Wiro Sableng 212 (2018); Blockbuster Lokal yang Megah nan Meriah

“Di dunia ini selalu ada dua unsur, Wiro. Mereka berpasangan. Namun akarnya adalah satu.”

Hampir tak ada yang bisa saya ingat mengenai Wiro Sableng, saya bukan pembaca bukunya dan untuk serial TV sendiri dulu pernah nonton, I used to be a fan, tapi tak ada ingatan yang spesifik mengenai tokoh ini. Kecuali lagu temanya yang ikonik itu dan lelucon Abdur Arsyad (SUCI 4), “Sekali jurus keluar tepung, sekali jurus keluar tepung. Kalau sudah 10 jurus nanti, jadi gorengan satu ember…”.

Tak ada juga “Recapture Moment“, benar-benar menonton plong; tanpa ekspektasi apa-apa. Just wanna have fun, and that’s it. Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 berhasil menciptakan atmosfir “fun” dan juga mampu mempersembahkan lebih dari itu.

Diangkat dari serial novel Wiro Sableng karangan Bastian Tito, kisah bertempat di nusantara abad ke-16, Wiro Sableng (Vino G. Bastian) murid dari Sinto Gendeng (Ruth Marini), mendapat tugas dari gurunya tersebut untuk menangkap mantan muridnya yang berkhianat, Mad Dog Mahesa Birawa (Yayan Ruhiyan) untuk dibawa kembali ke Gunung Gede. Dalam perjalanannya Wiro dibantu oleh Anggini (Sherina Munaf) dan Santiko alias Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarizi), yang pada akhirnya mereka tak hanya mengungkap rencana busuk Mahesa Birawa terhadap kerajaan, namun juga arti sejati menjadi seorang pendekar.

Pada saat film dimulai, detik pertama pun, kesan megah sudah terasa. Ada perasaan haru saat itu, “Akhirnya Tanah Air punya Blockbuster sendiri”, bisik saya dalam hati. Dan perasaan itu terus bergulir seiring dengan berjalannya durasi babak pertama film.

Penampakan bulan merah ditambah siluet rombongan Mahesa Birawa (Yayan Ruhiyan) berhasil mengangkap kesan “massive”. Sekali lagi, megah. Ada perbedaan tone dari film tanah air yang lain, dan itu penting. Studio 20th Century Fox yang bekerja dengan Lifelike Pictures tidak cuma sekedar numpang nama. Hasilnya terlihat.

Dilanjutkan dengan adegan para penjahat mulai membajak isi kampung, yang delivery-nya amat bagus. Kesan mencekam dapat diserap. Dan diakhiri dengan momen drama,–yang untuk ukuran film semacam ini–, tak terduga. Kesan “panas hati” tercipta dan penonton dapat langsung membaca apa yang akan jadi motivasi dari karakter utama nanti.

Wiro Sableng 212 bergerak dinamis, naik turunnya cerita seimbang. Tahu kapan harus melucu, menampilkan laga, dan tahu kapan harus mengeksplor elemen dramanya. Bagian dramanya patut diapresiasi karena sebagian besar pengembangan karakternya datang dari momen itu.

Namun naskah garapan trio dan debut penulisan untuk Seno Gumira Ajidarma, Tumpal Tampubolon (Solerang, Belkibolang) & Sheila Timothy (Pintu Terlarang, Modus Anomali), mempunyai beberapa lubang yang cukup kentara. Seperti ikutnya karakter Anggini dalam perjalanan Wiro misalnya, penulisan naskahnya terasa “malas” pada bagian itu.

Adegannya yang tersusun dari kumpulan dialog, terasa tidak cukup kuat untuk menopang kenapa karakternya harus terlibat. Walaupun nanti pada bagian akhir mampu dituntaskan dengan baik. Belum lagi menghitung perpindahan karakternya dari satu tempat ke tempat lain, kesan aneh tak dapat dihindari. Seolah karakternya punya kemampuan teleportasi.

Masalah lain datang dari departemen suaranya. Scoring susunan Aria Prayogi (The Raid Series, Killers, Sebelum Iblis Menjemput) bagus, dan pilihan musiknya juga jempolan. Bahkan ada satu bagian “tribute” untuk serial TV-nya. Yang tidak asing dengan serialnya pasti akan cepat mengenali alunan musik itu. Lantas apa yang jadi masalah? Penggunaannya kasar. Berisik. Bahkan ada yang menutupi dialog yang coba disampaikan karakternya.

CGI-nya pada “satu” adegan juga terasa kurang halus, walaupun memang untuk ukuran lokal sisi visual harap dimaklumi, tapi pada adegan “itu” yang seharusnya menegangkan malah jadi awkward. Tak ada rasa takut untuk “jatuh”. Penonton, khusunya saya yang takut ketinggian, tidak merasakan hal itu.

Akan tetapi terlepas dari itu, Wiro Wableng 212 adalah sajian yang mengasyikkan. Arahan Angga Dwimas Sasongko (Filosofi Kopi, Surat Dari Praha, Bukaan 8) berhasil mempresentasikan semua elemen dengan apik. Adegan laga yang dikemas oleh Yayan Ruhiyan (The Raid, The Raid 2: Berandal, Yakuza Apocalypse) dan Man-Ching Chan (salah satu anggota Tim Stuntman Jackie Chan), tak hanya seru tapi juga kocak.

Juga hampir di sepanjang durasi kita dihibur dengan humor-humor “Sableng”. Guyonan tentang “blusukan” contohnya, terasa relevan. Kemistri antara Vino G. Bastian (Serigala Terakhir, Realita Cinta dan Rock n’ Roll, Chrisye) dan Ruth Marini (Sebelum Iblis Menjemput) sebagai Sinto Gendeng tidak terkesan seperti “Haha-hihi” belaka, namun untuk juga menunjukkan sikap karakternya terhadap dunia sekitar mereka.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, pengembangan karakter dalam film ini efektif. Terasa menyenangkan bisa menyimak motivasi karakternya melakukan sesuatu, both good & evil parties. Ada kalanya motivasi itu bertabrakan, dan dikembangkan kearah yang baru. Perubahan motivasi. Yang awalnya personal, nantinya masuk ke ranah yang lebih luas lagi. Penonton akan mengenali tokoh yang mereka saksikan, dan ikut bersimpati.

Simpati yang didapatkan dengan proses, bukan karena diberikan cuma-cuma apalagi karena “memang harus begitu, biar ceritanya jalan”. Belum lagi mendengar kalimat yang dilontarkan salah satu karakternya, bahwa sesungguhnya kita ini tak lebih dari manusia biasa ada kekuatan yang lebih besar dari kita. Klise memang, namun jika pengakuan tersebut disampaikan dengan tulus, ada benarnya juga. Singkat kata, Wiro Sableng 212 adalah pondasi yang solid untuk memulai sebuah trilogy, ditambah dengan mid-credit scene sebagai pendukung, maka pintu untuk membentuk Wiro Sableng Universe pun terbuka lebar.

 

Sumber gambar: kinescopemagz.com

Comments

comments