Transformasi Bahasa, Yang Berubah dari Satu Gadget ke Gadget yang Lain

Transformasi bahasa
Transformasi bahasa
Yang menemani dari masa ke masa

“Kata itu hidup, mereka berubah sesuai waktu.”

-Araki, Fune wo Amu

Sejarah tidak pernah secara pasti mengungkap kapan awal mula manusia berbahasa. Pun kebanyakan orang tidak mengingat kapan pertama kali ia mengenal kata. Biasanya ingatan hanya berupa asumsi  yang menunjukan bahwa keluarga adalah pihak pertama yang mengajak berbicara. Dalam hal ini orang tuanya. Selebihnya, peran lingkungan yang menentukan mahir atau tidaknya seseorang mengikuti bahasa yang digunakan dalam keseharian.

Mari kita coba kembali mengingat bahasa yang ikut tumbuh bersamaan dengan kehadiran teknologi, mulai dari HP “gebuk anjing” sampai kini era ponsel layar sentuh digdaya, barangkali bisa membantu kamu untuk menghilangkan sepilelah. Sedikit bernostalgia bahwa dulu kita pun pernah remaja. Terutama buat kamu yang sekarang sudah mencapai usia yang disebut dewasa.

Sepuluh tahun silam, mendapat ponsel yang hanya mengandalkan fungsi sms dan panggilan telefon rasanya sudah gembira bukan kepalang. Pun perihal hanya bisa menikmati ringtone monoponik bukan hal yang menyedihkan. Adapun fungsi lain itu ya paling sebagai “gebuk anjing” mengingat bodinya yang begitu kokoh dan solid.

Kala itu, fasilitas radio masih sering digunakan untuk sekadar mendengar lagu kesukaan atau titip salam untuk pujaan. Yakan? Belum lagi, provider masih cukup baik menyediakan layanan nada sambung pribadi—mengambil istilah dari provider besar Indonesia. Seringkali, kita iseng, miscall kawan sampe berkali-kali untuk mendengarkan nada sambung dari telepon di sebrang sana. Jujur, kalian pasti pernah kan?

Meski ponsel kala itu hanya bisa mengirim pesan singkat dan menghabiskan pulsa, nyatanya sudah bisa membawa dampak perubahan bahasa cukup tinggi. Bahasa pesan singkat saat itu misalnya, akan sangat aneh jika di masa kini. Tapi percayalah, dulu penggabungan huruf kapital dan huruf kecil secara acak amatlah populer juga keren. Sampai-sampai hampir sebagian besar remaja menggunakannya. SePerTi iNI. Keunikan lain muncul lagi, c0nt0HnY4 y4 iN1. Unik, bukan.

Tidak hanya itu, meski ponsel tidak secanggih sekarang, soal bercakap-cakap antar kawan pun punya gayanya sendiri. Segadagang ngagapaga? Sudugadah madakadan bedeludum? Bigasaga bagacaganyaga? Pudusiding? Jika kalian kesusahan membaca dan memahaminya, sudah dipastikan percakapan seperti ini tidak pernah kalian nikmati. Sebab meski dulu sempat populer, berbahasa kemudian kembali seperti biasa. Apalagi manusia suka bosan sendiri. Dan bercakap seperti itu sedikit banyak memang lebih menguras energi.

Tahun terus berganti, ponsel pun berevolusi. Menjadi berlayar lebar dan kemampuannya makin pintar. Beberapa bahkan lebih pintar dari pemakainya. Ponsel berkembang tidak hanya dapat mengirim atau menerima pesan, tapi sudah mampu melakukan video call. Diiringi dengan perkembangan internet dari GPRS menjadi 4G keberagaman bahasa kemudian bergeser. Trend kebahasaan yang dulu kemudian menjadi bahan ejekan. Alay, katanya.

Istilah alay ini pun sudah acap kali terdengar. Entah akan menjadi bahasa Indonesia atau menetap menjadi bahasa slang saja. Meski begitu, dukungan teknologi, membuat gaya berbahasa semakin beragam. Pesan singkat baik melalui fitur sms atau sosial media memiliki zamannya masing-masing.

Penggunaan bahasa memang akan terus berubah seiring dengan perkembanag ilmu dan teknologi. Hanya saja, kemunculan istilah-istilah baru perlu diperhatikan oleh pengguna. Sebab tidak sedikit yang fungsinya hanya untuk mengejek sesama. Jilboobs atau kerdus (kerudung dusta), contohnya. Padahal, meskipun sederhana, kata-kata tetaplah senjata yang bisa amat menyakitkan.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.