Venom (2018); Antihero yang Hanya Numpang Lewat

“Everyone’s got their thing! Maybe it’s a break-up. A death. An accident. Whatever it is, you used to be one thing. Now, you’re something else. We all have our own problems. Our own issues. Our own… demons!” – Eddie Brock

Setelah sempat backlash,–terkait ulasan negatif palsu yang disebarkan oleh fans militan Lady Gaga melalui jejaring sosial Twitter karena tak mau film terbaru sang idola, A Star is Born (2018) terbagi perhatiannya–, dan munculnya pengakuan Tom Hardy mengenai adegan favoritnya yang berjumlah kurang lebih 40 menit di dalam Venom (2018) ternyata dipotong (via: telegraph.co.uk), akhirnya film dengan durasi 112 menit ini dirilis.

Di Indonesia mulai tayang dari tanggal  03 kemaren, bersamaan dengan diumumkannya embargo review dari film tersebut, yang bisa dibilang tidak terlalu ramah. Fans dibuat semakin “megap-megap” akan kualitas dari origin of Venom ini.

Perkenalkan Eddie Brock (Tom Hardy), seorang idealis bermulut pedas yang dalam kesehariannya bekerja sebagai reporter berita sebuah media massa di San Francisco, California, Amerika Serikat. Eddie mempunyai karir yang bagus, kehidupan asmara yang mendukung, dan kepedulian akan sesama serta keinginan untuk memantapkan karir juga dimilikinya. Namun ada yang menghambat dirinya untuk lebih maksimal dalam semua itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, Eddie adalah seorang yang penakut. Namun ketika suatu kejadian yang menuntunnya pada parasit bernama Venom,–dan mereka bersimbiosis–, akhirnya Eddie mulai mengeksplor hal-hal yang dulu ditakutinya.

Setelah melihat keseluruhan film, bisa dimengerti kenapa Venom dibantai habis-habisan oleh kritik. Skor Rotten Tomattoes-nya sementara ini 27% dan mendapatkan nilai 33 di situs Metacritic. Penonton –arus utama khususnya–, sudah banyak menyaksikan film dengan tema superhero/antihero atau semacamnya. And stakes are pretty high, bahkan untuk tahun 2018 sendiri. Ada standar yang tinggi untuk “genre” ini, dan Venom datang tanpa menawarkan apa-apa, jadi tak usahlah membicarakan adanya kenaikan standar.

Sekuen pembukanya menarik, pesawat luang angkasa yang mencoba menembus atmosfir akan tetapi naas terbakar dan akhirnya jatuh di kawasan Malaysia Timur. Di dalamnya terdapat beberapa material asing, dan salah satunya “hinggap” di badan seorang pribumi tanah itu, kemudian title credit muncul. Boom! Simpel.

Yang melemahkan datang setelah itu, set-up penjelasan yang panjang. Seolah Venom enggan untuk menyegerakan sesuatu yang harusnya disegerakan. Bohong jika bagian ini tidak membosankan. Saat durasi mencapai pertengahan, dan beberapa hal mulai diungkap, barulah keadaan mulai membaik.

Grafik plot berangsur-angsur naik. Pertemuan Eddie Brock dan “parasit”nya akhirnya terjadi juga. Hal-hal ganjil yang dialami Brock karena hubungannya dengan Venom dikemas dalam bentuk komedi di sebagian besar durasi. Penonton merespon dengan baik, karena memang menghibur. Walaupun tak semua terbayarkan dengan tuntas.

Naskah yang ditulis oleh empat orang (Scott Rosenberg, Jeff Pinkner, Kelly Marcel, dan Will Beall) nyatanya tak cukup kuat untuk menopang penyampaian ceritanya. Bergulir, namun tanpa kedalaman berarti. Sehingga apa yang divisualkan terasa biasa saja.

Film yang jadi debut penyutradaraan Ruben Fleischer (Zombieland, Gangster Squad, 30 Minutes or Less) dalam dunia film superhero ini memberikan sajian aksi yang lebih terasa seperti rentetan “pembayar hutang” karena durasi awalnya lumayan membosankan. Don’t get me wrong, tapi masih ingatkah dengan John Wick (2014)? Kalau seandainya dipersenkan, John Wick hanya punya 3% cerita, sisanya aksi baku hantam dan GunFu yang sangat memukau.

Venom ada diposisi yang sama, tapi minus bagian memukau. Tidak, filmnya tidak sejelek itu. Tetap ada bagian-bagian yang bisa dinikmati. Penampilan Tom Hardy (Mad Max: Fury Road, Inception, The Dark Knight Rises) yang jadi sorotan utama di sini secara keseluruhan sangat menghibur. Beberapa adegan akan lama lekat dipikiran. Tak hanya sebatas itu, penampilannya sebagai Venom juga berkontribusi meluaskan jangkauan aktingnya.

Tom yang mengaku menyukai konsep dualitas,–salah satu alasannya menerima peran ini, selain permintaan sang buah hati–, menghidupkan konsep itu dengan efektif. Pada dasarnya sendiri, Eddie Brock dan Venom adalah dua sosok yang kontradiktif. Oleh karena itulah, keberhasilan Tom dalam memainkan perannya menuntun pada hasil yang apik. Cukup memorable, I’d say.

Selain itu, dari bagian teknis, pilihan lagu yang digunakan dalam soundtrack juga ketjeh! “Knock knock let the devil in!”

Akhir kata, kehadiran Venom belum mampu mengobati luka lama fans pasca penampilan singkatnya di seri ke-3 film Spider-Man (2002-2007), kendatipun hadir sebagai stand-alone movie. Yang notabene, punya ruang lebih untuk menggali lebih dalam karakter unik ini. Entah apa jadinya rencana 3 film yang sempat digemborkan para pemeran dan produsernya. Namun yang jelas mid-credit scene itu punya arti tersendiri. Apakah salah satu anggota ras The Symbiote ini akan mempunya cerita lanjutan? Entahlah.

 

Score: 3/5

Comments

comments