Tipologi Penerima Daging Qurban

Qurban

Sejak semalam takbir tak henti berkumandang. Sayup-sayup lafadz “Allahuakbar” saling bersautan dari surau ke surau. Tak terkecuali di daerah kontrakan saya, di pinggiran Purwokerto. Sudah sejak dua tahun lalu saya memutuskan untuk zuhud. Saya menjauhkan diri dari mewahnya kos-kosan area kampus dengan menempati sebuah kontrakan sederhana yang juga dijadikan sekretariat sebuah organisasi kemahasiswaan, PMII. Praktis tak ada fasilitas yang bisa saya nikmati dan bisa saya banggakan selaku penghuninya, tapi di sinilah saya dapat beri’tibar tentang arti kemiskinankesederhanaan yang memang diajarkan agama saya. Sehingga sayapun betah-betah saja. Mungkin inilah pemaknaan Qurban versi saya sendiri.

Di kontrakan berukuran mungil ini pula saya dipertemukan dengan kawan yang tak kalah tawadhuknya. Salah satunya adalah Arddo Suheri, pria kalem dengan penampakan serem ini sudah lama bersama saya. Ia dilahirkan di Kalimantan. Meski demikian dalam darahnya mengalir deras darah jawa, lantaran kedua orangtuanya adalah transmigran. Sejak semalam, Ardo pulalah yang menemani saya di kontrakan. Eh atau saya yang menemani Ardo di kontrakan. Ah terserahlah,  jelasnya kita berdua di kontrakan, yang kondisinya sunyi sepi lantaran ditinggal tetangga dan sebagian penghuninya mudik Idul Qurban.

Sudah sejak semalam pula, saya dan Ardo membicarakan tentang daging qurban yang lazimnya dibagi-bagikan kepada warga kurang mampu. Dan tentu saja, obrolan berlanjut pada khayalan bagaimana seandainya kami diberikan daging qurban. Sebagai manungso linuwih Ardo ngotot bahwa yang sedang dibicarakannya bukanlah khayalan. Menurut trawangannya, kami memang akan diberi jatah daging qurban. Entah darimana ia mendapat keyakinan itu, wong taun lalu ya nda dikasih og.

Saya pun mengabaikan apa yang menjadi hasil trawangan kawan saya itu. Lagian jarak masjid yang menggelar penerimaan Qurban juga cukup jauh jaraknya dari kontrakan kami. Sampai kemudian pintu diketuk oleh orang tak dikenal, dan dengan raut muka menang Ardo menenteng satu plastik berisi daging persis setelah membukakan pintu untuk orang tadi. Tak dinyana, dari sekian kekurangannya, Ardo dianugrahi karomah untuk melihat sajroning winarah. Ia mampu melihat tanda-tanda dari sesuatu yang belum terjadi.

Dari peristiwa transendens dan penuh hikmah itu kemudian saya merenung dan akhirnya menerima wahyu tentang tipologi para penerima daging qurban. Selanjutnya kita akan sebut receptor. Sebenarnya jumlahnya amat banyak, tapi kamu cukup mengimani beberapa diantaranya saja. Berikut apa yang diwahyukan pada saya itu saya tulis:

Tipe Normatif

Tipe normatif adalah tipe mainstream yang telah dijadikan standard dan rujukan setiap insan ketika menerima daging qurban. Ia cenderung anteng dan tak neko-neko dalam merayakan Idul Adha dengan atau tanpa daging. Ia bangun pagi untuk siap-siap sholat, kemudian selepas sholat ia meneruskan hari seperti biasanya. Sama sekali tak ada rasa was-was akan kehabisan jatah daging ataupun gugup karena akan dapat daging. Semua normal. Diberi ya syukur, tidak ya ndak papa.

Tipe Malu-malu Ayam

Untuk yang jenis ini tergolong cukup besar jumlahnya. Tipe ini umumnya tumbuh dan berkembang di jawa sebagai habitatnya. Sebagaimana kebiasaan orang jawa yang suka malu-malu, tipe receptor yang satu ini tampak sungkan menerima daging qurban. Bukan karena tak doyan, tapi lebih karena sifat pemalunya tadi.

Pemberi:  “Maaf mas, ini ada jatah daging kurban dari RT 03 untuk masnya”

Receptor: “Aduh Pak ndak perlu repot-repot Pak…..”

Pemberi: “oh ngga mau yasudah!” *sambil pergi

Receptor: “Emm nganu Paaak, Paaaaaaaak!!

Tipe Agresif

Berbanding 180 derajat dengan tipe pemalu, si agresif ini tak sungkan untuk mendatangi tempat penyembelihan hewan qurban. Bahkan pada beberapa kasus ia tega merampas kulit kambing yang sudah susah payah diumpetin panitia penyembelihan untuk mengganti kulit bedug masjid. Yang jelas, si agresif tak segan-segan berebut bahkan hingga bertindak anarkis demi mendapatkan daging qurban impiannya. Ciri khasnya, ia tak mau antri dan memiliki suara melengking.

Tipe Ngarep

Tipe ini memiliki keunggulan tersendiri dalam upayanya mendapatkan daging qurban. Yakni ia bisa memendam keinginannya yang mendalam itu dengan sangat rapat. Betapapun ia ingin makan daging, ia bisa menahannya. Paling-paling dia hanya mendatangi tempat penyembelihan sambil menaruh muka penuh harap memamdangi mas-mas yang sedang menguliti hewan kurban. Sesekali dia curi-curi pandang untuk melihat bungkusan-bungkusan yang sudah siap sebar. Selebihnya ia hanya diam dan bermohon pada kebesaran Allah yang Rozaq itu agar juga dapat bagian.

Tipe Fighter

Entah darimana datangnya, tipe fighter ini tiba-tiba nongol di tengah bapak-bapak komplek yang hendak menyembelih hewan qurban. Padahal sebelumnya ia tak pernah kelihatan di acara-acara sosial semacam kerja bakti atau pengajian rutin. Setelah kedatanganya yang misterius itu ia pun tak malu untuk bertanya “Pak adakah yang bisa saya bantu?” Dan setelah arahan diberikan, ia akan sigap melaksanakan perintah. Mulai dari membantu menarik hewan hingga membagi daging tekun ia kerjakan. Hasilnya sudah bisa ditebak, ia akan dihadiahi setumpuk daging sebagai upah kerjanya dan mission success.

Tipe Artsy

Mengikuti hukum alam everybody want to be seen tipe ini memanfaatkan betul momen bagi-bagi daging ini. Dengan sigap tipe ini mengabadikan gambar dan video mulai dari proses penyembelihan hingga daging siap dihidangkan. Wal hasil, dinding facebook, twitter, snapchat, dan aneka sosial media lainya penuh update mereka. Saya juga tidak tahu bagaimana mereka bisa bersuka ria ditengah duka cita para pedagang sate yang omzetnya menurun. Tipe artsy ini juga menganggap hanya dirinyalah penerima daging qurban di bumi manusia ini sehingga ia bangga mengabarkan pada dunia. Tipe ini didominasi anak muda tanggung yang memang dari sononya gampang kaget. Lebih-lebih kalo lihat daging banyak.

Sekian wahyu ini saya sampaikan, semoga dapat jadi perhatian. Ohya tolong bantu saya ya, untuk memasukkan kawan saya, Ardo, tadi masuk tipe mana. Atau memang dia harus dibuatkan tipe sendiri? Tipe paranormal misalnya?

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.