Unik! Begini Cara Arsitek Beri Pendidikan Corona Pada Anak

Di tengah Pandemi Corona yang sedang melanda, Naren dan Lody sedang mengerjakan sebuah project instalasi bernama “Omah Sarah”, SARAH dalam bahasa jawa pesisir berarti sampah yang terbawa arus sungai sampai ke laut.

Omah Sarah

Mewaspadai coronavirus dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, termasuk dengan edukasi dasar kepada anak-anak supaya paham tentang cara pencegahannya. Esensiana.com melihat keunikan yang dilakukan oleh seorang arsitek asli Kebumen, sebut saja Imam Muthoha. Bapak anak dua ini sebelumnya sempat menjadi rekanan pemerintah kota dalam pembangunan infrastruktur. Dengan cara khasnya sebagai arsitek sekaligus orang tua, ia memaparkan ceritanya mensosialisasikan cara pencegahan corona kepada anaknya.

Di tengah Pandemi Corona yang sedang melanda, Naren dan Lody sedang mengerjakan sebuah project instalasi bernama “Omah Sarah”, SARAH dalam bahasa jawa pesisir berarti sampah yang terbawa arus sungai sampai ke laut.

Selain untuk mengkampanyekan untuk menyayangi lingkungan, proyek Instalasi berbahan sampah laut ini diinisiasi untuk memberikan gambaran sebuah batasan ruang interaksi Sosial satu keluarga, hubunganya dengan jaga jarak atau physical distance.

Selain itu, berjemur juga sebagai cara menjaga kondisi tubuh agar tidak rentan terkena virus. Diyakini cahaya matahari pagi pada jam 09.00- 10.00  mengandung pro Vitamin D , yang juga bisa membunuh kuman dan virus yang bersarang dalam tubuh.

Senada dengan jurnal ilmiah yang pernah dilansir dari biomedik dasar kemenkes tahun 2017. Dikatakan dalam kajian tersebut, dengan berjemur badan di bawah sinar matahari pagi dapat memperkuat sistem imun tubuh. Menghindarkan dari berbagai macam ancaman kesehatan, termasuk virus.

Udara pantai yang mengandung air laut secara tak langsung terhidup masuk ke paru paru bisa menjadi obat yang bermanfaat dan memperlancar pernafasan.

Jarak sosial atau physical distance di batasi dengan pagar dari buah kelapa kering dan rerantingan pohon yang di tata pada tepiannya, berlantaikan pasir sebagai media bermain dan beratapkan teriknya langit biru yang terbentang luas.

Proyek instalasi ini sudah berlangsung dua minggu (dikerjakan tiap minggu pagi) dengan progres baru mencapai 20%, karna ada pemindahan  pada minggu ke 2, karena dirasa awalnya terlalu dekat dengan gelombang air laut.

Setelah dilaksanakan rapat terbatas maka di tetapkanlah satu lokasi dengan tempat yang lebih tinggi dibanding awalnya, dan ditarik mundur 100 meter dari garis gelombang tertinggi. Ini mengimplementasikan Perpres 51 tahun 2016 tentang sempadan pantai, ini semua atas pertimbangan keamanan dan keselamatan bangunan.  

Ada-ada saja ulah bapak-bapak arsitek itu ya? Hehe

Kalau kamu sendiri, bagaimana cara ngasih pengertian ke keluarga dan lingkungan sekitar soal corona gaes?

Salam

#esensiana

Comments

comments