Toleran Tapi Kok Gitu

Di timeline (lini masa) media sosial saya berseliweran video anggota salah satu ormas Islam yang membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid, saat peringatan Hari Santri Nasional tahun 2018 di Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut. Sontak video tersebut kemudian viral dan menjadi bahan perbincangan netizen (yang maha benar).

Terlepas dari pro dan kontranya kejadian tersebut, saya kok jadi pesimis pada segala pekik “toleran, toleran, toleran”. Mau yang berbaju HAM, kontekstualisasi, dinamika kekinian, hingga penggalian ulang khazanah teks (baca: dalil). Apa pasal? Cuma satu: penyeru toleran di waktu yang sama cenderung intoleran. Bahkan boleh jadi termasuk saya. Menyedihkan bukan?

Mari kita coba cek sekarang dengan pikiran tenang: setiap penyeru toleran di detik yang sama cenderung menciptakan negasi pada faham, faksi, dan komunitas yang diklaim oleh mereka sebagai intoleran. Melahirkan underestimate (meremehkan). Mencetak diskriminasi. Pada tataran watak ini, apa bedanya mereka dengan yang meraka tuding? Lalu, apanya yang perlu diubah toh sama saja perihal ambisi dan egoismenya?

Sebutlah, misal seseorang atau sebuah komunitas yang menderaikan kibar-kibar intelektualitas yang melancarkan kritik tajam soal kesetaraan gender dan anti feminisme beberapa pekan terakhir. Mengecam feminisme yang katanya mendorong perempuan untuk berkarir, sehingga meninggalkan kodratnya sebagai ibu. Mereka boleh saja mengutip Simone de Beaurier hingga Julia Kristeva dan Fatima Mernissi untuk meneguhkan kritiknya.

Sayangnya, di waktu yang sama, Anda yang menyanjung HAM pada konteks kesetaraan gender, suami-istri, sekaligus menghina-hina orang lain yang persis manusianya dengan Anda, yang bahkan tak pernah tahu bagaimana rumah tangga itu dibangun dan dibina oleh sang suami?

Kasus sejenis sangat bisa ditularkan pada tema-tema lainnya, mulai agama, politik, dan sosial-budaya. Muaranya kemudian akan selalu sama: ngejudge negatif pada tradisi, misalnya pada kegiatan Sedekah Laut di Pantai Baru Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa waktu lalu, yang dianggap sebagai ritual syirik oleh sebagian orang. Sungguh hal tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan validitasnya, sama sekali bosque.

Memang, tidak berarti bahwa kritisi merupakan sikap yang salah. Tidak. Kritisi-kritisi tetaplah menjadi ranah intelektualitas yang memaikan peranan penting untuk mendorong ke arah kemajuan. Misal, pentingnya mengkritisi kebijakan (pembangunan) infrastruktur pemerintah yang kemudian menggusur tempat tinggal rakyat kecil. Mohon ini jangan dipolitisasi loh. Ups.

Tetapi yang sungguh sangat rentan untuk didiskriminasi ialah sikap kritis pada sesuatu yang sifatnya personal atau komunal-eksklusif. Ingat selalu yah guys, bahwa setiap kritisi yang memburaikan negasi di dalamnya otomatis terkandung diskriminasi dan subordinasi. Logikanya, bagaimana mungkin kita yang mengatasnamakan intelektualitas dan progresivitas zaman tetapi justru melakukan diskriminasi baru kepada pihak atau kelompok lain yang memiliki pandangan atau tradisi yang berbeda dengan kita? Bukankah itu adalah bentuk ketidakadilan baru dengan mengatasnamakan keadilan?

Bagaimana udah greget belum? Kompleks, rumit, dan rentan pertikaian memang. Itulah sebabnya, sangatlah penting bagi kita, utamanya kaum cerdik pandai, untuk terlebih dahulu merenungkan dengan mendalam segala dampak yang mungkin timbul dari sebuah kritisi kepada pihak lain. Sebab, kata Bu Guru bahasa Indonesia, ludah yang sudah jatuh ke tanah tidaklah mungkin kita telan kembali—melontarkan kritik yang semudah meludah takkan bisa dihilangkan begitu saja bila menancapkan cedera hati kepada orang lain.

Kini marilah kita semua memafhumi bahwa apa pun definisi dan epistemologi HAM yang kita dapuk, di detik yang sama kita harus punya hati yang legawa untuk menerima berbanjar-banjar definisi dan epistemologi HAM lain yang sama-sama based on kemanusiaan. Sesederhana itu aslinya, namun sangatlah sulit realisasinya. Jika untuk sekedar memahami keragaman beginian saja gagal, bagaimana mungkin kita jemawa menepuk dada sebagai pembela keadilan, kemanusiaan, dan pelopor teloransi? Uhuk.

Sumber gambar: republika.co.id

Comments

comments