat dan waktu yang salah saja. Film nya bergantung pada dua hal tersebut, penjelasan cerita dan jump scare, namun tak dibayarkan dengan tuntas saat kepingan terakhir dari teka-tekinya muncul. Seolah melihat susunan puzzle yang gambaran besarnya sudah diketahui, “Ooh, jadi ini gambar gajah? Terus apa?”

Tapi bagian jump scare-nya tak usah diragukan, jempolan! Sutradara Corin Hardy (The Hallow) dan James Wan (Saw, Aquaman, The Conjuring) yang berperan sebagai produser (sekaligus yang mengarahkan re-shoot adegan untuk bagian setting eksterior film), benar-benar tahu apa yang mereka lakukan.

Kombinasi gerak kamera yang dinamis, sentuhan scoring mencekam karya komposer Abel Korzeniowski (A Single Man, Nocturnal Animal, W.E), dan punchline yang mengigit. Hasilnya? Yummy. James Wan sepertinya memang harus mengampu mata kuliah “Jump Scare, Apa & Bagaimana” di Universitas Film Horror (?).

Yang disayangkan lagi adalah, sampai filmnya berakhir kita belum begitu mengenal Karakter Valak. Apa yang menjadi motivasi karakternya penonton tidak tahu. Alih-alih mendalami itu, naskah tulisan Gary Dauberman (It, Annabelle, Annabelle:Creation) cenderung menggunakannya sebagai senjata ketika tensi mulai menurun.

Film yang dimaksudkan sebagai film “Valak” ini justru menjadi The Conjuring 2.5. Apa yang dialami protagonis di kedua film, sama. Penjelasan tentang penyebab adanya tokoh itupun tak begitu memuaskan, yang mulanya faktor “kenapa” lebih menarik, tapi yang dikembangkan di sini faktor justru “bagaimana” lolos dan mengalahkan teror.

Pada akhirnya The Nun terjebak dalam dilema dan hadirnya terasa seperti sebuah keharusan bukan karena ada angin segar, karena horror franchise ini mesti tetap berjalan. Secara keseluruhan, The Nun tetap bisa dinikmati. Aspek teknis dan pokok ceritanya disatukan dengan baik. Elemen humor sebagai pencair suasana juga bagus. Tak ada yang lebih menonjol dari yang lain. Belum lagi menghitung kesimpulan cerita yang “crowd pleasing“, walaupun akan ada banyak pihak yang menyayangkan hal itu, termasuk saya. Ke depannya harus ada pengembangan formula, agar franchise ini tak cuma sekedar jadi pengisi kekosongan belaka.

 

(Score: 3/5)

Comments

comments