Transpuan dengan Nilai Bahasa dan Realitas yang Mengikutinya

Orang terbiasa menilai seseorang dengan sekejap mata. Hanya dengan melihat apa yang dilakukan atau pakaian yang dikenakan. Sekalipun orang itu tidak dikenalnya. Kemudian, dengan sadar mulai membuka mulutnya untuk berkomentar atau menggerakan jemari untuk menuliskan pernyataan yang bisa menyakiti dan bisa lebih dari itu.

Ingatan kembali ke hari lalu, 10 November selalu diperingati di sekolah-sekolah dengan upacara untuk menghormati dan memanjatkan doa-doa bagi para pahlawan. Seperti biasa, petugas upacara selalu mempersiapkan diri lebih awal untuk berlatih. Para guru, karyawan, dan siswa selanjutnya berbaris rapi untuk mengikuti upacara dengan khidmat.

Upacara berjalan lancar. Sampai tibalah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, seorang dirigen laki-laki maju ke depan. Mulai memimpin paduan suara. Tiba-tiba, seorang guru perempuan berusia sekitar awal 50an merespon siswa yang menjadi dirigen.

“Walah, ko lanang (laki-laki) yang jadi dirigen. Kaya banci aja,” katanya.

Kalimat yang diucapkan mungkin terdengar biasa saja. Tapi secara tidak langsung pemilihan bahasa yang dipakai sudah membuat sekat pekerjaan atau apa yang harus dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Bahwa seolah, lelaki tidak boleh menjadi dirigen, dia harus perempuan untuk memimpin menyanyi, padahal orkestra kenamaan Indonesia, seorang laki-laki sekaligus seorang ayah, Erwin Gutawa misalnya.

Menurut Alex Sobur, bahasa memang bersifat simbolis. Ucapan seseorang mampu melambangkan arti apa saja. Di dalamnya mengandung implikasi yang luar biasa untuk pewarisan kebudayaan.

Artinya, sekat-sekat pekerjaan bagi laki-laki dan perempuan sudah tertanam sejak lama, menjadi budaya yang apabila tidak sesuai sedikit saja bisa mendapat penilaian yang kurang bagus. Pemahaman seseorang terhadap budaya tertentu kemudian memicu dirinya untuk mengungkapkan sesuatu.

Kata banci yang digunakan juga terasa mendiskreditkan transpuan. Jika dalam bahasa Indonesia, banci diterjemahkan sebagai laki-laki yang bertingkah laku dan berpakaian seperti wanita. Kata banci sendiri memiliki makna konotatif di masyarakat.

Transpuan barangkali memang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Beberapa remaja dan laki-laki dewasa juga merasa tidak nyaman bahkan diantaranya menjawab merasa jijik jika bertemu dengan mereka. Meski demikian, mereka juga tidak akan menganggu para transpuan apabila suatu ketika benar-benar bertemu.

Sayangnya, pandangan setiap orang berbeda, ada saja yang merasa keberadaan transpuan mengancam ‘keamanan dunia’ meski mereka tidak melakukan apa-apa. Bahkan beberapa orang melakukan perisakan sampai kekerasan, seperti yang baru-baru ini terjadi di Depok saat malam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Padahal para transpuan bahkan tidak pernah masuk berita karena melakukan bom bunuh diri sehingga menewaskan ratusan warga di sekitarnya.

Setidaknya jika seseorang tidak sesuai prinsip yang dianut, bukan berati prinsip yang mereka pegang salah. Meminjam sebuah kalimat -dan sedikit mengubahnya; “mereka memang bukan saudara se-prinsip, namun mereka adalah saudara dalam kemanusiaan.”

Comments

comments