Tubuh dan Meta-Komoditas Jual Beli

Menikmati kehidupan dan -berpura-pura- menjadi kaum borjouis sambil berjalan-jalan di sebuah shooping mall terbesar di kota membuatmu bisa merasakan perbedaan yang sangat signifikan di tempat perbelanjaan lain, warung misalnya. Di warung, kamu akan menemukan senyum dan obrolan basa-basi saban kamu membeli sesuatu. Pasta gigi bisa jadi.

Ooh, sikatan juga kamu. Jelas! Biar nafas segar dan cepet dapat gebetan. Masa harus jomblo terus. Keluhanmu itu akhirnya membuat si penjual menyerahkan pasta gigi yang bisa membuat gigimu putih cemerlang. Harganya bisa jadi lebih murah dan kamu tidak perlu  mengumpat kalau kembalian seratus rupiah harus diganti dengan micin. Coba kalau di tempat lain, kemana sekoin recehanmu itu?

Bisa jadi menumpuk segunung di rekening orang yang bahkan kamu tidak pernah tahu namanya. Sedangkan koin yang diterima belum tentu hanya darimu seorang. Dan micin yang bisa bikin gurih sarapanmu nanti, menambah setidaknya sedikit keuntungan yang memang hanya sekian perak dari setiap barang yang dijual.

Belanja ke warung tidak membuat  seseorang perlu berdandan di depan kaca. Bahkan sisa belek dan iler sehabis bangun tidur tidak akan membuatmu turun harga. Kamu hanya akan menemukan cemooh yang sifatnya guyonan dan kamu bisa terima karena sudah saling mengenal. Coba kalau di mall, bisa dilihatin dari ujung kaki sampai kepala deh. Apa kamu akan nyaman? Saya pasti tidak.

Setiap membeli, penjual di warung-warung juga tidak pernah peduli dengan penampilan. Jika ia perempuan, rambutnya hanya diikat seadanya. Memakai daster tanpa make up. Kadang juga menggendong bayi dengan jarik tradisional. Berjualan dengan ramah, bermodalkan kalkulator dan kardus bungkus rokok sebagai nota belanja. Hebatnya, penjual warung menerima bon kalau kamu sedang kehabisan uang. Belum lagi, jika sudah menjadi langganan, ketika hari raya, ada saja hadiah yang sengaja diberikan. Handuk misalnya.

Kini, orang-orang –juga saya— kadang lebih memilih membeli sesuatu ke minimarket yang sudah menjamur di mana-mana. Saban hari, layaknya robot organik, setiap mendorong pintu kaca selalu ada sapaan selamat datang dan selamat belanja. Bukan ketulusan saya rasa, tuntutan kerja. Wajib ‘Ain!

Kita selanjutnya akan menikmati tatanan barang-barang yang disusun secara rapi dan jarang sekali mendapati istilah barang kosong karena sudah men-supply  cukup banyak barang di gudang. Kita dimudahkan memilih barang-barang kebutuhan. Pada moment tertentu jika beruntung juga ada diskon yang bisa dinikmati.

Belanja di tempat seperti minimarket ataupun supermall, tak pernah sekalipun saya melihat tampilan karyawan yang melayani berwajah pucat pasi. Bibir merah merekah. Pipi merona. Alis simetris. Bulu mata lentik tebal. Juga pakaian perlente yang bisa sudah disediakan sebagai seragam dengan berbagai jenis model. Jika ia laki-laki, meski tanpa hiasan setidaknya rambutnya dibiarkan rapi menggunakan gel yang barangkali dibeli di warung tetangga, bukan di tempat ia kerja.

Kenyataannya tempat belanja berlogo dan bertingkat tidak hanya memenuhi kebutuhan materi. Jika mengambil penyataan Jean Francois Lyotard, ada potensi kesenangan dan gairah yang dimanfaatkan sebebas-bebasnya terhadap keindahan penampilan, kepribadian wajah dan tubuh, serta membangkitkan gairah perputaran modal. Dengan tuntunan seperti ini, pelayanan yang diberikan harus menggunakan tubuh setiap karyawan sebagai suatu sistem yang digunakan untuk meraup keuntungan. Sebagai konsumen, alih-alih mau berpakaian biasa saja, tetap harus setidaknya berkaca.

Jadi, sudahkah belanja di warung tetanggamu hari ini?

Comments

comments